Beranda Kita
Beranda Kita: Gen Z dan Alpha
Sejak usia dini bahkan dari dalam rahim ibu, mereka terpapar teknologi canggih mulai telepon pintar, tablet hingga kecerdasan buatan alias AI.
POS-KUPANG.COM - Anak laki-laki berusia 4 tahun mendadak tantrum ketika sang ibu mengambil ponsel dari tangannya. Bocah tersebut menangis, menjerit dan berguling-guling di lantai rumah.
Si ibu muda terpaksa mengalah. Dia berikan lagi ponsel kepada buah hatinya. Si kecil berhenti menjerit. Matanya fokus ke layar telepon genggam.
Mungkin tuan dan puan pernah melihat kejadian serupa bahkan mengalaminya secara langsung. Yang ketagihan menatap layar ponsel berjam-jam boleh jadi adalah anak kandung, keponakan atau cucu kita.
Begitulah nasib angkatan bernama generasi Z dan generasi Alpha. Mereka merupakan anak dari Generasi Milenial yang lahir dan tumbuh kembang di era digital.
Sejak usia dini bahkan dari dalam rahim ibu, mereka terpapar teknologi canggih mulai telepon pintar, tablet hingga kecerdasan buatan alias AI.
Baca juga: Beranda Kita: Teman Seperjalanan
Anak-anak gererasi Z dan Alpha amat terhubung secara online dan visual. Waktu mereka banyak tersita untuk selalu menatap layar telepon genggam, tablet, komputer atau laptop.
Aktivitas digitalnya berlangsung sejak bangun pagi hingga tiba waktu beristirahat pada malam hari.
Sebagai pengguna internet yang aktif, anak-anak merupakan satu di antara kelompok rentan mengalami kekerasan digital. Dan korban sudah banyak berjatuhan. Mereka merupakan kelompok yang paling mudah diperdayai dan dieksploitasi.
Dalam talkshow di Kantor Harian Pos Kupang, Jumat (19/12/2025), Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Nusa Tenggara Timur, Ruth Diana Laiskodat mengungkapkan fakta penting dan menarik.
Ruth Diana Laiskodat mengungkapkan, sebanyak 98 persen anak usia 7–8 tahun sudah menggunakan internet, namun hanya 37,5 persen yang mendapatkan literasi digital.
Kondisi ini diperparah dengan fakta bahwa 65 persen pelaku kekerasan merupakan orang yang dikenal korban melalui media sosial.
Menurutnya, rendahnya literasi digital menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kekerasan terhadap anak. Indonesia bahkan berada di peringkat keempat dunia untuk kasus pornografi anak secara daring.
Beberapa bulan terakhir, eksploitasi seksual online, perundungan digital dan kejahatan siber terhadap anak terus meningkat. Artinya ruang digital belum menjadi ruang yang aman bagi anak.
Data DP3AP2KB mencatat, kasus kekerasan anak di NTT terus meningkat. Sepanjang 2021 hingga 2024 tercatat 735 kasus, sementara Januari hingga Oktober 2025 tercatat 643 kasus melalui Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA).
Pada tahun 2025, kekerasan berbasis digital terhadap perempuan dan anak didominasi pelecehan seksual (36,4 persen) dan kekerasan psikis (33,1 persen). Pelaku sebagian besar merupakan orang terdekat korban, seperti keluarga, orang tua, hingga kenalan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Beranda-Kita-ilustrasi.jpg)