Opini
Opini: Bunuh Diri dan Keagungan Martabat Manusia
Santo Agustinus menilai bunuh diri sebagai tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Kehidupan manusia adalah karunia.
Ketika seseorang melakukan bunuh diri, ia tidak hanya mengakhiri hidupnya, tetapi juga merendahkan nilai luhur kemanusiaan yang melekat pada dirinya.
Tindakan tersebut mencerminkan penolakan terhadap martabat dirinya sebagai ciptaan Allah yang istimewa.
Dengan demikian, bunuh diri bukan hanya persoalan individual, melainkan juga persoalan moral dan spiritual. Tindakan ini menunjukkan terputusnya relasi manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesama, dan dengan Allah sebagai sumber kehidupan.
Kehidupan sebagai Anugerah yang Melampaui Persoalan
Pada 15 Mei 2026, paus Leo XIV menerbitkan ensiklik pertamanya dengan judul Magnifica Humanitas (Kemanusiaan yang Agung).
Pokok ensiklik ini adalah perlindungan terhadap martabat manusia di tengah gempuran AI (Artificial Intelligence). Ensiklik ini menitikberatkan pada perlindungan manusia, bahwa martabat manusia harus tetap menjadi pusat perhatian di tengah perkembangan yang terjadi sekarang ini.
Pada hakikatnya, tidak ada persoalan hidup yang sebanding dengan nilai keluhuran martabat manusia. Kemajuan dunia sekarang ini harus tetap menempatkan martabat manusia di atas segalanya.
Berbagai penderitaan, kegagalan, keterbatasan, ketidakberdayaan dan persoalan hidup lainnya merupakan bagian dari realitas eksistensial manusia sebagai ciptaan yang tidak sempurna.
Namun, ketidaksempurnaan tersebut justru menjadi ruang bagi manusia untuk terus bertumbuh dan menemukan makna hidupnya.
Søren Kierkegaard, filsuf dan teolog Denmark, menegaskan bahwa kehidupan memperoleh makna ketika manusia tetap beriman dan taat kepada Tuhan di tengah absurditas kehidupan.
Jika seseorang bertanggungjawab atas keyakinan yang dihayatinya di tengah tantangan yang dunia yang semakin meningkat, maka ia akan memperolah makna kehidupan. Sementara itu, Socrates menekankan pentingnya refleksi diri sebagai jalan menuju kehidupan yang bermakna.
Kehidupan yang tidak direfleksikan, menurutnya, adalah kehidupan yang kehilangan arah.
Pemikiran yang searah juga datang dari Alfred Adler yang menyatakan bahwa manusia harus mampu memberikan makna terhadap setiap situasi hidup yang dialaminya.
Dengan kata lain, manusia tidak boleh membiarkan penderitaan mendefinisikan hidupnya, melainkan harus berjuang menemukan makna di tengah penderitaan tersebut.
Dalam perjuangan itu, manusia tidak dapat hanya mengandalkan kekuatannya sendiri. Keterbatasan manusia menuntut adanya keterbukaan terhadap kekuatan transenden, yakni Allah.
Relasi dengan Allah menjadi sumber harapan dan kekuatan yang memungkinkan manusia tetap bertahan di tengah berbagai krisis kehidupan.
| Opini: Perjumpaan dengan Allah di Era Cyber Menurut Santo Yohanes dari Salib |
|
|---|
| Opini: Jadilah Manusia! |
|
|---|
| Opini - Rahmat Tanpa Tembok: Membaca Sakramen Tobat di Tengah Jalanan |
|
|---|
| Opini - Ketika Vatikan dan Dunia Buddha Turun ke Akar Rumput Asia |
|
|---|
| Opini - Penerapan Konsep Ekosipasi di NTT Perspektif Robertus Robet |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-kekerasan-pada-perempuan.jpg)