Breaking News
Senin, 8 Juni 2026

Opini

Opini: Subuh, Altar, dan Rahasia Kehidupan Seminari

Di seminari yang dikejar bukanlah piala prestasi, melainkan piala Ekaristi. Yang dicari bukanlah seragam dinas, melainkan busana rohani. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM
Tevin Lory 

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa seperti pisau yang menikam sistem pendidikan. 

Tanpa disadari, dunia pendidikan sering jatuh pada kebiasaan merawat yang sudah bersinar, sementara yang redup dibiarkan perlahan tenggelam dalam bayang-bayang. 

Sekolah kadang terlalu sibuk mengejar piala, hingga lupa bahwa di sudut-sudut kelas masih ada banyak anak yang sungguh butuh didampingi.

Berkenaan dengan ini, Freire menolak "konsep bank" dalam pendidikan (Banking Concept of Education). Menurutnya sekolah hanya berinvestasi pada murid-murid tertentu yang dianggap menguntungkan secara reputasi. 

Ketika sekolah hanya berfokus pada siswa-siswa genius untuk mengejar piala dan reputasi lembaga, sekolah sedang melanggengkan ketidakadilan struktural dan menciptakan "tembok kebodohan" bagi mayoritas siswa lainnya. 

Pendidikan sejati, baginya, bukanlah soal siapa yang paling cepat mencapai podium, melainkan siapa yang paling sungguh dibantu untuk bertumbuh sebagai manusia (Paulo Freire, Pedagogy of the Oppressed, 1970).

Kritik Romo Alex ditanggapi secara serius. Waktu itu, semua bersepakat untuk membuat program perlombaan internal bagi siswa yang tidak ikut Hardiknas. 

Seminari tidak mau membiarkan siapa pun merasa menjadi “murid kelas dua”. Semua diberi ruang untuk berkembang, untuk mencoba, untuk gagal, dan untuk menemukan kemampuan dirinya sendiri.

Seminari menolak segala bentuk kasta intelektual. Semua siswa dirangkul dalam rahim yang sama. 

Bukan hanya mengangkat mereka yang sudah tinggi, melainkan juga merangkul mereka yang belum sempat berdiri tegak. 

Kecerdasan bukanlah hak istimewa segelintir orang, melainkan cahaya yang harus dinyalakan dalam diri setiap manusia. 

Sekolah yang besar bukanlah sekolah yang hanya melahirkan para juara, melainkan sekolah yang tidak tega membiarkan satu pun anak merasa bodoh dan tertinggal.

Piala Prestasi atau Piala Ekaristi?

Dunia hari ini cenderung menilai keberhasilan melalui ukuran-ukuran yang kasatmata. 

Sebuah lembaga pendidikan sering kali dihargai dari banyaknya piala yang dipajang, angka-angka prestasi yang dicetak, serta status sosial yang berhasil diraih para alumninya. 

Segalanya dibuat terukur, statistik menjadi kebanggaan, dan pengakuan publik perlahan berubah menjadi standar utama keberhasilan. Dalam arus besar seperti ini, pendidikan kerap direduksi menjadi sekadar mesin pencetak prestasi.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved