Selasa, 14 April 2026

Cerpen

Cerpen Sonny Kelen: Happy Valentine Day Lenia

Cerpen Sonny Kelen: Happy Valentine Day Lenia.Senja pelan-pelan pergi. Warna-warni bianglala menyusut hilang.

Tribunnews.com
Happy Valentine Day Lenia 

"Maafkan aku. Aku tidak bisa menjadi suami dan ayah yang baik untukmu dan Lenia. Maafkan aku." Itulah kata-kata yang berhasil ia ucapkan sementara isak dan tangis menghalau lidahnya untuk berbicara banyak.

Ia mengecup wajah istrinya berulang kali sementara istrinya terpakau dalam tangisnya yang sendu.
"Aku sungguh menyesal. Sidang telah dilakukan, namun aku tetap dituduh sebagai yang salah. Tidak ada yang membelaku waktu sidang itu. Bahkan, teman baikku sendiri setuju jika aku harus dihukum mati." Isak tangisnya pun menjadi-jadi. Begitu pula dengan istrinya.

"Di mana Lenia? Dia baik-baik saja kan?" Istrinya hanya mengangguk.
"Tolong jaga dia baik-baik. Jaga anak kita. Wujudkan mimpi-mimpinya." Air matanya semakin banyak mengalir dan gundah di hatinya seakan ikut hanyut. Memeluk istrinya menjadikannya semakin tegar menghadapi maut yang akan segera datang menjemputnya.

Maka pengawal menjeputnya, menggandeng tangannya dan membawanya masuk ke dalam.

Sementara itu istrinya hanya bisa menangis seraya membiarkan tubuhnya jatuh terjerembab di tanah. Air matanya terus mengalir membahasakan kepedihan yang teramat dalam, sampai suaminya hilang di ujung lorong. Harapan, dan doa seakan hangus terbakar oleh air matanya.

Pertemuan itu menjadi yang terakhir istrinya mengenal ia sebagai suami dan ayah untuk Lenia, anaknya.
***

Letkol Inf. Rudy Markiano Simangunsong: Petani Manggarai Harus Maju

Kopi dalam cangkir yang pakir di atas meja rias sudah dingin. Ada beberapa bangkai lalat terapung di atasnya. Sedangkan Lenia, masih sibuk bermain dengan boneka anjing kesayangannya.

"Nak, sudah waktunya untuk ke sekolah?" bujuk sang ibu dengan nada lembut.
"Mata ibu bengkak. Ibu menangis?" Lenia bertanya sambil mengarahkan telunjuknya ke arah mata ibunya yang bengkak itu.

"Tidak, nak. Mata ibu sakit," jawabnya dengan nada suara datar sambil cepat-cepat meraih boneka anjing milik Lenia. Ia berusaha menyembunyikan kesedihan yang ia rasakan itu.

Air matanya sebenar sudah mulai menggenang di pelupuk matanya, namun sebisa mungkin ia tahan. Ia memaksakan sebuah senyum kecil paling tulus kepada anaknya.

Isak tangis yang sedari tadi ia tahan terasa berat di dadanya. Tubuhnya begitu gemetar dan dingin, tetapi ia berusaha keluar dari situasi itu.

"Nak, apa yang akan engkau berikan kepada orang yang engkau sayang saat valentine day nanti?" Tanya ibunya. Lenia hanya diam. Sesekali ia melihat foto laki-laki itu.
"Lenia mau memberikan sesuatu kepada laki-laki itu." Jarinya menunjuk kearah foto laki-laki yang terpajang di bingkai itu.

Sejenak ibunya diam. Seperti yang sudah-sudah, tapi bukan senyum yang ia berikan sebagai jawaban ketika Lenia bertanya tentang laki-laki itu, tapi air mata.

Dipeluknya Lenia dan iapun menangis. Isak tangisnya pun menjadi-jadi. Lenia hanya diam dan heran mengapa ibunya berubah seperti itu.

"Foto laki-laki itu ayahmu, nak?" Akhirnya ia jujur memberikan jawaban yang sesungguhnya kepada Lenia. Ia sadar bahwa Lenia semakin dewasa dan sudah saatnya mengetahui semuanya.

Kelompok Pemuda Ika Wanted Rayakan Dies Natalis di Desa Wisata Lewolein

Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved