TOPIK
Renungan Harian Katolik
-
Dalam injil (Mrk. 12:1–12) menceritakan perumpamaan tuan kebun anggur yang menyewa penenggang; ketika pemilik mengutus hamba-hambanya
-
Musim panen tiba. Mereka tidak mau berbagi hasil dengan pemilik kebun anggur. Semua utusan, bahkan anaknya sendri yang diutus mereka bunuh.
-
Melalui kisah ini, Yesus mengingatkan bahwa setiap anugerah dan kepercayaan dari Allah menuntut tanggung jawab, kesetiaan
-
Di sini kita melihat bahwa inti misteri Tritunggal bukanlah persoalan matematika tentang satu dan tiga, melainkan misteri kasih.
-
Tidak sedikit orang merasa bahwa dunia ini lebih cepat menghakimi daripada memahami, lebih mudah menyalahkan daripada mengasihi.
-
Salam damai dan sukacita bagi kita semua. Perayaan Tritunggal Mahakudus mengajak kita merenungkan misteri Allah yang satu dalam tiga Pribadi
-
Mengetahui kebenaran namun enggan untuk menjawab lantaran takut terhadap orang banyak yang percaya, bukanlah ini menandakan iman rapuh
-
Mereka menjawab “Kami tidak tahu,” bukan karena ketidaktahuan tulus, melainkan karena takut kehilangan muka dan kekuasaan.
-
Para imam dan ahli kitab itu adalah pemegang otoritas Bait Suci. Tidak hanya soal peribadatan, tetapi juga soal pajak penghasilan atas kegiatan
-
Dari peristiwa ini, Yesus mengajarkan bahwa iman bukan hanya soal penampilan luar, melainkan harus menghasilkan buah nyata dalam kehidupan.
-
Hari ini kita diajak merenungkan bagaimana rumah Allah sejati adalah ruang pertemuan antara manusia dan Tuhan sebagai tempat doa
-
Panggilan ini menuntut hidup yang berbeda, sopan dalam berperilaku di tengah bangsa, sehingga perbuatan baik menjadi saksi bagi yang belum kenal Allah
-
Kenyataan membuktikan bahwa banyak keterbatasan yang mereka miliki, namun dalam ketakberdayaan fisik maupun ruang lingkup untuk bertumbuh
-
Ketika ia berteriak memohon belas kasih, banyak orang justru menyuruhnya diam. Namun Bartimeus tidak menyerah. Ia semakin keras berseru
-
Yesus berkata: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.” Perkataan ini menjadi dasar hidup setiap orang Kristiani.
-
Dalam bacaan ini (1Ptr. 1:18–25) mengingatkan kita bahwa kita ditebus bukan dengan barang yang fana seperti perak atau emas, melainkan
-
Allah menunjukkan kasih-Nya yang luar biasa di hadapan umat-Nya, tidak hanya dalam dan melalui hal-hal yang mengagumkan tanpa derita
-
Menderita sebagai risiko mengasihi itu menguduskan, contoh dalam menjalankan misi keselamatan, para murid sering ditolak, dicaci maki, dianiaya
-
Pertanyaan ini muncul karena masyarakat sekarang sangat dipengaruhi cara pikir ekonomi. Nilai seseorang sering diukur dari pendapatan
-
Pada peringatannya kita diingatkan akan panggilan Kristus untuk melepaskan keterikatan duniawi demi mengejar harta yang tak binasa.
-
Artinya Gereja lahir bukan dari kekuasaan dunia, bukan dari kekuatan manusia, tetapi dari kasih dan pengorbanan Kristus.
-
Yesus tidak memuji ketamakan, tetapi mengoreksi cara berpikir: yang pertama-tama dicari adalah Kerajaan Allah dan mengikuti Dia.
-
Nafsu kuasa dan memiliki barang duniawi yang tak terbendung ini, membelengggu manusia dalam perilaku kerakusan yang "liar."
-
Mereka mulai berbicara dalam bahasa yang berbeda-beda sehingga orang dari berbagai bangsa dapat mendengar kabar keselamatan
-
Hari Raya Pentakosta menutup Masa Paskah dengan peristiwa lahirnya Gereja melalui turunnya Roh Kudus
-
Roh Kudus turun dalam rupa angin dan lidah api, lalu mengutus para murid mewartakan Injil ke seluruh dunia.
-
Setelah kebangkitan Yesus, Petrus melihat murid yang dikasihi Yesus—Yohanes—dan bertanya, “Tuhan, bagaimana dengan orang ini?”
-
Setelah mengutus Petrus, Yesus berkata kepada Petrus: bukan tentang apa yang terjadi pada orang lain, melainkan tentang satu panggilan
-
Pengikut Kristus di masa kini, tak luput dari tanggung jawab meneruskan karya para rasul itu dalam dunia. Tugas ini tidaklah mudah.
-
Karena kasih, kita berani ikut Yesus, siap diutus ke mana saja dan rela menanggung penderitaan demi keselamatan sesama.