Opini
Opini: Sapere Aude di Tapal Batas
Bagi Levinas, menatap wajah sesama adalah sebuah panggilan etis yang mendahului segala hukum dan politik.
Ketika Levinas berbicara tentang “Wajah”, ia sedang meruntuhkan egoisme politik internasional yang realis.
Bagi Levinas, menatap wajah sesama adalah sebuah panggilan etis yang mendahului segala hukum dan politik.
Di perbatasan Timor, “Wajah” itu mewujud pada sosok-sosok rapuh yang berjuang di garis depan, misalnya pedagang kecil yang melintasi batas untuk menyambung hidup, atau kelompok rentan yang merindukan akses pelayanan dasar.
Berani berpikir sendiri di perbatasan berarti berani mengakui bahwa penderitaan kemanusiaan di seberang garis batas adalah tanggung jawab moral kita juga, melampaui apa pun warna paspor yang mereka kantongi.
Dialog yang dibangun bukan lagi sekadar diplomasi basa-basi antar elite di Jakarta dan Dili yang sering kali terjebak dalam romantisme masa lalu.
Dialog itu berubah menjadi sebuah praksis: radikal, mendengar dengan hati, dan berorientasi pada keadilan sosial yang nyata.
Kolaborasi konseptual dan empiris antara Fakultas Filsafat Unwira dengan Instituto Superior de Filosofia e Teologia (ISFIT) Dom Jaime Garcia Goulart di Dili sejak 2023 adalah bukti nyata bahwa intelektualitas tidak boleh mandek menjadi menara gading.
Melalui penelitian bersama dan pengabdian masyarakat, keduanya berupaya merebut kembali wacana perbatasan dari dominasi perspektif negara dan elite politik.
Perbatasan tidak dipahami sebagai objek yang dibicarakan dari pusat kekuasaan, melainkan sebagai realitas yang ditafsirkan bersama oleh masyarakat yang hidup dan mengalami langsung dinamika yang terjadi di dalamnya.
Festival Philosophia Sapere Aude mengingatkan kita bahwa masa depan wilayah perbatasan tidak ditempatkan oleh logika pemisah, melainkan oleh kemampuan membangun ruang perjumpaan yang terbuka.
Berpikir kritis tentang perbatasan berarti meninggalkan pandangan lama yang melihatnya sebagai kawasan pinggiran yang jauh dari pusat perhatian.
Sebaliknya, perbatasan perlu dipahami sebagai ruang strategis tempat berbagai identitas, pengalaman, dan kepentingan saling berinteraksi.
Di sanalah nilai-nilai kemanusiaan, solidaritas, dan kerja sama lintas batas diuji sekaligus dikembangkan, menjadikan perbatasan bukan ujung dari suatu bangsa, tetapi titik awal lahirnya kemungkinan-kemungkinan baru bagi kehidupan bersama. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Didimus-Wungo.jpg)