Senin, 15 Juni 2026

Opini

Opini - Ketika Vatikan dan Dunia Buddha Turun ke Akar Rumput Asia

Pesan Vatikan dan dunia Buddha sesungguhnya merupakan undangan untuk membangun solidaritas yang lebih luas.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Paulino Ricardo R. Da Costa Soares, mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang 

Di sinilah dialog lintas agama menemukan makna terdalam. Dialog bukan hanya tentang saling mengenal ajaran satu sama lain, melainkan tentang menemukan nilai-nilai universal yang dapat menjadi dasar bagi kehidupan bersama.

Dalam konteks Asia, pesan ini memiliki relevansi yang sangat kuat. Asia merupakan rumah bagi berbagai agama, budaya, bahasa, dan tradisi yang berbeda-beda hal tersebut merupakan kekayaan yang luar biasa.

Namun pada saat yang sama, keragaman juga menuntut kedewasaan moral agar perbedaan tidak berubah menjadi sumber ketegangan sosial.

Karena itu, perdamaian di Asia tidak dapat dibangun hanya melalui kesepakatan politik, perdamaian harus tumbuh dari kesadaran masyarakat itu sendiri ia harus hidup dalam cara orang memandang sesamanya, dalam cara komunitas berinteraksi, serta dalam kemampuan berbagai kelompok untuk bekerja bersama demi tujuan kemanusiaan yang lebih besar.

Dalam perspektif inilah gagasan nirmiliterisme memperoleh makna yang jauh lebih luas daripada sekadar pengurangan persenjataan. Nirmiliterisme merupakan sebuah cara pandang tentang manusia dan dunia.

Pandangan ini mengajak manusia untuk melihat bahwa keamanan sejati tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kualitas kehidupan masyarakat. Sebuah masyarakat tidak akan sungguh-sungguh damai apabila masih banyak orang yang hidup dalam kemiskinan.

Perdamaian juga sulit bertahan ketika akses pendidikan tidak merata, ketika lingkungan hidup terus mengalami kerusakan, atau ketika kelompok-kelompok tertentu terus mengalami marginalisasi. Dengan kata lain, perdamaian tidak dapat dipisahkan dari keadilan sosial.

Kesadaran ini semakin penting pada masa sekarang ketika dunia menghadapi berbagai krisis yang saling berkaitan perubahan iklim, bencana ekologis, migrasi manusia, ketimpangan ekonomi, serta meningkatnya polarisasi sosial merupakan tantangan bersama yang tidak mengenal batas negara maupun agama. Tidak ada satu bangsa atau satu komunitas yang mampu menghadapi persoalan-persoalan tersebut sendirian.

Karena itu, pesan Vatikan dan dunia Buddha sesungguhnya merupakan undangan untuk membangun solidaritas yang lebih luas. Solidaritas yang dimaksud bukan sekadar rasa simpati, melainkan kesediaan untuk mengambil bagian dalam usaha bersama demi menjaga martabat kehidupan.

Solidaritas semacam ini lahir dari kesadaran bahwa nasib manusia saling terhubung satu sama lain. Di berbagai wilayah Asia, kesadaran tersebut mulai tampak melalui berbagai gerakan lintas iman yang bergerak di bidang kemanusiaan, pendidikan, kesehatan, dan lingkungan hidup.

Komunitas-komunitas keagamaan tidak lagi hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga menjadi ruang pelayanan sosial. Agama hadir bukan hanya sebagai identitas, melainkan sebagai sumber inspirasi untuk bertindak.

Fenomena ini menunjukkan bahwa agama memiliki potensi besar sebagai kekuatan transformasi sosial, dimana etika nilai-nilai spiritual diterjemahkan ke dalam tindakan nyata agama mampu menjadi energi moral yang menggerakkan masyarakat menuju kehidupan yang lebih manusiawi. 

Dalam konteks ini, dialog antaragama tidak berhenti pada percakapan, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang konkret. Yang menarik, transformasi tersebut justru banyak terjadi di tingkat akar rumput, yang terwujud di berbagai tempat yang masyarakatnya biasa membangun persahabatan lintas agama melalui kegiatan sosial, gotong royong, serta kepedulian terhadap sesama.

Mereka memperlihatkan bahwa perdamaian bukan sesuatu yang jauh dan abstrak, melainkan perdamaian hadir dalam tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan setiap hari.

Dari sini kita dapat memahami mengapa seruan Vatikan dan dunia Buddha memiliki nilai yang penting. Pesan tersebut tidak hanya berbicara kepada para pemimpin dunia, tetapi juga kepada masyarakat biasa.

Perdamaian dunia pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh keputusan-keputusan besar di tingkat internasional, tetapi juga oleh pilihan-pilihan kecil yang diambil setiap individu dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Ikuti opini dan berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/2
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 00:00 WIB
Germany
Jerman
7 - 1
Curacao
Curacao
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 03:00 WIB
Netherlands
Belanda
2 - 2
Japan
Jepang
Grup E - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ivory Coast
Pantai Gading
1 - 0
Ecuador
Ekuador
Grup F - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 09:00 WIB
Sweden
Swedia
VS
Tunisia
Tunisia
Grup H - Matchday 1
Senin, 15 Juni 2026 | 23:00 WIB
Spain
Spanyol
VS
Cape Verde
Tanjung Verde
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved