Opini
Opini: Membaca Fenomena Bunuh Diri melalui Lensa Stoisisme
Dengan demikian filsafat Stoa menegaskan bahwa kebahagiaan manusia yang sesungguhnya terlepas dari segala aspek lahiriah.
Dominasi emosional ini menutup ruang bagi rasio untuk mencerna dan memproses setiap faktor eksternal yang menghantam diri seseorang.
Sebagaimana penjelasan prinsip Stoa sebelumnya, individu yang tunduk pada kendali emosi, perasaan dan nafsu akan sangat mudah terjerembab dalam kekacauan batin.
Dalam konteks ini, tidaklah berlebihan untuk dikatakan bahwa bunuh diri adalah akibat nyata dari dominasi perasaan yang melahirkan reaksi berlebihan terhadap keadaan di luar diri yang secara eksistensial memang berada di luar kontrol manusia.
Oleh karena itu, kontribusi utama filsafat Stoa dalam mengatasi fenomena ini adalah pemulihan fungsi rasionalitas.
Rasionalitas inilah yang memampukan seseorang untuk mengontrol reaksinya terhadap faktor eksternal secara lebih bijaksana.
Sederhananya, manusia memang tidak akan pernah bisa mendikte situasi atau keadaan di luar dirinya, tetapi ia sepenuhnya mampu mengendalikan respon internalnya terhadap situasi tersebut dengan mengoptimalkan kerja rasio.
Stoisisme: Satu dari Banyak Jalan
Pada akhirnya, fenomena bunuh diri tetaplah sebuah labirin masalah yang sangat kompleks.
Solusinya tidak pernah tunggal maupun mudah ditemukan, sebab tindakan bunuh diri merupakan akumulasi reaktif dari pergolakan batin yang sangat personal.
Bagaimanapun, satu-satunya pihak yang mengetahui dengan pasti alasan di balik keputusan fatal tersebut adalah subjek itu sendiri.
Dalam peta pencarian solusi tersebut, filsafat Stoa hadir sebagai sebuah pendekatan antisipatif yang menawarkan satu dari sekian banyak jalan keluar.
Stoisisme mengajak manusia untuk terus mencari dan menemukan makna hidup dengan mengoptimalkan fungsi rasio sekaligus menyelaraskan diri dengan realitas konkret yang sedang dihadapi.
Faktor-faktor eksternal yang menghantam kehidupan, idealnya tidak sampai melumpuhkan ketahanan mental manusia, apalagi menghantarnya pada keputusan batin, asalkan ia mau memberi ruang bagi rasio untuk bekerja dan memproses stimulus tersebut dengan jernih.
Sebab pada kesimpulannya, kebahagiaan sejati akan luruh seketika jika manusia membiarkan dirinya didikte dan dinavigasi oleh faktor-faktor eksternal yang secara fundamental berada di luar kapasitasnya untuk mengontrol. (*)
Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Oswaldus-Abur-Mahasiswa-Unwira-Kupang.jpg)