Opini
Opini: Raja Ludwig II dan Pelajaran Tentang Kekuasaan
Kekuasaan dibentuk, dibatasi, sekaligus diperkuat oleh relasi sosial yang menghubungkannya dengan masyarakat.
Identitas seseorang tidak pernah sepenuhnya berdiri sendiri, melainkan terbentuk melalui jaringan hubungan dengan orang lain.
Andai saja konsep ini diterapkan pada kekuasaan, maka seorang pemimpin tidak pernah benar-benar berkuasa sendirian.
Kekuasaannya dibentuk, dibatasi, sekaligus diperkuat oleh relasi sosial yang menghubungkannya dengan masyarakat.
Ketika relasi-relasi tersebut melemah atau digantikan oleh kelompok kecil yang homogen, yang kadang malah posesif dan obsesif, kemampuan untuk memahami realitas juga ikut menyempit.
Karena itu, kebijakan yang bermasalah pun dapat terus memperoleh dukungan ketika dibungkus dalam narasi yang kuat, meski sebenarnya semu. Refleksi inilah yang membuat kisah Ludwig II tetap relevan hingga hari ini.
Ruang koreksi demokrasi
Dalam konteks Indonesia, persoalannya bukan apakah para pemimpin kita rasional atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah sistem politik kita masih menyediakan ruang koreksi yang cukup kuat.
Apakah kritik masih memiliki tempat yang bermakna? Apakah para pengambil keputusan masih terhubung dengan pengalaman hidup masyarakat yang mereka wakili?
Ataukah hubungan itu semakin banyak dimediasi oleh citra, simbol, survei, dan narasi yang diproduksi dari atas?
Demokrasi pada akhirnya tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cakap. Ia membutuhkan ruang publik yang sehat, institusi yang berfungsi, dan masyarakat yang mampu untuk tetap peka dan kritis pada kenyataan yang mereka hadapi bersama.
Sebab ketika kekuasaan kehilangan dimensi relasionalnya, ketika kritik dianggap gangguan, dan ketika simbol menggantikan pengalaman nyata, yang terancam bukan hanya kualitas kebijakan.
Yang terancam adalah kesepahaman dasar tentang realitas itu sendiri, sebagai fondasi yang membuat kehidupan bersama tetap mungkin.
Takdir sunyi
Akhir hidup Ludwig II hingga kini tetap menyisakan misteri. Pada Juni 1886, beliau didiagnosa mengalami penyakit mental serius.
Namun penelitian sejarah yang lebih baru bahkan berpendapat bahwa penilaian psikiatris tersebut bermasalah baik secara prosedural maupun substansial, dan bahwa kalangan berkuasa menggunakan otoritas psikiatri untuk mencapai tujuan politik mereka.
Dengan kata lain, jika Ludwig memang memiliki masalah psikologis atau perilaku yang serius, kondisi itu kemungkinan bukan satu-satunya alasan kejatuhannya.
Utang besar, konflik dengan pemerintah, dan ketidakmampuannya bekerja sama dengan elite politik Bavaria juga memainkan peran penting.
Vincent Adi GM
Raja Ludwig II
Istana Raja Ludwig of Bavaria di Munchen
Bavaria
mabuk kekuasaan
Kekuasaan
penyalahgunaan kekuasaan
Opini Pos Kupang
Anthropos Institut Jerman
| Opini - Ketika Allah Menjadi Dalit: Menemukan Sang Ilahi dalam Jeritan Kaum Tertindas |
|
|---|
| Opini - Nilai Sinodalitas dan Ekspresi Iman Kristiani dalam Tradisi Tuku Badut Desa Silawan Belu |
|
|---|
| Opini - Eklesiologi Kontekstual dalam Media dan Realitas: Tantangan atau Peluang |
|
|---|
| Opini: Mengurai Benang Kusut Dilema Penerimaan Mahasiswa Baru |
|
|---|
| Opini - Tinjauan Teologi Kontekstual Terhadap Human Trafficking di NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Vincent-Adi-GM-03.jpg)