Minggu, 10 Mei 2026

Editorial

Editorial: Ketika Beras Langka

Masyarakat di Desa Batnes, Kecamatan Musi, Kabupaten TTU yang berbatasan dengan Distrik Oecusse, Negara RDTL dihimpit krisis pangan.

Tayang:
POS-KUPANG.COM/MARIO TETI
BERAS - Potret beras yang berada di Gudang Bulog Rote Ndao. 

Ringkasan Berita:
  • Masyarakat di Desa Batnes, Kecamatan Musi, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) yang berbatasan langsung dengan Distrik Oecusse, Negara Republik Demokratik Timor Leste, kini tengah dihimpit krisis pangan.
  • Khususnya beras. Sejak Januari hingga akhir Februari 2026 beras langka di sana. Harganya pun terus meroket hingga menembus angka Rp575.000 per karung isi 40 kg.
  • Kelangkaan stok beras disinyalir menjadi pemicu utama melonjaknya harga di wilayah perbatasan kedua negara tersebut.

 

POS-KUPANG.COM, KUPANG - Masyarakat di Desa Batnes, Kecamatan Musi, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) yang berbatasan langsung dengan Distrik Oecusse, Negara Republik Demokratik Timor Leste, kini tengah dihimpit krisis pangan.

Khususnya beras. Sejak Januari hingga akhir Februari 2026 beras langka di sana. Harganya pun terus meroket hingga menembus angka Rp575.000 per karung isi 40 kg.

Kelangkaan stok beras disinyalir menjadi pemicu utama melonjaknya harga di wilayah perbatasan kedua negara tersebut.

Seorang warga Desa Batnes, Yosep Suni mengatakan, pada bulan Januari 2026 harga beras merk Ambon ukuran 40 kilogram dijual Rp 540.000 per karung. Harganya meningkat pada akhir Januari 2026 menjadi Rp 550.000 per karung.

Memasuki akhir  Februari 2026, mencapai Rp 575.000 per karung. 

Nilai berita mungkin ini tidak seberapa. Kelangkaan stok beras pun terjadi di wilayah yang tidak begitu luas. Namun, efeknya boleh jadi tidak sederhana. Beras langka lazimnya merepotkan banyak keluarga mengingat beras merupakan bahan pangan utama.

Bagi sebagian besar penghuni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), berlaku adagium ini: Belum makan kalau belum nasi.

Artinya sudah menjadi budaya masyarakat kita yang merasa seolah-olah kebutuhan karbohidratnya belum terpenuhi jika belum mengonsumsi nasi meskipun dia sudah makan sumber karbohidrat lain. 

Sebut misalnya ubi, jagung, pisang dan sebagainya.

Akibatnya ketergantungan masyarakat terhadap sumber pangan berupa beras sangat tinggi. Berdasarkan data Susenas September 2022, sekitar 98,35 persen rumah tangga di Indonesia mengonsumsi beras dengan rata-rata konsumsi per kapita mencapai 6,6 kg per bulan.

Pada tahun 1954, proporsi beras dalam asupan karbohidrat masyarakat Indonesia hanya sekitar 53,5 persen. Angka itu melonjak drastis menjadi 81,1 persen pada akhir 1980-an.

Secara sosial makan nasi kerap dikaitkan dengan citra status sosial tertentu di masyarakat. Mereka yang makan nasi dipandang lebih baik statusnya ketimbang yang mengonsumsi jagung dan ubi. Padahal sama-sama sumber karbohidrat yang bermanfaat untuk tubuh manusia.

Ketergantungan masyarakat Indonesia pada pangan beras merupakan buah dari kebijakan pemerintah. Era Orde Baru pantas disebut.

Pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto, kebijakan swasembada pangan sangat menitikberatkan pada beras. Itulah sebabnya pangan lokal non-beras seperti sagu, jagung, dan ubi perlahan terabaikan dan digantikan oleh beras di seluruh wilayah Indonesia. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 1/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved