Menyoal Kepunahan Bahasa Beilel di Alor, Inilah Biang Penyebabnya
Itu berarti kurang lebih sepuluh persen dari jumlah bahasa di dunia ada di Indonesia. di NTT, jumlah bahasa Menurut
Fenomena ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Romaine (1989) dalam https://bagawanabiyasa.wordpress.com, Selasa (22/8/2017), menyebut faktor-faktor yang menyebabkan pergeseran bahasa dan kepunahannya dapat berupa kekuatan kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas, kelas sosial, latar belakang agama dan pendidikan, hubungan dengan tanah leluhur atau asal, tingkat kemiripan bahasa mayoritas dengan bahasa minoritas, sikap kelompok mayoritas terhadap kelompok minoritas, perkawinan campur, kebijakan politik pemerintah terhadap bahasa dan pendidikan kelompok minoritas, serta pola pemakaian bahasa.
Muncul istilah bahasa mayoritas sebagai bahasa yang mendominasi. Untuk itu, kelompok minoritas dapat kehilangan keunikannya dan menyerupai kelompok mayoritas sebagai tanda bahwa bahasa tersebut sudah tergeser (Mulyana dan Rakhmat, 2006:160).
Dominasi Bahasa Indonesia
Jika ditilik lebih jauh, maka perkawinan campur yang dijelaskan Karim dan Bernadus Mohar telah mengakibatnya tergesernya bahasa-bahasa ibu lainnya.
Selain fenomena pergeseran bahasa yang dimulai dari perkawinan campur, sesungguhnya, ada hal menarik yang terjadi di Alor.
Masyarakat di Alor telah lama menggunakan Bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi sehari-hari baik di kota hingga ke kampung-kampung. Semisal, penutur Bahasa Retta di Pura harus gunakan Bahasa Indonesia jika bertemu penutur Bahasa Abui, begitu pun sebaliknya.
Umumnya orang Alor menguasai dua bahasa (bilingual) bahkan lebih (multilingual).
Pertama, mereka menguasai bahasa ibu masing-masing dan kedua adalah Bahasa Indonesia dan seterusnya. Tak dapat dipungkiri generasi muda Alor umumnya lebih menggunakan Bahasa Indonesia dengan penutur dari komunitas yang sama ketimbang bahasa ibu atau bahasa daerah.
Tidak berlebihan bila penulis mengatakan mayoritas masyarakat Alor menggunakan Bahasa Indonesia sehingga menggeser dan mendominasi bahasa-bahasa ibu atau daerah di Alor.
Bukan bermaksud menghilangkan penutur bahasa Indonesia di Alor, karena Bahasa Indonesia merupakan bahasa pemersatu yang telah digunakan masyarakat di Alor turun-temurun.
Namun, bukan berarti masyarakat Alor, khsusnya generasi muda harus mengabaikan bahasa ibu begitu saja.
Bagaimana pun bahasa ibu merupakan bagian dari kearifan lokal dan kekayaan kita bahkan harkat dan martabat kita sendiri sehinggga kita wajib menjaga dan mempertahankannya.
Di tengah ancaman kepunahan terhadap bahasa-bahasa ibu maupun daerah yang ada di Alor, maka tak ada upaya lain, selain upaya pemertahanan bahasa (language maintenance) agar bahasa tidak dapat hilang dan punah di bumi Seribu Moko.
Ada begitu banyak faktor yang dapat menjadi rujukan dalam upaya pemertahanan bahasa. Beberapa faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pemertahanan bahasa menurut Holmes (1993: 14), yaitu:
Pertama, jumlah orang yang mengakui bahasa tersebut sebagai bahasa ibu mereka. Kedua, jumlah media yang mendukung bahasa tersebut dalam masyarakat (sekolah, publikasi, radio, dan lain-lain.)
Ketiga, indeks yang berhubungan dengan jumlah orang yang mengakui dengan perbandingan total dari media-media pendukung.