Kamis, 4 Juni 2026

Wartawan Tribun Melawat ke Australia

Surat Kabar dan Majalah di Negeri Kanguru Masih Eksis

Di Australia, surat kabar masih eksis. Koran maupun majalah mingguan masih dibaca konsumen. Jumlah lembar koran mash banyak.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
TRIBUNNEWS.COM/DOMU D. AMBARITA
DISKUSI - Diskusi mengenai tantangan pers di Hotel Westin, Melbourne, Jumat (22/5/2026). 

Delegasi kemudian dibawa berkeliling kantor, melihat proses produksi rumput laut, yang diimpor dari Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur. 

Michelle memperlihatkan mata rantai proses rumput laut, termasuk menyaksikan rumput laut kering warna kuning keemasan dalam bungkusan bal plastik. 

Hasil akhir produksinya, butiran-butiran kancing baju, frame atau bingkai kacamata 'yang bentuknya mirip dengan kacamata Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof Stella Christie. Michelle menekuk frame kacamata yang sangat elastis. Juga tampak lembaran kain, dan semacam bagian dari dashboard mobil.

Baca juga: Mahasiswa di Australia Cari Pacar yang Kutu Buku 

Dian Kurniawati menjelaskan, rumput laut ditanam petani/petambak yang biasa pelihara ikan bandeng, atau ikan bawal atau udang. Sembari bertambak, menanam rumput laut. 

"Masa panen rata-rata 45 hari. Selain mendapat hasil panen dari ikan atau udang, juga dapat panen rumput laut. Hasil sekali panen, kira-kira Rp 7 juta sampai Rp 8 juta," kata Dian. 

Uluu membeli rumput laut dalam standar kualitas tinggi dalam harga yang bagus. Menurutnya, Uluu menampung rata-rata 10 ton rumput lauat dari Indonesia. 

Perdagangan Indonesia-Ausralia

Terkait bilateral di bidang perdagangan, delegasi berbincang dengan Indonesianis Profesor Edward Buckingham. 

Ia guru besar manajemen Monash Business School, Melbourne, sekaligus Program Director untuk Master in Business Innovation (MBI) di Monash University Indonesia di BSD, Tangerang. 

Edward menjabat Chair Victoria Chapter Australia Indonesia Business Counsil (AIBC). Ia juga pengusaha.

Menurutnya, hubungan kedua negara saat ini berjalan sangat baik. Relasi bagus ini membuat perdagangan terjalin, baik oleh antarpemerintah, government to government, maupun swasta. 

Contoh, Presiden Prabowo menyetujui ekspor pupuk urea ke Australia. Sebaliknya, Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese mengirim LPG ke Indonesia. 

Pendapat senada disampaikan Professor L. Gordon Flake, pakar hubungan internasional, kebijakan luar negeri, dan geopolitik terkemuka di kawasan Indo-Pasifik. Gordon, warga Amerika, telah pindah ke Australia sejak 2014. Ia Chief Executive Officer (CEO) Perth USAsia Centre yang berbasis di The University of Western Australia (UWA), Perth. 

Gordon, mengatakan hubungan Indonesia dan Autralia sedang baik-baiknya. Ia mencontohkan di bidang perdagangan, terjadi kerja sama pemerintah ke pemerintah (government to government), ketika situasi perang di Timur Tengah sedang berkecamuk, dalam hal ini, Indonesia terdampak untuk memperoleh bahan bakar minyak dan gas bumi.  

"Hubungan diplomasi Australia dengan Indonesia saat ini big-deal. Sedang baik-baiknya," ujar Prof Gordon dalam perbincangan di kantor Perth USAsia Centre, sebuah lembaga pemikir (think tank) non-partisan yang bertempat di kampus The University of Western Australia.

Kebebasan Pers

Hari terakhir kegiatan degelasi, mengikuti acara dialog editor senior dari dua negara. Para peserta sharing megenai situasi dan kondisi industri pers di dua negara. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved