Minggu, 24 Mei 2026

Beranda Kita

Beranda Kita: Kisah Sepotong Tahu

Beta tanya seorang teman, penggemar berat tahu, bagaimana kiatnya tetap bisa menyantap lauk itu di tengah kenaikan harga sekarang?

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM
ILUSTRASI 

POS-KUPANG.COM - Tuan dan puan suka makan tahu tempe? Kalau suka, mulailah mengurangi porsi harianmu. Sebab, lauk sejuta umat yang biasanya murah hati harganya mendadak genit dan bersolek mahal amat.

Cerita nestapa datang dari Atambua, kota tapal batas negeri di Pulau Timor, Provinsi Nusa Tenggara Timur ( NTT). Gara-gara rupiah yang terus loyo melas, harga kedelai impor melompat ugal-ugalan. 

Coba puan bayangkan, satu karung kedelai yang dulu cuma Rp375 ribu, kini melesat hingga Rp560 ribu. 

Sebagaimana reportase rekan beta wartawan Pos Kupang di Belu, Agus Tanggur, nasib pengusaha tahu seperti Aris Wirdianto kini di ujung tanduk. 

Baca juga: Beranda Kita: Amfoang dan Gibran

Menaikkan harga jual jelas bumerang bagi Aris. Lapak usahanya bakal ditinggal pembeli. Maka jalan tunggal adalah memangkas produksi dari 12 karung menjadi tinggal 7 karung kedelai sehari. 

“Kenaikan (harga kedelai) ini sangat terasa. Mau tidak mau kami harus mengurangi produksi supaya bisa tetap bertahan,” kata Aris.

Aris dan sebagian besar warga di tapal batas NKRI pasti tidak pakai dolar saat transaksi sehari-hari. 

Tapi mereka kiranya paham sangat bahwa urusan isi perut warga di batas negara didikte oleh keperkasaan mata uang Amerika Serikat. 

Setiap kali dolar menguat alias rupiah melempem, harga sepotong tahu ikut bergolak. Jeritan marhaen riuh bergelora. Begitulah hukum ekonomi yang berlaku bila negaramu piawainya cuma impor!

Menstabilkan nilai tukar rupiah tentu butuh waktu, namun menyelamatkan piring nasi pengusaha tahu tidak bisa ditunda. Juga menekan harga agar bisa terjangkau rakyat banyak.

Jangan sampai terjadi protein andalan rakyat jelata tersebut punah dari pasar dan meja makan masyarakat Flobamora karena rupiah kalah sakti dari dolar.

Beta tanya seorang teman, penggemar berat tahu, bagaimana kiatnya tetap bisa menyantap lauk itu di tengah kenaikan harga sekarang?

Baca juga: Beranda Kita: Teman Seperjalanan

"Saya juga kurangi porsi, kawan," jawabnya enteng. Baiklah. Mari kencangkan ikat pinggang! 

Lalu di mana gerangan pemerintah, ke mana pemimpin penyelengara negara? Apa tawasan solusi dari mereka untuk menekan harga tahu?  

Aue... tuan dan puan sudah tahu to?  Kaka dorang (baca: mereka) rajin pidato, doyan gunting pita. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved