Kamis, 11 Juni 2026

Menyoal Kepunahan Bahasa Beilel di Alor, Inilah Biang Penyebabnya

Itu berarti kurang lebih sepuluh persen dari jumlah bahasa di dunia ada di Indonesia. di NTT, jumlah bahasa Menurut

Tayang:
Editor: Dion DB Putra

Hal senada juga dinyatakan oleh Miller (1972) seperti dilansir http://badanbahasa.kemdikbud.go.id, Senin (21/82017) yang mengklasifikasikan situasi kebahasaan yang hidup lestari, sakit-sakitan, atau bahkan mati dan punah bergantung kepada apakah anak-anak mempelajari bahasa ibunya, apakah penutur orang dewasanya berbicara dengan sesamanya dalam setting yang beragam menggunakan bahasa ibu tersebut, dan berapa jumlah penutur asli bahasa ibu yang masih ada.

Sejalan dengan pendapat Holmes dan Miller di atas, maka upaya pemertahanan bahasa di Alor harus dilakukan melalui beberapa cara, di antaranya adalah:

Pertama, pengakuan masyarakat Alor, khsusnya generasi muda terhadap bahasa ibu juga bahasa daerahnya sendiri. Karena dewasa ini kita sulit temukan generasi muda di Alor yang menggunakan bahasa ibunya sendiri dalam beberapa kesempatan.

Kedua, bahasa-bahasa di Alor, harus segera didokumentasikan atau dibuat dalam bentuk tertulis (kamus, buku cerita dan sebagainya) juga dalam bentuk rekaman seperti film, drama dan lainnya.

Pada titik ini peran pemerintah maupun Non-Govermental Organization (NGO) sangat diharapkan untuk upaya pendokumentasian bahasa-bahasa di Alor.

Ketiga, peran pemerintah pusat maupun daerah untuk menyamakan kurikulum di sekolah-sekolah agar merevitalisasi bahasa dengan mengajarkannya pada Pelajaran Muatan Lokal atau Pelajaran Bahasa Daerah (Misalnya Bahasa Kabola, Retta, Alor Kecil dll).

Ketiga, peran media massa di Alor juga mesti menyediakan program atau rubrik kusus yang yang interaktif terkait dengan bahasa daerah agar para penutur bahasa daerah bisa berkomunikasi lewat program dan rubrik tersebut dengan menggunakan bahasa daerahnya. Pos Kupang misalnya, telah lama menyediakan Rubrik Tapaleuk untuk pemertahanan Bahasa Kupang.

Keempat, kemunitas atau kelompok pemerhati budaya dan bahasa perlu dihidupkan di Alor agar bisa mengedukasi masyarakat tentang urgensinya bahasa ibu atau pun bahasa daerag sebagai identitas dan jati diri.

Selain beberapa upaya yang penulis sebutkan di atas, tentu ada cara-cara kreatif lain yang diharapkan dapat dilakukan agar dapat mengatasi kepunahan bahasa-bahasa di Alor pada masa datang.

Bagaimana pun penelusuran `Presenter Metro TV, Amalina Lutfia harus membuka mata hati kita, menjadi cambuk dan titik balik bagi kita semua agar terus berupaya dalam pemertahanan bahasa agar kepunahan bahasa-bahasa ibu atau pun bahasa daerah tidak akan terjadi pada masa datang. *

Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved