Sabtu, 30 Mei 2026

Beranda Kita

Beranda Kita: Bumi Terengah-engah

Untuk pertama kali sejak 1930, Piala Dunia melibatkan 48 tim, bertambah 16 tim dari format sebelumnya yang hanya diikuti 32 finalis.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI POS-KUPANG.COM
ILUSTRASI 

Pesta bola 2026 bukan sekadar perayaan taktik dan talenta, melainkan sebuah parade paradoks. Perayaan terbesar umat manusia ini serentak menyumbang jelaga hitam terdahsyat dalam sejarah olahraga modern.

Coba tuan dan puan bayangkan sejenak, seolah sedang duduk di warung kopi sambil menatap peta dunia yang membentang. 

Tempo dulu, Piala Dunia adalah pesta pelataran rumah yang hangat. Kota-kota tuan rumah bisa dijangkau dengan kereta atau bus malam yang lambat namun romantis. Kini semuanya berubah.

Baca juga: Beranda Kita: Amfoang dan Gibran

Sebuah tim yang hari ini merayakan kemenangan di Miami (Amerika Serikat) yang hangat,  beberapa hari kemudian harus berlaga di Vancouver (Kanada) yang sejuk dengan jarak lebih dari 4.500 kilometer. 

Jarak itu bukan sekadar angka di atas kertas. Jarak tersebut berarti deru mesin burung besi yang membelah awan, menyemburkan jutaan ton karbon ke langit. 

Ketika FIFA membuka pintu lebar-lebar bagi lima juta penonton untuk datang, mereka tidak hanya mengundang kegembiraan. Mereka  menggerakkan armada raksasa yang meninggalkan jejak kotor di atmosfer kita.

Mengutip kembali penelitian Unil, emisi karbon Piala Dunia 2026 berkisar antara 5 hingga 9 juta ton CO2 yang lepas ke udara bebas.

Angka ini kira-kira setara emisi jutaan kendaraan yang bergerak tanpa henti. Pertunjukan seni mengolah bola yang indah dibayar mahal oleh paru-paru bumi yang kian mengempis.

Ketika sepak bola menjadi industri, maka komersialisasi sulit dikekang. FIFA menambah jumlah tim finalis menjadi 48, menggandakan jumlah pertandingan, dan memperluas infrastruktur dan sarana akomodasi. 

Piala Dunia 2026 pada akhirnya menjadi cermin untuk  merefleksikan bagaimana ambisi manusia yang tak terkendali bisa mengubah pesta bola menjadi beban ekologis. 

Pesan mendiang Paus Fransiskus melalui ensiklik Laudato Si' kembali menemukan relevansinya di sini.

Sepak bola harus kembali ke khitahnya. Sebuah panggung manusia merayakan kehidupan, bukan pesta mempercepat kerusakan bumi huniannya sendiri.  Selamat menyongsong hingar-bingar Piala Dunia 2026.  (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved