Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Opini: Pertumbuhan Ekonomi yang Belum Menenangkan

Masyarakat tidak merasakan ekonomi melalui angka PDB atau PDRB, melainkan melalui harga barang, kesempatan kerja, dan daya beli. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI PETRUS KANISIUS S. TAGE
Petrus Kanisius Siga Tage 

Secara kuartalan, ekonomi Indonesia terkontraksi 0,77 persen, sedangkan NTT mengalami kontraksi yang lebih dalam, yaitu 4,97 persen. 

Konsumsi pemerintah yang sebelumnya menjadi motor pertumbuhan justru turun tajam secara kuartalan, baik di tingkat nasional maupun daerah. 

Artinya, ketika dorongan fiskal melemah, pertumbuhan ekonomi ikut kehilangan tenaga.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan yang terlihat kuat secara tahunan belum tentu mencerminkan ketahanan ekonomi yang sesungguhnya. 

Pertumbuhan masih sangat sensitif terhadap belanja pemerintah dan belum sepenuhnya ditopang oleh sektor produktif yang mampu menciptakan nilai tambah secara berkelanjutan.

Persoalan lain yang belum terselesaikan adalah ketimpangan struktur ekonomi. 

Pulau Jawa masih mendominasi perekonomian nasional dengan kontribusi lebih dari 57 persen. Sebaliknya, wilayah-wilayah di luar Jawa masih berjuang mengejar ketertinggalan infrastruktur, investasi, dan konektivitas.

NTT menjadi salah satu contoh yang cukup jelas. Struktur ekonomi daerah masih didominasi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan kontribusi 28,34 persen terhadap PDRB. 

Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 64 persen. 

Struktur seperti ini membuat ekonomi daerah sangat bergantung pada daya beli masyarakat, kondisi cuaca, harga komoditas, dan kelancaran distribusi barang.

Dalam situasi tersebut, pelemahan rupiah menjadi persoalan yang sangat relevan. Ketika nilai tukar menembus Rp18.000 per dolar AS, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku pasar keuangan. 

Bagi daerah kepulauan seperti NTT, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya logistik, harga barang konsumsi, dan biaya produksi.

Sebagian besar kebutuhan masyarakat NTT masih bergantung pada distribusi dari luar daerah. Karena itu, setiap tekanan terhadap nilai tukar akan lebih cepat terasa dalam kehidupan sehari-hari. 

Harga kebutuhan pokok berpotensi meningkat, biaya transportasi bertambah, dan ruang gerak pelaku usaha menjadi semakin sempit.

Di sinilah kita melihat bahwa persoalan ekonomi tidak semata-mata soal pertumbuhan. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved