Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Opini: Pertumbuhan Ekonomi yang Belum Menenangkan

Masyarakat tidak merasakan ekonomi melalui angka PDB atau PDRB, melainkan melalui harga barang, kesempatan kerja, dan daya beli. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI PETRUS KANISIUS S. TAGE
Petrus Kanisius Siga Tage 

Masyarakat tidak merasakan ekonomi melalui angka PDB atau PDRB, melainkan melalui harga barang, kesempatan kerja, dan daya beli. 

Ketika biaya hidup meningkat sementara pendapatan tidak bertambah secara signifikan, maka pertumbuhan ekonomi yang tinggi sekalipun belum tentu menghadirkan rasa aman.

Yang perlu menjadi perhatian adalah bahwa pasar keuangan sering kali bergerak berdasarkan ekspektasi, bukan semata-mata kondisi saat ini. 

Ketika rupiah melemah dan pasar saham terkoreksi, yang sedang dinilai investor bukan hanya kinerja ekonomi triwulan berjalan, melainkan kemampuan ekonomi Indonesia menghadapi tantangan ke depan. 

Investor ingin melihat pertumbuhan yang ditopang oleh investasi, ekspor yang kompetitif, serta produktivitas yang meningkat. 

Jika pertumbuhan masih terlalu bergantung pada konsumsi dan belanja pemerintah, pasar cenderung meragukan keberlanjutannya. 

Dalam konteks itu, pelemahan rupiah dan tekanan terhadap IHSG dapat dibaca sebagai peringatan bahwa pertumbuhan ekonomi perlu diperkuat dengan reformasi yang lebih mendasar agar mampu menciptakan kepercayaan jangka panjang.

Pasar membaca berbagai faktor sekaligus: stabilitas fiskal, konsistensi kebijakan, kepastian hukum, hingga kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan publik. 

Karena itu, pelemahan rupiah dan tekanan terhadap IHSG seharusnya dipandang sebagai peringatan bahwa pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup. 

Yang dibutuhkan adalah pertumbuhan yang mampu menciptakan keyakinan.
Bagi NTT, tantangan tersebut menjadi semakin penting. 

Pertumbuhan 5,32 persen memang patut diapresiasi, tetapi belum cukup untuk membuat ekonomi daerah lebih tahan terhadap guncangan. 

Ketergantungan pada sektor primer, konsumsi rumah tangga, dan belanja pemerintah menunjukkan bahwa transformasi ekonomi masih menjadi pekerjaan rumah yang besar.

Karena itu, pembangunan NTT perlu diarahkan pada penguatan sektor-sektor produktif yang memiliki nilai tambah tinggi. Pertanian, peternakan, dan perikanan tidak cukup hanya menghasilkan bahan mentah. 

Hilirisasi harus diperkuat agar manfaat ekonomi lebih banyak dinikmati di daerah. 

Demikian pula sektor pariwisata yang sedang berkembang perlu dikaitkan secara lebih erat dengan UMKM, petani, nelayan, dan pelaku 
ekonomi lokal.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved