Editorial
Editorial: Pulihkan Flotim dan Lembata
DERITA masyarakat Flotim dan Lembata belum jua berakhir. Setelah lebih dari 24 purnama dilanda erupsi Lewotobi dan Lewotolok.
Ringkasan Berita:
- DERITA masyarakat Kabupaten Flores Timur (Flotim) dan Lembata belum jua berakhir. Setelah lebih dari 24 purnama dilanda erupsi Lewotobi dan Lewotolok, bumi yang mereka diami kembali bergetar hebat.
- Gempa magnitudo 4,7 mengguncang Flores Timur dan Lembata pada Rabu dini hari 9 April 2026.
- Getaran gempa terasa hingga wilayah Kabupaten Sikka.
- Gempa bumi dangkal ini menyebabkan 257 bangunan rusak serta 1.663 warga mengungsi di sepuluh desa di Kabupaten Flores Timur.
POS-KUPANG.COM - DERITA masyarakat Kabupaten Flores Timur (Flotim) dan Lembata belum jua berakhir. Setelah lebih dari 24 purnama dilanda erupsi Lewotobi dan Lewotolok, bumi yang mereka diami kembali bergetar hebat.
Gempa magnitudo 4,7 mengguncang Flores Timur dan Lembata pada Rabu dini hari 9 April 2026.
Getaran gempa terasa hingga wilayah Kabupaten Sikka.
Gempa bumi dangkal ini menyebabkan 257 bangunan rusak serta 1.663 warga mengungsi di sepuluh desa di Kabupaten Flores Timur.
Kepala Bidang Penanganan Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Flotim, Maria Goretty AC Nebo Tukan, dalam laporannya yang diterima Minggu (12/4/2026), menyebutkan, ada dua kecamatan yang terdampak gempa. Kerusakan pun terjadi di wilayah Lembata.
Gempa bumi terkini di Flotim dan Lembata tentunya bukan sekadar angka dalam catatan seismologi. Bencana alam di sana merupakan alarm kemanusiaan yang menuntut tanggapan cepat.
Dengan 257 bangunan rusak dan lebih dari 1.600 warga mengungsi di Adonara Timur serta Solor Timur, serta dampak kerusakan di Lembata, kita tidak punya waktu untuk sekadar berwacana. Bukan saatnya lagi cuma omong-omong.
Kita kiranya sepakat bahwa prioritas utama saat ini adalah memastikan keselamatan nyawa dan kebutuhan dasar pengungsi. Penanganan medis intensif bagi korban luka serta distribusi logistik darurat, seperti terpal, kasur, dan tikar—harus menembus hingga wilayah yang sulit dijangkau seperti Lamakera di Pulau Solor. Pemerintah daerah tidak elok membiarkan satu pun warga merasa sendirian dalam kedinginan di tenda pengungsian.
Dalam peristiwa bencana alam, penanganan darurat lazimnya cuma langkah awal. Tantangan sesungguhnya bagi para pemangku kepentingan justru pada fase pemulihan.
Perbaikan 222 rumah di Flores Timur dan puluhan rumah di Lembata, serta fasilitas publik seperti MAN Solor Timur, harus menjadi agenda prioritas Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten Flotim dan Lembata. Kita berharap warga yang mengungsi segera kembali ke rumah mereka.
Pada fase pemulihan kita tak bosan menyertakan catatan penting bahwa rekonstruksi rumah maupun bangunan fasilitas umum harus berbasis standar tahan gempa. Flores adalah wilayah rawan sehingga membangun kembali dengan pola lama sama saja dengan menabung risiko bagi diri sendiri di masa depan.
Tak kalah penting untuk diingatkan dalam masa pemulihan bencana adalah tata kelola anggaran. Kita mendukung penuh keterlibatan aparat Kejaksaan, Kepolisian, BPK, hingga BPKP untuk mengawal setiap rupiah dana bencana.
Jangan sampai di atas penderitaan warga yang kehilangan tempat tinggal, ada oknum yang mencari keuntungan pribadi. Anggaran bencana harus bebas dari kebocoran dan harus tepat sasaran.
Kita berharap koordinasi lintas instansi terus diperkuat agar tidak ada desa terdampak yang terlewatkan. Mitigasi, edukasi jalur evakuasi, dan kewaspadaan terhadap gempa susulan harus terus didengungkan.
Saatnya semua pihak bahu-membahu agar rakyat di Flotim dan Lembata segera pulih, lebih kuat, dan lebih siap menghadapi tantangan alam di masa depan. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Pulang-dari-Kebun-Warga-Watuliwung-Sikka-Ditemukan-Meninggal-Dunia-Usai-Dibawa-Banjir.jpg)