Breaking News
Senin, 8 Juni 2026

Opini

Opini: Subuh, Altar, dan Rahasia Kehidupan Seminari

Di seminari yang dikejar bukanlah piala prestasi, melainkan piala Ekaristi. Yang dicari bukanlah seragam dinas, melainkan busana rohani. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM
Tevin Lory 

Memang tidak bisa dimungkiri, rahim seminari ini pun telah melahirkan begitu banyak alumni yang tapak kakinya sukses menjejak di luar sana. 

Banyak yang berhasil menduduki posisi strategis, diakui publik, dan mewarnai panggung dunia dengan berbagai pencapaian gemilang. 

Namun, di balik semua kontribusi nyata itu, seminari ini menawarkan cara pandang yang jauh lebih dalam. 

Visi akhirnya tidak pernah diukur dari seberapa tinggi seseorang mampu berdiri di atas panggung dunia, tetapi dari seberapa dalam ia bersedia membungkuk dan bersujud di hadapan altar. 

Di tempat ini terjadi sebuah transformasi cara pandang, yaitu dari yang bersifat temporal-horizontal menuju yang bersifat kekal-vertikal. 

Ada transformasi dari keinginan meraih kesuksesan menuju keberanian untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Kristus. 

Kontras radikal inilah yang mengajak kita untuk merenung kembali: Di manakah sejatinya letak keberhasilan sebuah proses formatio (pembentukan diri)?

Karena itu, di seminari ini, yang dikejar bukanlah piala prestasi, melainkan piala Ekaristi. Yang dicari bukanlah seragam dinas, melainkan busana rohani. 

Yang dituju bukanlah mimbar retorika, melainkan mimbar sabda. Yang diusahakan bukanlah keharuman nama sekolah, melainkan keharuman nama Kristus.

Sebuah Catatan Pulang

Kini, ketika masa dua tahun itu telah genap, saya menyadari bahwa Mataloko tidak pernah benar-benar ditinggalkan. 

Bunyi lonceng subuhnya akan tetap bergema dalam ingatan, dingin kabutnya akan selalu dirindukan, dan formasi rohani di depan altarnya telah terpahat permanen dalam jiwa. 

Terima kasih, Mataloko. Terima kasih untuk para seminaris yang mengajari saya arti ketulusan, dan para imam pembina yang menunjukkan arti kesetiaan. 

Di tanah Ngada ini, saya tidak hanya belajar bagaimana cara membina orang lain, tetapi yang terutama, saya telah dibina oleh kehidupan itu sendiri. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 4/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved