Head Line News Hari Ini

Pemda Rote Ndao Kecewa Terhadap Wings Air, Ini Penyebabnya

Wabup Stef Saek mengaku tidak mengetahui alasan pasti mengapa Wings Air berhenti beroperasi melayani Rote Ndao.

Penulis: Thomas Mbenu Nulangi | Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/LAUS MARKUS GOTI
Pesawat Wings Air di Bandara El Tari Kupang 

Biaya Operasional Tinggi

Presiden Direktur Lion Air Group, Edward Sirait mengungkapkan alasan penghentian pengoperasian Wings Air pada tujuh rute penerbangan, termasuk rute Kupang-Rote Ndao

Edward menyebut rute Kupang-Rote sudah dibuka sejak lima tahun yang lalu.
"Kalau ditanya, ya sedih kami," ucapnya.

Ramalan Zodiak Besok Jumat 4 Oktober 2019, Scorpio Hati-hati, Cancer Mengesankan, Zodiak Lain?

Menurutnya, penutupan dilakukan karena biaya operasional terlalu tinggi. Hal itu dipicu harga fuel (Avtur) terlalu mahal.

Edward mengatakan, pihak Lion Air tidak bisa menawarkan harga yang belum tentu dapat dijangkau oleh masyarakat. Apabila pihaknya menaikkan harga tiket maka muncul anggapan semena-mena.

"Lebih baik tutup agar ada langkah-langkah konkrit ke depan. Yang jelas memang karena kerugian. Kalau bukan karena rugi tidak mungkin tutup," kata Edward saat ditemui di Kampus Politekni Negeri Kupang, Rabu (2/10/2019).

Menurutnya, Lion Air ingin ada pemikiran kalau harga fuel-nya tidak terlalu tinggi dan ada perubahan terkait itu.

Kekerasan Terhadap Anak di NTT Makin Meresahkan

"Misalnya, dari pemda menawarkan untuk subsidi, tapi kami tidak mau. Bukan itu, kita ingin ada suatu format yang jelas ketika kita melakukan itu hitungan menjadi jelas. Kita juga tidak ingin airlines ini dianggap semena-mena. Padahal penyebab kenaikan harga ada industri lain yang terkait dengan itu," terangnya.

Edward mengatakan, produk transportasi adalah produk bersama. Seharusnya hal ini dapat dicermati dengan adanya format terkait bagaimana membebankan biaya-biaya penerbangan.

"Apabila fuel-nya sudah ada format lain mungkin saja penerbangannya tetap jalan. Semua mungkin tapi dengan harga fuel yang sekarang berat, kasian. Misalnya dulu dijual 400 ribu kemudian dinaikkan lagi 600 terus jual lagi 700. Penumpang akan bingung, airlines ini maunya apa? Sementara mereka tidak pernah tahu penyebabnya apa. Jadi sekarang kami buka penyebabnya ini. Mari kita pikirkan bisa tidak kembali ke 600. Airline-nya tidak rugi dan masyarakatnya bisa beli. Itu yang kami kejar," tukasnya.

Ramalan Bintang Zodiak Kamis, 3 Oktober: Gairah Cinta Cancer, Leo Jaga Emosi, Aquarius Jatuh Cinta

Edward menegaskan, persoalan ini bukan hanya tutup dan buka. Melainkan bagaimana arilines bisa menawarkan masyarakat dengan harga yang bisa dijual dengan biaya operasional yang mendukung, bukan karena rugi atau sok-sokan.

"Kalau ada pihak lain yang terlibat dengan permasalahan itu seharusnya mereka juga berpikir ini kan kebutuhan masyarakat," ujar Edward.

Tujuh Rute

Selain rute Kupang-Rote, manajemen Lion Air juga menghentikan penerbangan enam rute lainnya, terhitung Kamis (3/10/2019).

Enam rute dimaksud, yaitu Batam (BTH)-Tanjung Pinang (TNJ), Kepulauan Riau, Palu-Morowali dan Palu-Ampana (Sulawesi Tengah), Manado-Kao (Maluku Utara), Manado-Naha Kepulauan Sangihe serta Manado-Melanguane Kepulauan Talaud (Sulawesi Utara).

UGM Rekomendasikan Kopdit Obor Mas Geluti Pengolahan Minyak Kelapa dan Developer Properti

"Penghentian Rute Wings Air Mulai 3 Oktober 2019 sampai pemberitahuan lebih lanjut atau batas waktu yang tidak ditentukan," kata Corporate Communications Strategic of Lion Air Group, Danang Mandala Prihantoro, Rabu kemarin.

Penghentikan operasional Wings Air pada tujuh rute tersebut karena dalam setiap penerbangan yang Wings Air lakukan masih mengalami kerugian serta jumlah penumpang yang belum optimal.

Rotary Club Kupang Siap Datangan 13 Dokter Spesialis India ke Kabupaten Kupang

Menurut Danang, pnyebab kerugian paling utama yakni harga bahan bakar yang jauh di atas harga avtur yang dikenakan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang Rp 7.970 per liter.

Avtur di Bandara Internasional Sam Ratulangi (Sulawesi Utara) Rp 10.080 per liter, Bandara Internasional El Tari Kupang (NTT) Rp 9.970 per liter, Bandara Mutiara Sis Al-Jufri, Palu (Sulawesi Tengah) Rp 10.080 per liter, Bandara Internasional Raja Haji Fisabillillah, Tanjung Pinang (Kepulauan Riau) Rp 9.540 per liter. (mm/ery/yen/yel/kk/ii)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved