Opini
Opini: Refleksi Etika Ekologi- Mengapa Manusia Harus Bertanggungjawab pada Alam?
Kehidupan memiliki kecenderungan bawaan untuk mempertahankan keberadaannya melawan ketiadaan atau kematian.
Oleh: Christian Charlie Muda
Mahasiswa Fakultas Filsafat UNWIRA Kupang, Nusa Tenggara Timur.
POS-KUPANG.COM - Belakangan ini perbincangan mengenai krisis lingkungan global tidak lagi sekadar menjadi konsumsi eksklusif para saintis di laboratorium atau aktivis di ruang-ruang demonstrasi.
Bagi masyarakat luas kecemasan ekologis (eco-anxiety) telah transformasi menjadi realitas keseharian yang mencemaskan.
Setiap kali membuka gawai, linimasa media digital selalu dipenuhi oleh tajuk utama mengenai anomali cuaca ekstrem, kegagalan panen masif, hingga bencana hidrometeorologi yang kian intens.
Fenomena tersebut di atas memicu sebuah pertanyaan eksistensial yang menggugat, di manakah posisi moral manusia di tengah alam yang kian rapuh ini?
Di dalam ruang lingkup masyarakat, kita sering kali dididik untuk memandang krisis lingkungan dari kacamata yang sangat reduksionis.
Baca juga: Opini: Air, Stunting, dan Rintihan Ekologi NTT
Isu ekologi kerap didefinisikan secara mekanistis sebagai masalah kegagalan pasar, ketidakbakuan regulasi politik, atau keterbatasan infrastruktur teknologi hijau.
Namun, jika kita bersedia menelisik lebih dalam secara radikal, semua problem ekologis tersebut hanyalah gejala permukaan (symptoms).
Akar masalah yang sesungguhnya terletak pada dimensi yang jauh lebih fundamental, yakni krisis ontologis dan degradasi moral manusia modern terhadap alam semesta.
Guna membedah kebuntuan ini, pemikiran filosofis Hans Jonas mengenai kosmologi teleologis dan " etika tanggung jawab" (The Imperative of Responsibility) menemukan momentum relevansinya yang paling krusial untuk dihadirkan kembali ke permukaan.
Secara historis, modernitas barat yang diwarisi oleh masyarakat global hari ini dibangun di atas fondasi dualisme Cartesian dan mekanisisme Newtonian.
Cara pandang ini mereduksi kosmos atau alam semesta yang luas menjadi sekadar objek netral, material mati, atau "mesin raksasa" tanpa nyawa.
Implikasinya, komponen-komponen alam bebas dibongkar, dieksploitasi, dan dikomodifikasi demi memuaskan hasrat konsumerisme umat manusia.
Hans Jonas secara rigid menolak devaluasi ontologis tersebut. Melalui pendekatan filsafat organisme, Jonas berargumen bahwa kosmos sejak awal perkembangannya merupakan sebuah entitas yang hidup dan memiliki tujuan intrinsik (teleology).
Ketika alam berevolusi hingga mampu melahirkan bentuk kehidupan, bahkan yang paling elementer sekalipun seperti organisme bersel satu, alam sejatinya sedang mengafirmasi sebuah nilai dalam dirinya sendiri (inherent value).
Kehidupan memiliki kecenderungan bawaan untuk mempertahankan keberadaannya melawan ketiadaan atau kematian.
Oleh sebab itu, alam semesta bukanlah ruang hampa yang pasif dan bebas nilai, melainkan sebuah struktur kosmis yang berharga pada dirinya sendiri (Good-in-itself), terlepas dari ada atau tidaknya utilitas bagi manusia.
Ironisnya, memasuki dekade ketiga abad ke-21, keserakahan manusia yang bercorak antroposentris ini telah dipersenjatai oleh lompatan teknologi yang bersifat eksponensial.
Manusia kini memiliki kapasitas destruktif yang setara dengan kekuatan geologis bumi, sebuah era yang secara ilmiah kini jamak disebut sebagai epos Antroposen.
Kita dapat mengonfirmasi tesis Jonas ini melalui data empiris hari ini. Berdasarkan laporan terkini dari World Meteorological Organization (WMO) dan Copernicus Climate Change Service, suhu global terus memecahkan rekor tertinggi, memicu pelelehan es kutub pada laju yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di ranah domestik, data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menunjukkan laju deforestasi serta kerusakan daerah aliran sungai yang linier dengan peningkatan frekuensi banjir bandang dan tanah longsor di berbagai wilayah Indonesia.
Tidak hanya itu, polusi mikroplastik kini telah mengontaminasi palung laut terdalam hingga masuk ke dalam jaringan plasenta manusia.
Selain itu, kerusakan alam yang signifikan juga sering kita saksikan di Nusa Tenggara Timur ( NTT). Contoh beberapa wilayah di Pulau Timor, terjadi begitu banyak kerusakan yang ditimbulkan oleh banjir.
Fakta saintifik ini membuktikan kekhawatiran terbesar Jonas bagi kita: bahwa kekuatan teknologi modern berpotensi menciptakan kerusakan permanen yang tidak dapat dipulihkan (irreversible) pada sistem penopang kehidupan kosmos.
Dalam mahakaryanya yang bertajuk The Imperative of Responsibility, Jonas memperingatkan bahwa kerangka etika tradisional peninggalan masa lalu, baik yang berbasis keutamaan, deontologi, maupun utilitarianisme, telah mengalami kelumpuhan total menghadapi realitas Antroposen.
Argumen ini sangat masuk akal karena etika-etika terdahulu hanya beroperasi pada skala jangka pendek (short-term) dan bersifat antroposentris lokal.
Etika lama hanya mengatur bagaimana manusia bersikap adil terhadap sesamanya di masa sekarang, tanpa pernah mengantisipasi dampak kumulatif dari limbah industri yang dibuang ke ekosistem laut atau emisi karbon yang dilepaskan ke atmosfer terhadap generasi masa depan.
Sains modern memberikan kita kekuatan kosmis, namun sayangnya tidak dibarengi dengan kebijaksanaan kosmis.
Guna mengisi kekosongan moral tersebut, Jonas merumuskan sebuah imperatif kategoris baru yang bersifat visioner: "Bertindaklah sedemikian rupa sehingga dampak tindakanmu tidak menghancurkan kemungkinan adanya kehidupan manusia di masa depan."
Melalui diktum ini, Jonas menegaskan kepada kita bahwa merawat kosmos dan ekosistem bumi bukan lagi sebuah pilihan moral yang opsional atau sekadar aksi filantropi dari kelompok aktivis lingkungan.
Ini adalah kewajiban ontologis mutlak yang mengikat setiap subjek rasional. Kita yang hidup di era kontemporer memikul utang eksistensial terhadap generasi yang belum lahir.
Mengeksploitasi sumber daya kosmis secara ugal-ugalan demi pertumbuhan ekonomi jangka pendek adalah bentuk kejahatan moral antargenerasi, karena kita secara sadar mewariskan bumi yang rusak dan tidak layak huni bagi anak-cucu kita kelak.
Refleksi etika ekologi Hans Jonas ini menghentak kesadaran kita untuk segera melakukan dekonstruksi cara pandang.
Kita tidak boleh lagi menjadi penonton pasif di tengah arus perusakan alam yang dilegitimasi atas nama pembangunan. Alam bukanlah "mesin uang" yang dapat terus-menerus diperas tanpa batas penat.
Krisis iklim dan degradasi lingkungan yang terjadi hari ini merupakan alarm kosmis yang menyalak keras bagi kita, menandakan bahwa manusia telah gagal menjalankan perannya sebagai agen moral yang bertanggung jawab.
Kesimpulannya, memulihkan hubungan manusia dengan alam mengharuskan kita untuk mengintegrasikan kembali kosmologi ke dalam sistem etika kita.
Kita wajib bertransisi dari paradigma antroposentrisme yang egois menuju ekosentrisme yang bertanggung jawab.
Jika kita menolak untuk berubah dan tetap melanggengkan kebiasaan eksploitatif ini, kita tidak hanya sedang menghancurkan keanekaragaman hayati dan stabilitas ekosistem bumi.
Lebih dari itu kita sedang secara perlahan menulis surat eliminasi bagi masa depan peradaban kemanusiaan itu sendiri.
Sudah saatnya kita bertindak dengan kesadaran kosmis: merawat alam semesta hari ini, demi menjamin denyut nadi kehidupan esok hari bagi kita dan generasi setelah kita. (*)
Simak terus berita dan artikel opini POS-KUPANG.COM di Google News
Christian Charlie Muda
Opini Pos Kupang
merawat bumi
Hans Jonas
Waspada Bencana Banjir dan Longsor
Meaningful
NTT
Nusa Tenggara Timur
| Opini - Tuhan Dalam Layar |
|
|---|
| Opini - Teologi Dalit di Tengah Revolusi AI: Martabat Kaum Tersisi dalam Perkembagan Era Digital |
|
|---|
| Opini - Membangun Generasi, Merawat Ibu dan Alam: Kajian Eko-feminisme Rosemary Ruether |
|
|---|
| Opini: Air, Stunting, dan Rintihan Ekologi NTT |
|
|---|
| Opini: Generasi Cepat Bosan dan Matinya Kedalaman Berpikir |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Christian-Charlie-Muda.jpg)