Jumat, 12 Juni 2026

Opini

Opini: Kambing Hitam dalam Dunia Pendidikan

Apakah pendidikan masa depan masih membutuhkan metode pengajaran tradisional?

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI PETRUS MALI
Petrus Mali 

Oleh : Petrus Mali
Mahasiswa S2 Psikologi Pendidikan Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang.

POS-KUPANG.COM - Di tengah pesatnya kemajuan teknologi dan meluasnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) di berbagai bidang, dunia pendidikan pun tak luput dari arus perubahan ini. 

Berbagai kemudahan ditawarkan: akses informasi tanpa batas, pembelajaran jarak jauh, hingga bantuan cerdas dalam menyelesaikan tugas.

Namun, di balik kemudahan itu, muncul satu pertanyaan besar yang terus diperdebatkan: Apakah kehadiran teknologi dan AI perlahan akan menggantikan cara berpikir manusia? 

Apakah pendidikan kita sedang diarahkan pada pola serba instan yang perlahan-lahan menghapus peran akal, rasa, dan nilai dalam diri manusia?

Di satu sisi, muncul anggapan bahwa metode pengajaran konvensional atau tradisional sudah ketinggalan zaman. 

Baca juga: Opini: Wajah Buram Keuangan Daerah

Cara mengajar yang berpusat pada guru, pembacaan buku pelajaran, dan interaksi langsung dianggap kuno, kaku, dan tidak lagi relevan dengan kebutuhan zaman. 

Tak jarang, cara ini dijadikan “kambing hitam” atas berbagai masalah pendidikan, mulai dari rendahnya minat belajar hingga kualitas sumber daya manusia, dengan cara berpikir dan refleksi  yang dangkal alias kurang menyentuh hati dan realita. 

Di sisi lain, ada juga yang menuding bahwa kemajuan teknologilah yang menjadi biang keladi, karena dikhawatirkan membuat peserta didik malas berpikir dan hanya terbiasa menerima informasi jadi.

Peran Metode Pengajaran Tradisional

Pertanyaan kemudian : Apakah pendidikan masa depan masih membutuhkan metode pengajaran tradisional?

Metode tradisional memang memiliki sisi kekurangan. Jika diterapkan secara kaku, ia bisa membosankan, membuat siswa pasif, dan terjebak pada pola satu arah. 

Namun, di balik kekurangan itu, terdapat nilai fundamental yang tak tergantikan. 

Pendidikan melalui interaksi langsung, pembiasaan, dan pengalaman nyata adalah cara paling efektif untuk menanamkan nilai Moral, Etika, Toleransi, dan pemahaman tentang kehidupan bermasyarakat. 

Melalui metode ini, peserta didik belajar mengenal alam, memahami lingkungan, dan membangun ingatan jangka Panjang yang melekat dalam perilaku.

Pendidikan sejati bukan sekadar soal mentransfer data atau informasi, melainkan proses pembentukan karakter, ketahanan diri, dan pemahaman mendalam tentang makna hidup. 

Hal–hal inilah yang tidak bisa ditiru sepenuhnya oleh kemajuan teknologi apa pun.

Posisi Teknologi dan AI dalam Pendidikan 

Lalu, bagaimana kita mendapatkan posisi teknologi dan AI dalam Pendidikan? Tidak dapat dipungkiri, kehadirannya membawa dampak besar. 

Teknologi mempermudah akses pengetahuan, membuka wawasan global, dan menjadi sarana pendukung yang sangat berharga. 

Namun, kita juga harus jujur mengakui realitas di lapangan: tidak semua daerah memiliki akses yang merata, tidak semua pendidik memiliki kemampuan yang memadai, dan Risiko terbesar adalah lahirnya generasi yang hanya mengejar hasil instan tanpa mau memahami proses berpikir di baliknya.

Perbedaan mendasar antara kedua pendekatan ini sangat nyata. Metode tradisional berfokus pada pembentukan nilai, pembangunan karakter, dan hubungan manusia dengan lingkungan nyata. 

Sementara AI dan teknologi hanyalah alat canggih yang mampu memproses data dan meniru pola pikir, namun beropersi di dunia maya atau simulasi, tanpa memiliki perasaan, hati nurani,  komunikasi langsung, atau pengalaman hidup.

Pandangan ini sangat sejalan dengan teori psikososial dari Erik Erikson. 

Menurutnya, manusia sejak lahir memiliki naluri kuat untuk membangun pengetahuan dan kepribadiaanya melalui interaksi langsung dengan dunia sekitar. 

Manusia tidak dibesarkan dalam bayang-bayang atau dunia maya, kematangan jiwa dan kecerdasan seseorang dibentuk oleh lingkungan yang riil, hubungan antarmanusia, dan pengalaman nyata yang dialami. 

Pengetahuan sejati tumbuh dari kenyataan, bukan dari sekadar informasi yang tercetak di layar.

Keseimbangan yang Ideal

Maka, tidak perlu saling menyalahkan atau menjadikan salah satu pihak sebagai kambing hitam. 

Teknologi dan metode tradisional tidak berada di posisi saling mengganti, melainkan saling melengkapi. 

Kecerdasan Buatan (AI) adalah alat bantu yang sangat berguna untuk memperkaya wawasan dan efisiensi. 

Namun, fondasi pendidik yang bertujuan membuat manusia yang berakhlak, berkarakter, dan bijaksana tetap harus berpijak pada interaksi nyata dan nilai-nilai kehidupan diwariskan secara turun temurun.

Kemajuan teknologi boleh melesat secepat cahaya, tetapi pendidikan sejati akan tetap berjalan seirama dengan irama tumbuh kembang manusia: perlahan, penuh kasih, dan berakar pada kenyataan. (*)

Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved