TTS Terkini
Pedagang Aksesoris di Pasar Inpres Soe Keluhkan Sepi Pelanggan
Penurunan daya beli masyarakat mulai dirasakan di Pasar Inpres Soe. Seorang pedagang aksesoris, Mega Ngefak mengakui hal tersebut.
Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Maria Vianey Gunu Gokok
POS-KUPANG.COM, SOE- Penurunan daya beli masyarakat mulai dirasakan di Pasar Inpres Soe. Seorang pedagang aksesoris, Mega Ngefak mengakui hal tersebut.
Ketika ditemui di lapak jualannya pada Sabtu (23/5/2026), Mega mengeluhkan bahwa sejak awal tahun 2026, Pasar Inpres menunjukkan penurunan jumlah pembeli.
"Memang pasar Inpres sekarang ini sangat sepi, dulunya satu hari kita bisa dapat Rp. 300.000 lebih hingga Rp 500.000, sekarang ni syukur-syukur kita dapat Rp 100.000," gambar Mega.
Di Pasar Inpres Soe, ia menjual aksesoris, kosmetik, juga beberapa pakaian anak-anak. Lapaknya masih terbilang di pinggir lorong Pasar dan mudah dijangkau, persis didepan penjual selimut dan tenunan Timor di Pasar Inpres Soe.
Baca juga: Penjual Ikan di Pasar Inpres Soe Keluhkan Daya Beli Masyarakat Menurun
Mega menyampaikan bahwa minat pembeli didominasi berbelanja sembako, sedangkan kebutuhan lain seperti barang jualannya kurang dilirik akhir-akhir ini.
"Sekarang pasar lagi sepi sekali, daya beli menurun sekali. Sekarang mungkin yang lebih banyak orang belanja sembako saja, sedangkan kita yang aksesoris, kosmetik bahkan selimut depan itu susah sekali," ungkapnya.
Menurutnya dampak kenaikan harga barang yang saat ini terasa, juga menerpa usaha aksesorisnya. Bukan hanya sembako seperti minyak goreng saja yang naik, tetapi aksesoris yang ia jual juga terkenah dampak dan harus mengalami penyesuaian harga.
"Beberapa item yang best seller seperti Minyak Kemari, dulu saya jual dengan harga Rp 30.000 untuk minyak kemiri murni dan Rp 35.000 untuk kemiri bakar. Sekarang harga minyak kemiri naik, ongkir juga begitu. Saya jual sekarang Rp 40.000 sampai Rp 45.000 supaya dapat untung sedikit," gambarnya.
Baca juga: Harga Minyak Goreng dan Beras Naik Drastis di Pasar Inpres Soe, Harga Telur Ayam Justru Turun
Kondisi ini ia perkiraan sejak Januari 2026. Hal itu karena di bulan Desember 2025, lapaknya masih ramai pembeli.
"Itu mulai dari awal Januari 2026. Kalau Desember kemarin masih ramai karena mungkin Natal. Tapi mulai dari tahun baru sampai sekarang ini," ungkapnya.
Beberapa produk lain yang terpaksa harus ia naikkan harganya karena harus menyesuaikan dengan harga barang yang dipesan, juga ongkir barang tersebut.
"Kosmetik juga mengalami kenaikan. Sekarang berbelanja online ada ongkir sehingga saya juga perlu penyesuaian. Yang paling alami kenaikan itu, kosmetik, dulu produk blash on Rp 35.000, sekarang ini jual saya jual Rp. 50.000 bahkan ada yang sudah jual Rp 60.000 karena kita dapat sudah Rp.40.000 termasuk ongkirnya," tegas Mega.
Selain itu, Kalung kalung titanium, di harga lama ia jual dengan Rp 30.000, sekarang alami kenaikan jadi ia jual Rp 50.000.
Baca juga: Kebakaran di Ruko Gardena Pasar Inpres Soe, Polres Gerak Cepat Padamkan Api dan Olah TKP
"Jadi kadang ini pelanggan lama datang bilang sudah naik, padahal kondisi sekarang semua naik, bahkan ongkir yang tinggi kadang bikin tidak jadi belanja," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pedagang-di-Pasar-Kota-Soe-mengeluh-menurunnya-pembeli.jpg)