VIDEO - Teriakan Duli Gere Hantar Warga Ramai-ramai Guti Nale di Pantai Mingar, Lembata

VIDEO - Teriakan Duli Gere Hantar Warga Ramai-ramai Guti Nale di Pantai Mingar, Lembata. Saat ini Guti Nale merupakan Festival Budaya di Lembata.

Penulis: Ricardus Wawo | Editor: Frans Krowin

Keduanya datang membawa ikan yang bisa dimakan. Bapak Geroda dan Belake pun meminta keduanya duduk di atas sebuah pohon pandan dan kemudian pergi mengambil belutu di laut.

Beberapa saat kemudian seorang dari Suku Kabelen bernama Belawa yang membawa busur dan anak panah datang bersama seekor anjing mau mengambil belaku.

Dari kejauhan anjing tersebut menyalak karena melihat serono dan serani ada di atas pohon pandan. Belawa pun menanyakan asal keduanya.

Geroda, Belake dan Belawa pun membawa Nale yang dibawa oleh Serona dan Serani ke kampung lama, dan sejak saat itulah Orang Mingar mulai rutin menggelar ritual penangkapan Nale atau Guti Nale.

Petrus mengatakan dulu warga yang hendak menangkap Nale harus memakai pakaian adat, membawa daun koli kering atau kum dan senele. Seiring perkembangan zaman, syarat pertama yakni mengenakan pakaian adat sudah tidak lagi berlaku.

Legenda orang Mingar menyebutkan kepala Serona dan Serani dikuburkan di suatu tempat di Mingar dan Belawa dikuburkan di pantai sebagai pelindung para pemburu Nale. Istri dari Serona dan Serani yang bernama Serupu dan Serape menjelma menjadi batu yang sekarang disimpan di rumah adat atau korke.

Ritual Guti Nale diselenggarakan hanya pada purnama hari keenam dan ketujuh bulan Februari dan purnama hari ketujuh dan kedelapan bulan Maret.

Bagi orang Mingar, Nale merupakan pemberian alam yang datang pada musim kemarau panjang dan hujan tak tentu sehingga orang menderita kelaparan karena gagal panen. Nale yang diasapkan juga berkhasiat menyuburkan padi dan jagung milik warga.

Tuan Tanah Kampung Mingar, Paulus Pati Kabelen 75 tahun, menjelaskan, ada tiga ritual inti yang dilangsungkan di tiga tempat sebelum Guti Nale.

Ritual pertama dilakukan di Duang Waitobi atau Koker Nale. Tempat yang dikenal warga setempat sebagai rumah tempat tinggal Serupu dan Serepe, Istri dari Serona Serani, dua sosok mistik yang dipercaya berasal dari Duli.

Ritual adat memberi makan atau sesajian kepada Srupu dan Serepe itu dipimpin Andreas Puri Papang dari suku Ketupapa. Sesajian yang diberikan berupa Nasi dari beras hitam dan isi hati perut ayam ditambah tuak putih.

Ritual kemudian dilanjutkan di Duli Ulu. Duli Ulu adalah tempat disemayamkan tengkorak Srona dan Serani, dua sosok pria yang mengaku berasal dari Duli dan membawa serta Nale ke wilayah itu.

Ritual berlangsung serupa, ditandai pemberian makan atau sesajian kepada leluhur disertai permintaan dalam bentuk syair menurut Bahasa setempat.

VIDEO: Perempuan Pencari Kayu Bakar di Belu, Temukan Bom Aktif, Diduga Sisa Perang Dunia Ke-2

VIDEO: Inilah Potret Toleransi Umat Beragama Saat Pesparani di Kabupaten Nagekeo

VIDEO: Kabupaten Nagekeo Dapat 4.000 Keping Blangko E-KTP. Tiap Jumat Disdukcapil Turun Ke Desa-desa

“Pito Lau buto Ia, Buto Lau Siwa Ia, lili sala lere, kama guti ika Nale, bawata ika ju aka, je nau, lau aka, ju geji, kusak ke kokere, kama guti para ribu ratu, kide knukak, tuak blurek ka Lewo Tite ia malu mara,”  demikian syairnya.

Ritual selanjutnya dilanjutkan di kubur orang tua Belawa yang terletak di pantai Watan Raja, Desa pasir Putih. Ritus ini dipimpin oleh Paulus Pati Kabelen dari Atakabelen.

Halaman
123
Sumber: Pos Kupang
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved