Sabtu, 30 Mei 2026

Beranda Kita

Beranda Kita: Bumi Terengah-engah

Untuk pertama kali sejak 1930, Piala Dunia melibatkan 48 tim, bertambah 16 tim dari format sebelumnya yang hanya diikuti 32 finalis.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI POS-KUPANG.COM
ILUSTRASI 

POS-KUPANG.COM -  Biasanya menjelang Piala Dunia, teman beta, Yohanes Kapa tergila-gila memuja tim kesayangannya, Samba Brasil.

Namun sore itu, di beranda rumahnya di Kota Kupang, pria setengah baya kelahiran Flores tersebut, justru bicara sesuatu yang berbeda.  Bukan taktik lapangan hijau, melainkan rekor kelam yang siap pecah. 

Menurut dia, Piala Dunia 2026 akan menjadi pesta olahraga paling kotor dan sarat polusi dalam sejarah planet bumi.

"Piala Dunia 2026 ini boros. Boros waktu, tenaga dan biaya. Juga akan bikin polusi tertinggi dalam sejarah Piala Dunia," katanya dengan mimik serius ketika kami ngobrol sambil minum teh dan kopi di beranda rumahnya dua hari lalu.

Teman tahu dari mana? "Ya dari media massa. Ini bukti kamu kurang baca," katanya sambil tertawa.

Yohanes memang doyan membaca. Ia masih meluangkan waktu satu hingga dua jam sehari untuk membaca buku atau berita, sebuah kebiasaan yang makin langka di era digital.

Baca juga: Beranda Kita: Kisah Sepotong Tahu

Tidak berlebihan bila Yohanes Kapa melukiskan FIFA World Cup 2026 sebagai event  boros dan tinggi polusi. 

Untuk pertama kali sejak 1930, Piala Dunia melibatkan 48 tim, bertambah 16 tim dari format sebelumnya yang hanya diikuti 32 finalis.

Turnamen ini juga menjadi yang pertama bergulir di tiga negara sekaligus yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Pendapatan FIFA diprediksi melonjak ke level tertinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Namun, pesta bola empat tahunan ini juga berpotensi mencatat rekor buruk sebagai acara olahraga dengan emisi karbon tertinggi di dunia.

Menurut ahli lingkungan dari Universitas Lausanne (Unil), David Gogishvili, seperti diwartakan Kompas.com,  perluasan jumlah peserta, jarak antarkota tuan rumah, serta tingginya mobilitas tim dan penonton akan membuat jejak karbon Piala Dunia 2026 melonjak tajam.

“Kondisi ini berbeda dengan Olimpiade, di mana jejak karbonnya terus berkurang,” kata David Gogishvili, Sabtu (23/5/2026).

Penelitian Unil menyebutkan turnamen ini akan menghasilkan jejak karbon terbesar dalam sejarah olahraga internasional. Gogishvili memperkirakan emisi karbon Piala Dunia 2026 berkisar antara 5 hingga 9 juta ton CO2.

Sebagai pembanding, Olimpiade Paris 2024 hanya menghasilkan sekitar 1,75 juta ton CO2. Sementara pada edisi sebelumnya, Piala Dunia Rusia 2018 menghasilkan 2,17 juta ton CO2, dan Piala Dunia Qatar 2022 menghasilkan 3,17 juta ton CO2.

Bumi Terengah-engah

Kini menjadi jelas bagi pemuja sepak bola bahwa  di balik sorak-soraimu merayakan gol sepanjang 11 Juni hingga 19 Juli 2026, bumi hunian kita terengah-engah menghirup pekatnya dampak aktivitas manusia.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved