Minggu, 26 April 2026

Opini Pos Kupang

Opini Pos Kupang, 16 Juli 2019 : Bupati Mabar Siapa Yang Pantas

Banyak kalangan menduga elektoralitas legislatif paralel dengan elektoralitas bupati dan wakil bupati. Padahal dua hal itu konteksnya berbeda.

Editor: Ferry Jahang
Pos Kupang
Pius Rengka 

Sepertinya tak ada sedikit keberanian untuk menyebut, misalnya, si Polan Tukang Radio itu meski cukup kaya atau gemar tersenyum, tetapi bodohnya pun bukan main kuatnya, kapasitas moralnya pun rapuh lunglai dan sebagainya.

Kalangan politisi sering dibimbing wacana serba klasik. Mereka tidak sanggup membangun relevansi pemilihan Bupati Sabu misalnya, dengan perkembangan politik kawasan Pasific, economy Pasific,

tidak sanggup mewacanakan tema pergeseran ekonomi global dari kecenderungan mainstream Atlantik oriented ke Pasific heavy yang dimotori China.

Bahkan kecenderungan borderless sebagaimana dikenalkan Kenichi Ohmae, tentang kian tak terbatasnya relasi lintas manusia di dunia ini, dan profil konteks itu ditarik dalam even politik lokal, pemilihan bupati?

Usia tidak perlu dipertimbangkan. Tetapi, wawasan dan cakrawala pemikiran yang multidimensi.

Itulah yang jarang saya lihat muncul dari para politisi kita. Yang kerap mereka gosipkan di warung kopi, adalah tentang calon orang kaya, calon orang dekat Megawati, dekat SBY,

dekat dengan kelompok garis keras dan garis lembut, dekat dengan Victor Lasikodat atau siapa pun sejumlah nama yang gemar dipanggungkan dalam politik.

Bahkan orang mulai risau dengan calon yang terlalu dekat dengan Frans Leburaya, karena khawatir ditarik-tarik hubungannya dengan kasus NTT Fair.

Seolah-olah dekat dengan sejumlah nama itu menjadi jaminan meyakinkan dan merisaukan akan terjadi perubahan, atau dekat dengan orang akan berkasus justru membawa sial amat.

Padahal banyak bukti sejarah, dekat dengan orang kesohor belum menjamin apa pun dalam perubahan pilihan sosial, terutama opsi pembebasan masyarakat kita dari kemiskinan.

Dalam pemilihan Gubernur kemarin, Marianus Sae, dekat dengan Megawati dan para dayang di sekitar Megawati, tetapi toh dia masuk bui juga.

Orang dekat dengan SBY seperti Benny K Harman, tumbang juga meski dia sangat cemerlang secara intelektual. Eston Funay yang konon katanya sangat dekat dengan Prabowo, tak mencapai garis nyaris. Kalah.

Rakyat memilih Victor Laiskodat, karena ini tokoh dianggap khalayak enteng bicara, lugas berkata-kata, dan cara bergaulnya pun lintas sekat. Tambahan lagi dia jujur dengar dirinya sendiri.

Tindakannya, terkesan dobrak sana tabrak sini, menimbulkan turbulensi. Tetapi rakyat suka. Pada pemilihan bupati, saya ingin melihat khusus Pemilihan Bupati Manggarai Barat.

Mengapa? Manggarai Barat adalah kabupaten "internasional". Labuan Bajo, ibukota kabupaten yang terus dilirik nyaris hampir semua penduduk bumi lantaran mereka mau datang melihat kelakuan binatang dungu yang ganas itu.

Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved