Sabtu, 13 Juni 2026

Opini

Opini - Ketika Allah Menjadi Dalit: Menemukan Sang Ilahi dalam Jeritan Kaum Tertindas

Teologi Dalit mengingatkan bahwa Allah tidak dapat dipisahkan dari perjuangan kemanusiaan.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Syrrilus Derry Mano, mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang. 

Opini - Ketika Allah Menjadi Dalit: Menemukan Sang Ilahi dalam Jeritan Kaum Tertindas

Oleh: Syrrilus Derry Mano
Mahasiswa Fakultas Filsafat Unwira Kupang

POS-KUPANG.COM - Selama ini banyak orang membayangkan Allah sebagai sosok yang agung, berkuasa, dan dekat dengan mereka yang berada di puncak kehidupan.

Allah sering dipersepsikan hadir dalam kemegahan gedung-gedung ibadah, dalam keberhasilan ekonomi, atau dalam simbol-simbol kekuasaan yang mengesankan.

Tanpa disadari, cara pandang seperti ini dapat menjauhkan Allah dari realitas kehidupan mereka yang miskin, tertindas, dan tersingkir dari arus utama masyarakat.

Di tengah situasi tersebut, Teologi Dalit hadir sebagai sebuah suara profetis yang menggugat cara kita memahami Allah. Berangkat dari pengalaman kaum Dalit di India kelompok yang selama berabad-abad mengalami diskriminasi dan penindasan akibat sistem kasta teologi ini mengajak kita melihat Allah dari perspektif mereka yang berada di pinggiran sejarah.

Teologi Dalit tidak berbicara tentang Allah dari ruang-ruang akademik yang nyaman, melainkan dari luka, air mata, dan perjuangan hidup kaum tertindas.

Bagi kaum Dalit, pertanyaan tentang Allah bukanlah persoalan abstrak. Mereka bertanya: di manakah Allah ketika manusia diperlakukan tidak manusiawi? Di manakah Allah ketika martabat seseorang diinjak-injak hanya karena kelahirannya?

Pertanyaan-pertanyaan ini melahirkan sebuah kesadaran teologis bahwa Allah yang sejati bukanlah Allah yang diam menyaksikan penderitaan manusia.

Sebaliknya, Allah hadir di tengah mereka yang terluka dan berjuang bersama mereka yang ditindas.

Dalam terang iman Kristen, pengalaman itu menemukan maknanya dalam diri Yesus Kristus. Yesus tidak lahir di istana, tidak dibesarkan dalam lingkungan elite agama maupun politik.

Ia lahir dalam kesederhanaan, hidup di tengah rakyat kecil, dan menghabiskan pelayanan-Nya bersama orang-orang yang dipinggirkan oleh masyarakat.

Ia menyentuh orang kusta yang dijauhi, menerima pemungut cukai yang dibenci, dan memulihkan martabat perempuan yang direndahkan.

Kehidupan-Nya menunjukkan bahwa Allah memilih hadir di antara mereka yang dianggap tidak berharga oleh dunia. Puncak solidaritas Allah dengan manusia tampak dalam peristiwa salib.

Salib bukan sekadar simbol penderitaan, melainkan simbol keberpihakan Allah kepada korban ketidakadilan. Yesus mengalami penghinaan, penolakan, dan kekerasan yang biasa dialami oleh kelompok-kelompok tertindas.

Karena itu, bagi Teologi Dalit, Yesus dapat dipahami sebagai "Dalit" yang tersalib Dia yang ikut merasakan penderitaan mereka yang selama ini disingkirkan oleh sistem sosial yang tidak adil.

Pemahaman ini menjadi kritik keras terhadap berbagai bentuk teologi yang hanya menekankan kemakmuran, keberhasilan, dan kenyamanan hidup.

Tidak jarang orang menganggap bahwa kekayaan adalah tanda berkat Allah, sementara kemiskinan dipandang sebagai akibat kegagalan pribadi.

Cara berpikir seperti ini dapat membuat kita kehilangan kepekaan terhadap ketidakadilan struktural yang menjerat banyak orang. Akibatnya, agama lebih sering menjadi alat pembenaran daripada sarana pembebasan.

Teologi Dalit mengingatkan bahwa Allah tidak dapat dipisahkan dari perjuangan kemanusiaan. Allah tidak hanya bekerja dalam doa-doa dan ritual keagamaan, tetapi juga hadir dalam upaya membela mereka yang hak-haknya dirampas.

Allah ditemukan dalam perjuangan masyarakat adat yang mempertahankan tanahnya, dalam suara buruh yang menuntut keadilan, dan dalam jeritan mereka yang mengalami diskriminasi karena identitas maupun status sosialnya.

Oleh karena itu, gereja dan umat beriman dipanggil untuk tidak sekadar berbicara tentang kasih Allah, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata. Iman yang sejati tidak boleh membuat manusia pasrah terhadap penindasan.

Sebaliknya, iman harus menjadi kekuatan yang mendorong keberanian untuk berdiri bersama mereka yang lemah, memperjuangkan keadilan, dan memulihkan martabat sesama.

Pada akhirnya, Teologi Dalit mengajarkan bahwa wajah Allah tidak selalu ditemukan dalam kemegahan dan kekuasaan. Wajah Allah justru tampak dalam diri mereka yang terluka, tersingkir, dan terus berjuang mempertahankan kemanusiaannya.

Ketika kita berani mendengar jeritan kaum tertindas dan berjalan bersama mereka, saat itulah kita mulai memahami siapa Allah yang sesungguhnya: Allah yang tidak tinggal diam terhadap penderitaan manusia, melainkan Allah yang hadir, menderita, dan membebaskan. Sebab menemukan wajah Allah berarti menemukan-Nya di tempat di mana martabat manusia sedang diperjuangkan. (*)

Ikuti opini dan berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
VS
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved