Opini
Opini: Membaca Fenomena Bunuh Diri melalui Lensa Stoisisme
Dengan demikian filsafat Stoa menegaskan bahwa kebahagiaan manusia yang sesungguhnya terlepas dari segala aspek lahiriah.
Lebih lanjut filsafat Stoa menerangkan bahwa emosi negatif, perasaan yang meluap-luap dan nafsu liar merupakan faktor utama yang mempersulit sekaligus menggelapkan rasio manusia.
Akibatnya, ruang gerak nalar untuk menemukan solusi menjadi lumpuh ketika berhadapan dengan kenyataan hidup yang anomali.
Dalam konteks inilah, tindakan bunuh diri dapat ditinjau sebagai bukti nyata dari matinya rasio manusia untuk berpikir jernih; sebuah kondisi di mana seseorang gagal melihat bahwa masih ada jalan keluar lain di balik pekatnya kenyataan yang anggap anomali tersebut.
Baca juga: Opini: Santarang dan Kisah Sejumlah Jurnal Sastra di NTT
Dengan demikian, filsafat Stoa hadir sebagai kompas yang menuntun individu untuk mencari dan menemukan kembali kebahagiaan serta makna hidupnya.
Menurut mazbab ini, kebahagian manusia sama sekali tidak ditentukan oleh hal-hal yang terjadi di luar kendali dirinya.
Sebaliknya, manusia diajak untuk menyelaraskan diri dengan kenyataan eksternal, termasuk situasi anomali yang menghimpitnya dengan cara membiarkan rasionya tetap bekerja secara aktif.
Secara sederhana, Stoisisme sebenarnya mengajak kita untuk menyadari sebuah refleksi mendasar: bahwa manusia pada hakikatnya tidak akan pernah bisa mengontrol segala sesuatu yang terjadi di luar dirinya.
Satu-satunya hal yang sepenuhnya berada di bawah kendali manusia adalah bagaimana ia bereaksi dan menanggapi kenyataan luar tersebut.
Bunuh Diri dalam Lensa Stoisisme
Fenomena bunuh diri merupakan sebuah realitas kompleks yang dipicu oleh berbagai faktor seperti tekanan ekonomi, krisis keluarga, kegagalan studi, hingga keretakan hubungan percintaan.
Berbagai faktor eksternal ini seringkali menjadi pemicu utama (trigger) bagi seseorang untuk mengakhiri hidupnya.
Beban eksternal yang begitu berat membawa dampak yang luar biasa bagi keadaan internal (psikis) seseorang.
Ketika beban eksternal tersebut tidak mampu diproses secara sehat oleh kapasitas internalnya, tindakan bunuh diri kerap kali dianggap satu-satunya jalan pintas
Jika dipandang dari lensa Stoisisme, fenomena ini dikategorikan sebagai tindakan yang irasional.
Hal ini dikarenakan keputusan bunuh diri sebenarnya tindakan yang tidak didasarkan pada penggunaan rasio muni.
Lebih lanjut, filsafat Stoa menjelaskan bahwa bunuh diri merupakan tindakan yang sepenuhnya didominasi oleh ledakan emosi dan perasaan negatif.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Oswaldus-Abur-Mahasiswa-Unwira-Kupang.jpg)