NTT Terkini
Anggota DPD RI Angelo Wake Kako dan Pemerintah di NTT Dialog Bahas Pengembangan Ternak
Tekstur pada daging sapi NTT jauh lebih berserat dan lebih terasa manis. Dwita Deo meminta agar pengembangan difokuskan pada ternak lokal.
Penulis: Irfan Hoi | Editor: Oby Lewanmeru
Ia membandingkan kualitas daging sapi dari NTT dengan wilayah lainnya.
Tekstur pada daging sapi NTT jauh lebih berserat dan lebih terasa manis. Dwita Deo meminta agar pengembangan difokuskan pada ternak lokal.
"Kita maksimalkan sumber daya yang ada di masyarakat lokal untuk meningkatkan ras (ternak) lokal. Kalau kita pakai ras lain, mungkin bisa tapi apakah kualitasnya, kuantitasnya bisa sesuai yang kita harapkan?. Itu menjadi catatan kita karena geografis kita seperti ini," ujarnya.
Gubernur NTT Melki Laka Lena mengatakan bantuan ribuan dosis semen beku IB itu bukan sekadar bantuan teknis, tetapi investasi untuk masa depan peternakan NTT. Itu agar mendorong peningkatan kualitas sapi.
"Kalau sapi NTT makin berkualitas, yang ikut tumbuh bukan hanya ternaknya. Ekonomi keluarga peternak juga ikut naik kelas," katanya.
Mantan Anggota DPR RI itu menyampaikan terima kasih untuk Pimpinan Komite II DPD RI, Angelo Wake Kako, yang telah menjembatani kebutuhan daerah dengan pemerintah pusat, khususnya Direktorat Pembibitan dan Produksi Ditjen PKH Kementan RI.
Baca juga: AWK Sebut NTT Sebagai Nusa Ternak Terintegrasi
Menurut dia, NTT punya potensi besar menjadi lumbung ternak nasional. Dengan kerja sama semua pihak, bisa dipastikan manfaat program sampai ke kandang-kandang peternak, menghadirkan lebih banyak anak sapi, hingga lebih banyak peluang usaha.
Angelo Wake Kako berkata, diskusi ini masih pada sisi hulu. Ia meminta agar semua yang terlibat dalam pertemuan itu melakukan agenda lanjutan, terkhusus dalam pemetaan dan rencana aksi.
Menurut dia, konsumsi susu sapi di NTT bukan hal baru. Jauh sebelum itu, di Seminari Mataloko atau wilayah Flores dan beberapa Seminari lainnya di NTT, telah menjadikan susu sebagai kebutuhan pokok.
Bahkan, kata dia, ini sebelum lahirnya gerakan mengonsumsi susu secara nasional ataupun pemenuhan di program Makan Bergizi Gratis (MBG). Itu alasannya ia ingin agar produksi susu sapi dari NTT harus dikembalikan.
"Kota Kupang harus menjadi pelabuhan keluar, kontainer untuk mengirim daging sapi. Kita ambil lagi kulit sapi, tulang sapi, cukup banyak yang selama ini kita buang semua. Kita juga mengirim daging," ujarnya.
AWK mengatakan, dialog ini menjadi tahap awal sebagai langkah kolaborasi dengan instansi teknis yang ada di NTT. Ia juga akan melaksanakan program IB secara mandiri dalam waktu dekat untuk peternak di NTT.
"Semoga sinergi ini berdampak kepada kesejahteraan peternak," katanya. (fan)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM Lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Angelo-kegiatan-di-DPD-RI-NTT.jpg)