Editorial
Editorial: Ketika Beras Langka
Masyarakat di Desa Batnes, Kecamatan Musi, Kabupaten TTU yang berbatasan dengan Distrik Oecusse, Negara RDTL dihimpit krisis pangan.
Ringkasan Berita:
- Masyarakat di Desa Batnes, Kecamatan Musi, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) yang berbatasan langsung dengan Distrik Oecusse, Negara Republik Demokratik Timor Leste, kini tengah dihimpit krisis pangan.
- Khususnya beras. Sejak Januari hingga akhir Februari 2026 beras langka di sana. Harganya pun terus meroket hingga menembus angka Rp575.000 per karung isi 40 kg.
- Kelangkaan stok beras disinyalir menjadi pemicu utama melonjaknya harga di wilayah perbatasan kedua negara tersebut.
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Masyarakat di Desa Batnes, Kecamatan Musi, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) yang berbatasan langsung dengan Distrik Oecusse, Negara Republik Demokratik Timor Leste, kini tengah dihimpit krisis pangan.
Khususnya beras. Sejak Januari hingga akhir Februari 2026 beras langka di sana. Harganya pun terus meroket hingga menembus angka Rp575.000 per karung isi 40 kg.
Kelangkaan stok beras disinyalir menjadi pemicu utama melonjaknya harga di wilayah perbatasan kedua negara tersebut.
Seorang warga Desa Batnes, Yosep Suni mengatakan, pada bulan Januari 2026 harga beras merk Ambon ukuran 40 kilogram dijual Rp 540.000 per karung. Harganya meningkat pada akhir Januari 2026 menjadi Rp 550.000 per karung.
Memasuki akhir Februari 2026, mencapai Rp 575.000 per karung.
Nilai berita mungkin ini tidak seberapa. Kelangkaan stok beras pun terjadi di wilayah yang tidak begitu luas. Namun, efeknya boleh jadi tidak sederhana. Beras langka lazimnya merepotkan banyak keluarga mengingat beras merupakan bahan pangan utama.
Bagi sebagian besar penghuni Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), berlaku adagium ini: Belum makan kalau belum nasi.
Artinya sudah menjadi budaya masyarakat kita yang merasa seolah-olah kebutuhan karbohidratnya belum terpenuhi jika belum mengonsumsi nasi meskipun dia sudah makan sumber karbohidrat lain.
Sebut misalnya ubi, jagung, pisang dan sebagainya.
Akibatnya ketergantungan masyarakat terhadap sumber pangan berupa beras sangat tinggi. Berdasarkan data Susenas September 2022, sekitar 98,35 persen rumah tangga di Indonesia mengonsumsi beras dengan rata-rata konsumsi per kapita mencapai 6,6 kg per bulan.
Pada tahun 1954, proporsi beras dalam asupan karbohidrat masyarakat Indonesia hanya sekitar 53,5 persen. Angka itu melonjak drastis menjadi 81,1 persen pada akhir 1980-an.
Secara sosial makan nasi kerap dikaitkan dengan citra status sosial tertentu di masyarakat. Mereka yang makan nasi dipandang lebih baik statusnya ketimbang yang mengonsumsi jagung dan ubi. Padahal sama-sama sumber karbohidrat yang bermanfaat untuk tubuh manusia.
Ketergantungan masyarakat Indonesia pada pangan beras merupakan buah dari kebijakan pemerintah. Era Orde Baru pantas disebut.
Pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto, kebijakan swasembada pangan sangat menitikberatkan pada beras. Itulah sebabnya pangan lokal non-beras seperti sagu, jagung, dan ubi perlahan terabaikan dan digantikan oleh beras di seluruh wilayah Indonesia.
Orang Timor, Flores, Sumba, Alor yang makanan pokoknya adalah jagung dan ubi perlahan tapi pasti telah beralih ke beras. Maka Ketika harga beras bergejolak sedikit saja mereka menjerit dan mengeluh.
Ketergantungan tinggi pada satu jenis komoditas tidak baik bagi kedaulatan pangan masyarakat. Contohnya di Kabupaten TTU tersebut di atas. Beras langka dan harganya pun mahal.
Kita tak jemu mengingatkan tentang pentingnya usaha mengembalikan keberagaman pangan melalui gerakan diversifikasi untuk mengurangi beban konsumsi beras.
Pemerintah menargetkan penurunan konsumsi beras menjadi 85 kg per kapita per tahun. Jumlah tersebut masih jauh dari harapan.
Untuk konteks masyarakat Nusa Tenggara Timur, ayo kembali ke makanan warisan leluhur kita seperti jagung, ubi kayu, talas, dan sorgum yang banyak tersedia di berbagai daerah. Sejatinya kita bukan daerah penghasil beras! (*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/beras-di-gudang.jpg)