Editorial
Editorial: Ketika Beras Langka
Masyarakat di Desa Batnes, Kecamatan Musi, Kabupaten TTU yang berbatasan dengan Distrik Oecusse, Negara RDTL dihimpit krisis pangan.
Orang Timor, Flores, Sumba, Alor yang makanan pokoknya adalah jagung dan ubi perlahan tapi pasti telah beralih ke beras. Maka Ketika harga beras bergejolak sedikit saja mereka menjerit dan mengeluh.
Ketergantungan tinggi pada satu jenis komoditas tidak baik bagi kedaulatan pangan masyarakat. Contohnya di Kabupaten TTU tersebut di atas. Beras langka dan harganya pun mahal.
Kita tak jemu mengingatkan tentang pentingnya usaha mengembalikan keberagaman pangan melalui gerakan diversifikasi untuk mengurangi beban konsumsi beras.
Pemerintah menargetkan penurunan konsumsi beras menjadi 85 kg per kapita per tahun. Jumlah tersebut masih jauh dari harapan.
Untuk konteks masyarakat Nusa Tenggara Timur, ayo kembali ke makanan warisan leluhur kita seperti jagung, ubi kayu, talas, dan sorgum yang banyak tersedia di berbagai daerah. Sejatinya kita bukan daerah penghasil beras! (*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/beras-di-gudang.jpg)