Opini
Opini: Bunuh Diri dan Keagungan Martabat Manusia
Santo Agustinus menilai bunuh diri sebagai tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Kehidupan manusia adalah karunia.
Manusia memang memiliki kebebasan dan kemampuan untuk mengembangkan dirinya, tetapi seluruh eksistensinya tetap bergantung pada Allah sebagai sumber kehidupan.
Karena manusia berasal dari Allah dan pada akhirnya kembali kepada Allah, maka manusia tidak memiliki otoritas mutlak atas hidupnya sendiri, termasuk menentukan akhir kehidupannya.
Kitab Ayub menegaskan keterbatasan manusia di hadapan Allah: “Karena Engkau telah menetapkan batas hidup manusia; jumlah hari dan bulannya ada di tangan-Mu” (Ayub 14:5).
Pernyataan ini menunjukkan bahwa kuasa atas hidup dan mati berada sepenuhnya dalam tangan Allah.
Pandangan serupa juga tampak dalam surat Rasul Paulus kepada jemaat di Kolose: “Karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu … segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia” (Kolose 1:16–17).
Dengan demikian, kehidupan manusia memiliki orientasi ilahi dan tidak dapat dipahami semata-mata sebagai milik pribadi.
Ketiadaan hak mutlak pada diri manusia untuk menentukan batas hidupnya menjadikan tindakan bunuh diri sebagai tindakan yang melanggar batasan hak manusia terhadap hidupnya.
Santo Agustinus menilai bunuh diri sebagai tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Kehidupan manusia adalah karunia sekaligus milik Allah; karena itu, tindakan mengakhiri hidup sendiri dipandang sebagai bentuk perampasan hak Allah atas kehidupan manusia.
Selain itu, tindakan bunuh diri juga dipahami sebagai pelanggaran terhadap perintah kelima dalam Sepuluh Perintah Allah, yaitu larangan untuk membunuh.
Dalam tradisi moral Kristen, tindakan bunuh diri dipandang sebagai pelanggaran serius terhadap kesucian hidup manusia dan kemahakuasaan Allah.
Bunuh Diri sebagai Pelecehan terhadap Martabat Manusia
Selain dipandang sebagai pelanggaran terhadap hak Allah, bunuh diri juga dapat dipahami sebagai tindakan yang merendahkan martabat manusia.
Dalam kisah penciptaan, manusia disebut sebagai satu-satunya ciptaan yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (imago Dei). Martabat manusia terletak pada kenyataan bahwa manusia mencerminkan kehadiran dan kemuliaan Allah dalam dirinya.
Rasul Paulus menegaskan hal ini dalam suratnya kepada jemaat di Korintus: “Tidakkah kamu tahu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu?” (1 Korintus 6:19).
Tubuh manusia, dengan demikian, tidak dapat dipahami sekadar sebagai objek biologis, melainkan sebagai ruang kehadiran ilahi. Kehidupan manusia memiliki nilai intrinsik yang luhur karena di dalam dirinya terdapat roh yang berasal dari Allah.
Kesadaran akan martabat manusia menempatkan kehidupan sebagai sesuatu yang sakral dan tidak dapat diperlakukan secara sewenang-wenang.
| Opini: Perjumpaan dengan Allah di Era Cyber Menurut Santo Yohanes dari Salib |
|
|---|
| Opini: Jadilah Manusia! |
|
|---|
| Opini - Rahmat Tanpa Tembok: Membaca Sakramen Tobat di Tengah Jalanan |
|
|---|
| Opini - Ketika Vatikan dan Dunia Buddha Turun ke Akar Rumput Asia |
|
|---|
| Opini - Penerapan Konsep Ekosipasi di NTT Perspektif Robertus Robet |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Ilustrasi-kekerasan-pada-perempuan.jpg)