Cerpen

Cerpen Sonny Kelen: Happy Valentine Day Lenia

Cerpen Sonny Kelen: Happy Valentine Day Lenia.Senja pelan-pelan pergi. Warna-warni bianglala menyusut hilang.

Tribunnews.com
Happy Valentine Day Lenia 

Mungkin ia terlalu belia untuk mengetahui kebenaran tentang laki-laki itu. Pikirnya. Jarum jam masih menggigil. Lenia bangkit berdiri. Duduk. Berdiri. Duduk, lalu berdiri lagi. Lenia, masih saja menangis. Entah mengapa muncul kerinduan yang mendalam dari dalam hatinya kepada laki-laki itu. Rindu sekali.
"Bu, siapa gerangan laki-laki itu?"

Akhirnya ia berani bertanya kepada ibunya untuk yang kesekian kalinya. Jawaban dari ibunya seperti yang sudah-sudah. Senyum lalu membelai rambutnya dengan lugu.

Sesekali ibunya merangkul dia lalu mendaratkan senyum paling tulus di keningnya. Seperti dermaga yang memandang jauh hamparan samudera, ada banyak kapal melintas ke segala penjuru tapi tak ada satu pun yang singgah selain ombak berbuih yang cari muka di kakinya.

Atau embun yang yang setelah diteteskan langit, dibiarkan merana di atas dedaunan yang bisu. Begitu pula dengan Lenia.

Realisasi Penerimaan Pajak KPP Pratama Kupang Capai Rp 1,24 T

Ia selalu memandang foto laki-laki itu lalu mengusapnya penuh rindu. Entah mengapa setiap kali melihat foto itu, selalu saja ada kerinduan untuk memeluk laki-laki itu dan ingin bertanya kepadanya, mengapa engkau membiarkan aku mati bersama rindu yang begitu khusuk.

Dan engkau kan tahu bahwa kesendirian adalah diriku yang utuh. Batin Lenia.

Di antara kegaduhan dan pergumulan yang begitu hebat, muncul di benaknya bayangan seorang laki-laki persisis yang terpajang di foto itu. Ayah.
***

Sedang di tempat lain dibalik jeruji besi di temani sepi yang tua, ia menghitung waktu, detik demi detik. Satu bulan lagi. Ia membatin. Di hujani rasa rindu yang amat dalam, sesekali melintas di benaknya seorang putri yang terakhir kali ia lihat bersama dengan istrinya di rumah sakit.

Sudah besarkah putriku itu? Ia membatin. Seluruh tubuhnya seakan kehilangan daya sementara pikirannya berantakan.

Kota Kupang Jadi Tuan Rumah, Pesparani Bangun Semangat Umat Katolik Bernyanyi

Ia teringat kejadian beberapa tahun lalu. Ia disergap seperti penjahat oleh saudaranya sendiri karena dituduh korupsi dana desa. Semuanya itu seakan tidak dipercayai karena harus meninggalkan istri dan anaknya yang baru lahir itu.

Namun semuanya telah terjadi. Ia hanya menghitung hari, jam, menit dan detik demi detik karena akan dihukum gantung dan disaksikan oleh rakyatnya sendiri.

Lalu tiba-tiba pintu sel dibuka. Seketika seluruh dirinya terasa kosong seakan semua harapan, kebahagiaan dan doa-doanya hilang dalam kabut. Yang ada dalam genggamannya hanyalah kegelisahan.

"Kau diberi kesempatan menemui istrimu di luar," tegas seorang polisi yang menggengam senapan di tangannya.

Segera ia berjalan keluar sel dikawal oleh dua orang polisi. Seakan diburu detik-detik, ia mempercepat langkahnya.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved