Sabtu, 13 Juni 2026

Opini

Opini: Raja Ludwig II dan Pelajaran Tentang Kekuasaan

Kekuasaan dibentuk, dibatasi, sekaligus diperkuat oleh relasi sosial yang menghubungkannya dengan masyarakat. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI VINCENT ADI G. MEKA
Vincent Adi GM 

Identitas seseorang tidak pernah sepenuhnya berdiri sendiri, melainkan terbentuk melalui jaringan hubungan dengan orang lain. 

Andai saja konsep ini diterapkan pada kekuasaan, maka seorang pemimpin tidak pernah benar-benar berkuasa sendirian. 

Kekuasaannya dibentuk, dibatasi, sekaligus diperkuat oleh relasi sosial yang menghubungkannya dengan masyarakat. 

Ketika relasi-relasi tersebut melemah atau digantikan oleh kelompok kecil yang homogen, yang kadang malah posesif dan obsesif, kemampuan untuk memahami realitas juga ikut menyempit.  

Karena itu, kebijakan yang bermasalah pun dapat terus memperoleh dukungan ketika dibungkus dalam narasi yang kuat, meski sebenarnya semu. Refleksi inilah yang membuat kisah Ludwig II tetap relevan hingga hari ini.

Ruang koreksi demokrasi

Dalam konteks Indonesia, persoalannya bukan apakah para pemimpin kita rasional atau tidak. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah sistem politik kita masih menyediakan ruang koreksi yang cukup kuat. 

Apakah kritik masih memiliki tempat yang bermakna? Apakah para pengambil keputusan masih terhubung dengan pengalaman hidup masyarakat yang mereka wakili? 

Ataukah hubungan itu semakin banyak dimediasi oleh citra, simbol, survei, dan narasi yang diproduksi dari atas?

Demokrasi pada akhirnya tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cakap. Ia membutuhkan ruang publik yang sehat, institusi yang berfungsi, dan masyarakat yang mampu untuk tetap peka dan kritis pada kenyataan yang mereka hadapi bersama. 

Sebab ketika kekuasaan kehilangan dimensi relasionalnya, ketika kritik dianggap gangguan, dan ketika simbol menggantikan pengalaman nyata, yang terancam bukan hanya kualitas kebijakan. 

Yang terancam adalah kesepahaman dasar tentang realitas itu sendiri, sebagai fondasi yang membuat kehidupan bersama tetap mungkin.

Takdir sunyi

Akhir hidup Ludwig II hingga kini tetap menyisakan misteri. Pada Juni 1886, beliau didiagnosa mengalami penyakit mental serius. 

Namun penelitian sejarah yang lebih baru bahkan berpendapat bahwa penilaian psikiatris tersebut bermasalah baik secara prosedural maupun substansial, dan bahwa kalangan berkuasa menggunakan otoritas psikiatri untuk mencapai tujuan politik mereka. 

Dengan kata lain, jika Ludwig memang memiliki masalah psikologis atau perilaku yang serius, kondisi itu kemungkinan bukan satu-satunya alasan kejatuhannya. 

Utang besar, konflik dengan pemerintah, dan ketidakmampuannya bekerja sama dengan elite politik Bavaria juga memainkan peran penting. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved