Minggu, 26 April 2026

Opini Pos Kupang

Opini Pos Kupang, 16 Juli 2019 : Bupati Mabar Siapa Yang Pantas

Banyak kalangan menduga elektoralitas legislatif paralel dengan elektoralitas bupati dan wakil bupati. Padahal dua hal itu konteksnya berbeda.

Editor: Ferry Jahang
Pos Kupang
Pius Rengka 

Lalu, muncul para pemain muda. Ada Edy Endy dari Nasdem, Mateus Hamsi anggota DPRD NTT terpilih dari Golkar, Frans Sukmaniara, dan Andry Garu dari
Hanura yang tidak lolos ke DPR RI karena problem parliament threshold.

Kecuali itu, intelektual Rofinus Djemana disinyalir dirawat sejumlah partai berpengaruh untuk digadang-gadang masuk ke istana bupati. Lainnya lagi, Piet Jemadu, mantan komisaris independen Bank NTT.

Tentu saja, saya punya saran khusus. Saran saya jelas sederhana. Sebaiknya Bupati di Mabar diutamakan tokoh yang sanggup membaca tanda-tanda jaman, gesit, lincah, berwawasan luas, dan aksesibiltasnya tak hanya seputar Labuan Bajo,

tetapi berakses menasional dan menginternasional. Maka syarat tahu salah satu bahasa asing itu perlu agar sesekali rakyat Mabar boleh bangga melihat Bupatinya cuap-cuap bahasa mancanegara.

Hal itu tampak seperti sangat sederhana, tetapi sangat diperlukan agar sang bupati tidak terjebak dalam ruang akal-akal dan diakali orang asing yang mau datang ke situ.

Tak hanya asing bahasanya, asing pula kulturnya, asing juga ideologi yang digendongnya.

Mabar adalah tempat di mana segala adab dibawa berkelana dan bertemu. Segala ideologi bertarung ditularkan dan masyarakat Mabar gelisah, karena gelinya sangat sah. Begitulah. (*)

Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved