Selasa, 26 Mei 2026

Editorial

EDITORIAL: Keindahan yang Belum Nyaman

KECELAKAAN yang menewaskan wisatawan di TNK kembali. Kali ini, dua wisatawan asal Austria, Jurgen dan Astrid tewas di wisata Air Terjun

Tayang: | Diperbarui:
POS-KUPANG.COM/KRISTOFORUS BOTA
PEMBANGUNAN PULAU PADAR - Pulau Padar di Wilayah Taman Nasional Komodo. Rencana Pembangunan di Pulau Padar hanya 10 Persen Dari 274 Hektar Lahan Yang Diizinkan 

Ringkasan Berita:
  • KECELAKAAN yang menewaskan wisatawan di Taman Nasional Komodo (TNK) kembali. Kali ini, dua wisatawan asal Austria, Jurgen dan Astrid tewas di kawasan wisata Air Terjun Cunca Wulang, Minggu 24 Mei 2026.
  • Ini adalah untuk kesekiankalinya, wisatawan meninggal di TNK akibat fasilitas yang tidak memadai atau buruk. Sesuai data di media, beberapa kasus yang mengakibatkan wisatawan tewas, yakni tahun 2022 di mana dua wisatawan meninggal akibat kapal tenggelam di perairan Taman Nasional Komodo.
 

 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - KECELAKAAN yang menewaskan wisatawan di Taman Nasional Komodo (TNK) kembali. Kali ini, dua wisatawan asal Austria, Jurgen dan Astrid tewas di kawasan wisata Air Terjun Cunca Wulang, Minggu 24 Mei 2026.

Ini adalah untuk kesekiankalinya, wisatawan meninggal di TNK akibat fasilitas yang tidak memadai atau buruk. Sesuai data di media, beberapa kasus yang mengakibatkan wisatawan tewas, yakni tahun 2022 di mana dua wisatawan meninggal akibat kapal tenggelam di perairan Taman Nasional Komodo.

Kemudian tahun 2023 satu wisatawan domestik meninggal setelah sekoci kapal wisata terbalik di Pulau Muawang. Tahun 2025, wisatawan asal China meninggal saat snorkeling di Long Pink Beach.

Dan di akhir tahun 2025, kecelakaan kapal di sekitar Pulau Padar menyebut 4 wisatawan asing hilang/tenggelam.

Kalau dihitung dari kasus-kasus yang terlapor luas di media, jumlah korban wisatawan meninggal setidaknya lebih dari 7 orang dalam beberapa tahun terakhir.

Tetapi angka sebenarnya bisa lebih tinggi atau lebih rendah karena tidak semua kasus dipublikasikan nasional, sebagian korban masih berstatus hilang saat laporan awal, dan tidak ada database publik terpadu khusus kecelakaan wisata di Labuan Bajo.

Dari data yang ada, kasus-kasus tersebut terjadi akibat kapal wisata yang tak layak operasi, cuaca buruk, snorkeling/diving di lokasi berbahaya dan  standar keselamatan operator wisata yang belum merata. Yang terakhir ini mesti menjadi perhatian.

Sebagai daerah wisata premium, TNK adalah lokasi yang menjadi incaran turis dari seluruh dunia. Dari berbagai latar belakang, mereka datang dengan bermacam tujuan. Ada yang sekadar berwisata, ada yang melakukan penelitian dan ada yang bahkan ingin berinvestasi.

Dari kasus-kasus ini, ternyata keindahan yang ditawarkan Taman Nasional Komodo tak senyaman cerita orang. Masih banyak hal yang mesti dibenahi, meski sudah banyak perhatian yang diberikan pemerintah terhadap daerah ini.

Tak hanya berharap pada Pemkab Manggarai Barat atau Pemprov NTT, Pemerintah Pusat bahkan membentuk sebuah badan khusus untuk mengurus Taman Nasional Komodo. Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores (BPOLF) dibentuk untuk mengembangkan kawasan wisata yang ada di wilayah itu.

Artinya, pembangunan infrastruktur,pengembangan destinasi, pengendalian kawasan wisata dan promosi pariwisata adalah tugas utamanya. Dan, kalau dirinci lebih detail, fasilitas yang ada di destinasi wisata seperti jembatan dan lainnya menjadi tugas BPOLF untuk mengawasi dan mengurusnya.

Dan, kalau kemudian ketika wisatawan celaka dan meninggal karena fasilitas yang tidak memadai, itu artinya kita masih lalai. Kita belum tuntas melaksanakan tugas menyediakan fasilitas yang nyaman bagi wisatawan. Di saat kita menargetkan peningkatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat dari kedatangan wisatawan, masih ada hal yang abai.

Kita belum sepenuhnya siap menerima kedatangan tamu yang ingin bersenang-senang di daerah kita. Padahal, dampak dari kecelakaan wisatawan di sebuah lokasi wisata efeknya sangat besar.

Berasal dari luar negeri, jelas media-media mancanegara akan memberitakan hal ini. Dampaknya sangat besar. Efek sebar dari berita yang dipublis membuat tingkat kunjungan ke lokasi kecelakaan bisa menurun. Ekonomi lokal akan menurun dan target kesejahteraan masyarakat, tentu tidak akan tercapai.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved