Sosok dan Profil
Sosok Sherly da Costa, Ilmuwan Muda Asal NTT yang Mendunia Layaknya 'Albert Einstein' di Jerman
Indonesia seringkali terjebak dalam romantisme masa lalu. Kita memuja almarhum BJ Habibie sebagai standar emas intelektualitas
Sains yang Menyelamatkan Nyawa
Apa yang ditawarkan Prof. Sherly bukan sekadar teori akademik yang mengawang-awang. Fokus risetnya adalah Resiliensi Bencana Berbasis Komunitas.
Ia menggabungkan teknologi tinggi seperti Participatory GIS (Geographic Information System) dengan kearifan lokal masyarakat adat Malaka yang matrilineal.
Di Malaka, NTT, banjir adalah tamu tahunan yang menghancurkan ekonomi warga. Prof. Sherly telah memetakan "Sembilan Aset Resiliensi"—sebuah model yang membuktikan bahwa masyarakat lokal memiliki daya tahan spiritual, budaya, dan sosial yang jika dikelola dengan sains modern, akan menghilangkan ketergantungan pada bantuan darurat pusat yang seringkali datang terlambat.
Sebuah Panggilan untuk Presiden
Presiden Prabowo Subianto dalam program Asta Cita menekankan kemandirian nasional dan penguatan sains.
Namun, visi ini akan menjadi retorika kosong jika pemerintah tetap membiarkan talenta seperti Prof. Sherly "dipinjam" selamanya oleh Jerman.
Kita harus bertanya secara kritis: Mengapa Jerman begitu antusias mendanai riset Prof. Sherly tentang tanah air kita sendiri, sementara kita hanya menonton dari jauh? Apakah kita menunggu negara lain mengklaim hak intelektual atas solusi bencana di tanah kita sebelum kita tersadar?.
Kesimpulan: Memulangkan "Habibie Baru"
Mengabaikan Prof. Sherly adalah kerugian nasional. Sudah saatnya pemerintah melakukan jemput bola.
Bukan sekadar undangan seremonial, melainkan integrasi nyata: jadikan beliau konsultan strategis nasional untuk manajemen bencana di wilayah tertinggal.
Baca juga: Profil Thomas Umbu Pati : Putera NTT yang Bekerja Dalam Diam Mengukir Prestasi Tingkat Nasional
Berikan ruang bagi metodologinya untuk diterapkan secara masif di NTT, dan akui statusnya sebagai Profesor termuda yang mengharumkan nama bangsa.
Jika kita terus mengabaikan mereka yang berprestasi di panggung dunia, jangan salahkan jika generasi muda terbaik kita memilih untuk berkarya bagi bendera lain.
Prof. Sherly adalah ujian bagi komitmen Indonesia terhadap sains. Apakah kita akan merangkulnya, atau membiarkannya tetap menjadi "orang asing" di negaranya sendiri?. Walahualam.(*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Sosok-Prof-Dr-rer-nat-Sherly-da-Costa-ilmuwan-muda-asal-NTT.jpg)