Breaking News
Sabtu, 6 Juni 2026

Opini

Opini: Membaca Fenomena Bunuh Diri melalui Lensa Stoisisme

Dengan demikian filsafat Stoa menegaskan bahwa kebahagiaan manusia yang sesungguhnya terlepas dari segala aspek lahiriah. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
POS-KUPANG.COM/HO
Oswaldus Abur 

Lebih lanjut filsafat  Stoa menerangkan bahwa emosi negatif, perasaan yang meluap-luap dan nafsu liar merupakan  faktor utama yang mempersulit sekaligus menggelapkan rasio manusia.  

Akibatnya, ruang gerak nalar untuk menemukan solusi menjadi lumpuh  ketika  berhadapan dengan kenyataan hidup yang anomali. 

Dalam konteks inilah, tindakan bunuh diri dapat ditinjau sebagai bukti nyata dari matinya rasio manusia untuk berpikir jernih; sebuah kondisi di mana seseorang gagal melihat bahwa masih ada jalan  keluar lain  di balik pekatnya   kenyataan yang anggap anomali tersebut. 

Baca juga: Opini: Santarang dan Kisah Sejumlah Jurnal Sastra di NTT

Dengan demikian, filsafat Stoa hadir sebagai kompas  yang menuntun individu untuk mencari dan menemukan kembali kebahagiaan serta makna hidupnya.  

Menurut mazbab ini, kebahagian manusia sama sekali  tidak ditentukan oleh hal-hal yang terjadi di luar kendali dirinya. 

Sebaliknya, manusia diajak untuk menyelaraskan diri dengan kenyataan eksternal, termasuk situasi anomali yang menghimpitnya dengan  cara membiarkan rasionya tetap bekerja secara aktif. 

Secara sederhana,  Stoisisme sebenarnya mengajak kita untuk menyadari sebuah refleksi mendasar:  bahwa  manusia pada hakikatnya tidak akan pernah bisa mengontrol  segala sesuatu  yang terjadi di luar dirinya. 

Satu-satunya hal yang sepenuhnya berada di bawah kendali manusia adalah bagaimana ia bereaksi dan menanggapi kenyataan luar tersebut. 

Bunuh Diri dalam Lensa Stoisisme

Fenomena bunuh diri merupakan sebuah realitas kompleks yang dipicu oleh berbagai faktor  seperti tekanan ekonomi, krisis keluarga, kegagalan studi, hingga keretakan hubungan percintaan.  

Berbagai  faktor eksternal ini seringkali menjadi pemicu utama (trigger) bagi seseorang untuk mengakhiri hidupnya. 

Beban eksternal yang begitu berat membawa dampak yang luar biasa bagi keadaan internal (psikis) seseorang.  

Ketika beban eksternal tersebut  tidak mampu diproses secara sehat oleh kapasitas internalnya,  tindakan bunuh diri kerap kali dianggap satu-satunya jalan pintas

Jika dipandang dari lensa Stoisisme, fenomena ini dikategorikan sebagai tindakan yang irasional. 

Hal ini dikarenakan keputusan bunuh diri sebenarnya tindakan yang tidak didasarkan pada penggunaan rasio muni. 

Lebih lanjut, filsafat Stoa menjelaskan bahwa bunuh diri merupakan tindakan yang sepenuhnya  didominasi oleh ledakan  emosi dan perasaan negatif. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved