Opini
Opini: Subuh, Altar, dan Rahasia Kehidupan Seminari
Di seminari yang dikejar bukanlah piala prestasi, melainkan piala Ekaristi. Yang dicari bukanlah seragam dinas, melainkan busana rohani.
Ada sebuah paradoks ketika melangkah masuk ke dalam pagar seminari. Jika di luar sana, manusia dipermudah oleh layar kaca berukuran lima inci, maka di Mataloko, kemudahan itu diredam oleh sebuah aturan yang radikal. Siswa dilarang membawa Hp.
Secara filosofis, larangan ini adalah sebuah tindakan askese (penyangkalan diri) yang radikal untuk menyelamatkan autentisitas manusia.
Filsuf Heidegger dalam kritiknya terhadap teknologi mengingatkan bahwa teknologi modern berisiko memperalat manusia dan menjauhkannya dari "Ada" (Sein) yang sejati (Martin Heidegger, The Question Concerning Technology and Other Essays, 1977).
Ketika HP disingkirkan, layar-layar yang biasanya memancarkan cahaya semu itu digantikan oleh hamparan kabut pagi Mataloko yang jujur.
Bunyi notifikasi yang riuh dan menuntut perhatian konstan, bertukar dengan keheningan yang teduh.
Di sinilah para seminaris belajar merayakan apa yang disebut sebagai solitude (kesunyian yang subur), bukan loneliness (kesepian yang gersang).
Paul Tillich menyebut kesunyian ini sebagai tempat manusia menemukan kembali kemurnian jiwanya (Paul Tillich, The Eternal Now, 1963).
Larangan membawa HP di Mataloko adalah sebuah bentuk "puasa modern". Aturan ini meruntuhkan berhala kemudahan.
Di lembah sunyi ini, para seminaris tidak sedang tertinggal oleh zaman, mereka justru sedang diselamatkan dari pendangkalan zaman.
Mereka diajar untuk hadir seutuhnya, dalam doa, dalam tatap muka dengan sesama saudara, dan dalam perjumpaan yang hidup dengan realitas di sekitar mereka.
Ketika jemari tak lagi sibuk berselancar di jagat digital, tangan-tangan para siswa kembali menemukan kodratnya yang paling indah, yaitu membalikkan lembar-lembar buku. Mereka menjadi akrab dengan aroma kertas yang khas.
Membaca tidak lagi sekadar mencari informasi, tetapi sebuah percakapan batin yang intim dengan para pemikir hebat, para kudus, dan para penyair dari masa lalu.
Buku menjadi jendela dunia yang tidak menjebak mereka dalam kepalsuan, tetapi mengantar mereka pada kedalaman berpikir.
Menolak Segala Bentuk Kasta Intelektual
Suatu hari, menjelang perlombaan Hardiknas di Aimere, para guru berkumpul di ruang guru SMA.
Di tengah pembicaraan tentang persiapan siswa, Romo Alex, guru Bahasa Indonesia senior, tiba-tiba mengucapkan kalimat yang membuat ruangan seketika hening: "Jangan-jangan kita hanya sibuk memintarkan orang yang sudah pintar. Lalu mereka yang tidak ikut lomba, apakah kita tega biarkan mereka tetap merasa bodoh dan tertinggal?"
Tevin Lory
Siswa Seminari Mataloko
SMA Seminari Mataloko
Seminari Mataloko
Meaningful
Tahun Orientasi Pastoral
Keuskupan Agung Ende
| Opini: Menanamkan yang Tepat- Pendidikan Sejati Menurut Kacamata Parmenides |
|
|---|
| Opini: Kaum Marginal Terlalu Nyata untuk Diabaikan |
|
|---|
| Opini: Sudah Menyambut Tubuh Kristus, Tetapi Sudahkah Menjadi Tubuh Kristus? |
|
|---|
| Opini: Sapere Aude di Tapal Batas |
|
|---|
| Opini: Membumikan Ensiklik Magnifica Humanitas di Tengah Badai Penipuan AI di NTT |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Tevin-Lory.jpg)