Cerpen
Cerpen Sonny Kelen: Happy Valentine Day Lenia
Cerpen Sonny Kelen: Happy Valentine Day Lenia.Senja pelan-pelan pergi. Warna-warni bianglala menyusut hilang.
"Maafkan ibu, nak karena tidak memberitahukanmu tentang laki-laki itu dari awal ketika engkau bertanya tentang dia."
Tambahnya. Lenia hanya melihat foto itu dan di pipinya mengalir sungai kecil yang bermuara di bibirnya.
"Ayah." Hanya itu yang bisa di ucapkan oleh Lenia. Lenia pun mempererat pelukan ibunya dan merayakan kesedihan itu. Ibunya mengecup kening Lenia berulang-ulang kali. Ia terus menangis dan mengingat kembali pertemuan singkat tiga bulan lalu dengan suaminya.
Pertemuan yang amat singkat sebelum ia sadar bahwa kelak anaknya menjadi anak yatim.
***
Senja barusaja pulang. Di ruang tamu, Lenia sibuk mempersiapkan sesuatu untuk merayakan Valentine Day bersama ibunya. Matanya berubah seperti petir yang getir.
Sesuatu sekali. Hanya ada air mata. Sesekali ia menatap foto laki-laki yang kini ia tahu bahwa laki-laki itu adalah ayahnya. Ibunya hanya melihat dibalik kain pintu kamarnya. Dan seperti biasa tak ada yang mempedulikan keadaan.
Waktu tetap saja seperti sungai yang mengalir pergi tanpa bisa dihalau lajunya. Maka seluruh harapan yang pernah menjadi doa di mata dan bibir dibawa pergi oleh detik-detik, yang menggunung jadi hari, minggu, bulan, dan tahun yang menggunung lagi dan lagi.
Jauh semuanya itu Lenia ingin sekali kalau malam ini laki-laki yang ia panggil ayah itu hadir bersama dengan ia merayakan Valentine Day bersama. Ia membutuhkan kasih sayang seorang ayah.
"Sebelum membuka kadonya, tutup dulu matamu dan ucap permohonanmu," ujar ibunya sambil memegang kado valentine. Setelah menutup mata dan mengkomat-kamit bibirnya, Lenia membuka matanya keras-keras lalu membuka kado itu.
Ibunya memberikan kecupan paling hangat diwajahnya beberapa kali.
"Apakah mama boleh tahu apa yang engkau minta pada Tuhan sebelum membuka kado tadi?" tanya ibunya.
"Aku minta agar Tuhan mempertemukan aku dengan ayah dan meminta, agar ayah lebih banyak bersamaku di rumah." Jawab Lenia lugu.
• Wakapolres Belu, Kompol Herman Bessie: Bom Dihancurkan di Belu
Ia ingat kejadian beberapa bulan lalu ketika untuk yang terakhirnya ia bertemu dengan suaminya. Ia hanya bertanya-tanya dalam hati, andai waktu bisa diputar kembali, apakah ia akan memperbaiki semuanya dari awal?
Jauh di dalam hatinya, ia berusaha menahan air matanya dan sesekali berdoa dalam hati, andai Tuhan mengabulkan doa Lenia. Dengan peristiwa itu ia semakin terpukul. Ia hanya memikirkan masa depan anaknya yang hidup tanpa kasih sayang dari seorang ayah.
Namun, ia sadar sebelum senja kembali pada pelukan malam, akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan olehnya dan putrinya Lenia, karena harus kehilangan sosok suami dan ayah yang sangat dirindukan oleh ia dan Lenia.
***
Pagi belum juga kelar. Di depan kantor polisi para wartwan yang haus berita berdiri dengan kamera yang siap untuk meliput berita. Dari dalam di bawah seorang laki-laki berambut panjang dan kumis tebal layaknya seorang penjahat. Para masa dengan poster besar bertuliskan dasar penipu dan yang lain bertuliskan dasar korupsi terbentang lebar.
Laki-laki itu hanya menangis ketika menyaksikan hal itu. Ia sadar bahwa perjuangannya untuk membela kebenaran harus diakhiri dengan kematian yang tidak terhormat karena dituduh penjahat oleh rakyatnya sendiri.
Tidak hanya itu ia harus meninggalkan anak dan istrinya yang sangat ia rindukan. Sesekali dalam hatinya ia menyalahkan Tuhan karena tidak menjwab doa-doanya. Sementara kenyataan memaki dirinya sendiri. Doa-doanya seakan hangus terbakar oleh air matanya. Sebelum ia maju ke tempat gantung teriak seseorang dari kumpulan masa itu
• Testing CPNS di Manggarai Barat, Hasil SKD Untuk Penentuan Peserta SKB Menunggu Panselnas
"Jangan lupa teriakkan rindumu yang kau pendam selama ini,"
lalu disusul dengan tawaan sinis dari rakyat. Ia hanya tertunduk dan memegang tali itu lalu memasukkan kepalanya. Sebelum tumpuan ditendang oleh salah satu anggota polisi, dalam hatinya ia menyebut nama anaknya Lenia dan mengucapkan satu kalimat yang seharusnya ia ucapkan itu untuk anaknya kemarin. Happy Valentine Day Lenia. Semoga malam damaimu dibarkati hujan. Setelah itu semuanya berakhir.
***
Lenia sedang duduk di ruang tamu sambil menikmati secangkir teh dan menyaksikan salah satu acara di chanel TV kesukaanya. Lenia tiba-tiba terhentak kaget. Sesekali ia melihat foto yang terpajang di ruang tamu itu dan melihat laki-laki yang ada di TV.
"Mukanya mirip sekali" Lenia bergeming.
"Ibu. Ibu. Ibu." Panggil Lenia.
"Kenapa sayang?" Tanya ibunya.
"Coba ibu lihat di TV. Muka orang itu sama dengan muka laki-laki itu di foto." Tangan Lenia menunjuk ke arah TV.
Seperti belati yang tertikam dan tanpa membuang-buang waktu, dipeluknya Lenia lalu menangis. Itu suaminya, ayah Lenia. Ia berusaha mengeja kata perkata untuk menjelaskan semuanya pada Lenia. Tapi ada sesuatu yang menahan lidahnya. Tapi ia berusaha untuk berdamai dengan dirinya. Akhirnya usahanya membawakan hasil.
"Itu ayahmu, Nak."
Jelasnya. Lenia hanya diam. Sesekali dalam hatinya ia mengucapka doa, Tuhan, aku ingin bertemu ayahku. Sementara ibunya mempererat pelukan dan memberanikan diri untuk menatap wajah Lenia. Ia tak sanggup melihat Lenia menangis. Kini Lenia sudah tahu semuanya.
• LIVE Streaming Persija vs Madura United, Semifinal Piala Gubernur Jatim, Jam 7 Malam Ini di MNCTV
Ia tahu bahwa sosok ayah akan selalu hidup dalam diri ibunya. Bukan hanya itu, mungkin ia akan merasakan kasih sayang seorang ayah dalam diri yang lain yang kelak ia panggil ayah pada pribadi yang lain pulan. Happy Valentine Day Lenia, itulah kalimat yang ingat ketika ayahnya mengucapkan untuknya sebelum ayahnya pergi. (*)
(Penulis tinggal di Unit Gabriel Ledalero-Maumere)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/happy-valentine-day-lenia.jpg)