Sosok dan Profil
Sosok Sherly da Costa, Ilmuwan Muda Asal NTT yang Mendunia Layaknya 'Albert Einstein' di Jerman
Indonesia seringkali terjebak dalam romantisme masa lalu. Kita memuja almarhum BJ Habibie sebagai standar emas intelektualitas
POS-KUPANG.COM- Sosok pemilik nama lengkap, Apolonia Diana Sherly da Costa atau akrab disapa Sherly da Costa untuk negara asalnya Indonesia namanya nyaris tak terdengar.
Tapi untuk Negara Jerman, sosok Prof. Dr. rer. nat Sherly da Costa ilmuwan muda asal NTT ini sangat dikenal dengan hasil-hasil risetnya sungguh mencengangkan.
Ia layaknya seperti sang filsuf Albert Einstein yang sukses mengguncang panggung sains Eropa.
Prof. Dr. rer. nat. Apolonia Diana Sherly da Costa, Profesor Riset termuda Indonesia ini berhasil meraih gelar doktornya di usia muda dibawah 30 tahun di Universitas Elit Publik, salah satu Universitas Tertua di Jerman, Universitas Friedrich Schiller Jena, Bundes Thuringia, Jerman.
Baca juga: Sosok Joane Ndoloe, Generasi Milenial yang Harumkan Nama NTT di Level Nasional
Indonesia seringkali terjebak dalam romantisme masa lalu. Kita memuja almarhum BJ Habibie sebagai standar emas intelektualitas, namun di saat yang sama, kita seringkali "buta" terhadap kemunculan sosok-sosok serupa di era modern.
Salah satu ironi paling tajam saat ini adalah sosok Prof. Dr. rer. nat. Apolonia Diana Sherly da Costa (asal Baucau dan Kisar- Roma Maluku).
Lahir di tanah Timor Timur Distrik Baucau (eks pengungsi Timor Timur), dan besar di Kupang, Timor Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sherly da Costa bukan sekadar akademisi biasa.
Ia mencatatkan sejarah sebagai Profesor termuda asal Indonesia di Jerman. Sebuah pencapaian yang secara kronologis bahkan melampaui catatan waktu pendidikan sang teknokrat legendaris, Habibie.
Di usia yang belum menginjak kepala empat, ia telah menduduki posisi Guest Professor dan Collaborative Project Lead di University of Münster, salah satu institusi riset tertua dan paling bergengsi di Jerman.
Namun, di Jakarta, namanya nyaris tak terdengar. Di kantor-kantor kementerian yang sibuk merancang kebijakan bencana, risetnya yang berjudul "Building Resilience for Flood Disaster in Malaka-Timor" hanya menjadi tumpukan literatur di jurnal internasional seperti Springer Nature, alih-alih menjadi cetak biru penyelamatan nyawa warga di perbatasan Indonesia-Timor Leste.
Mengapa negara ini seolah "mengabaikan" mutiara hitam dari Timur ini?. Sebuah pertayaan retoris yang membutuhkan kepedulian dari penentu kebijakan di negara kepulauan ini.
Paradoks "Brain Drain" dan Ego Sektoral
Masalah utama yang dihadapi Prof. Sherly bukanlah kurangnya nasionalisme, melainkan dinding birokrasi yang tebal.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan kementerian terkait seringkali terjebak dalam ego sektoral yang hanya mengakui peneliti di dalam sistem mereka sendiri.
Baca juga: Sosok Mgr Paskalis Bruno Syukur OFM, Imam Fransiskan yang Mengundurkan dari Uskup
Sementara itu, ilmuwan diaspora sekaliber Sherly, yang memegang lebih dari 73 penghargaan internasional, dibiarkan berjuang sendirian di panggung global tanpa jembatan untuk pulang.
Sains yang Menyelamatkan Nyawa
Apa yang ditawarkan Prof. Sherly bukan sekadar teori akademik yang mengawang-awang. Fokus risetnya adalah Resiliensi Bencana Berbasis Komunitas.
Ia menggabungkan teknologi tinggi seperti Participatory GIS (Geographic Information System) dengan kearifan lokal masyarakat adat Malaka yang matrilineal.
Di Malaka, NTT, banjir adalah tamu tahunan yang menghancurkan ekonomi warga. Prof. Sherly telah memetakan "Sembilan Aset Resiliensi"—sebuah model yang membuktikan bahwa masyarakat lokal memiliki daya tahan spiritual, budaya, dan sosial yang jika dikelola dengan sains modern, akan menghilangkan ketergantungan pada bantuan darurat pusat yang seringkali datang terlambat.
Sebuah Panggilan untuk Presiden
Presiden Prabowo Subianto dalam program Asta Cita menekankan kemandirian nasional dan penguatan sains.
Namun, visi ini akan menjadi retorika kosong jika pemerintah tetap membiarkan talenta seperti Prof. Sherly "dipinjam" selamanya oleh Jerman.
Kita harus bertanya secara kritis: Mengapa Jerman begitu antusias mendanai riset Prof. Sherly tentang tanah air kita sendiri, sementara kita hanya menonton dari jauh? Apakah kita menunggu negara lain mengklaim hak intelektual atas solusi bencana di tanah kita sebelum kita tersadar?.
Kesimpulan: Memulangkan "Habibie Baru"
Mengabaikan Prof. Sherly adalah kerugian nasional. Sudah saatnya pemerintah melakukan jemput bola.
Bukan sekadar undangan seremonial, melainkan integrasi nyata: jadikan beliau konsultan strategis nasional untuk manajemen bencana di wilayah tertinggal.
Baca juga: Profil Thomas Umbu Pati : Putera NTT yang Bekerja Dalam Diam Mengukir Prestasi Tingkat Nasional
Berikan ruang bagi metodologinya untuk diterapkan secara masif di NTT, dan akui statusnya sebagai Profesor termuda yang mengharumkan nama bangsa.
Jika kita terus mengabaikan mereka yang berprestasi di panggung dunia, jangan salahkan jika generasi muda terbaik kita memilih untuk berkarya bagi bendera lain.
Prof. Sherly adalah ujian bagi komitmen Indonesia terhadap sains. Apakah kita akan merangkulnya, atau membiarkannya tetap menjadi "orang asing" di negaranya sendiri?. Walahualam.(*)
Ikuti Berita POS-KUPANG.COM lainnya di GOOGLE NEWS
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Sosok-Prof-Dr-rer-nat-Sherly-da-Costa-ilmuwan-muda-asal-NTT.jpg)