Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Opini: AI Melayani Kemanusiaan atau Menghancurkannya?

Paus Leo XIV tidak anti teknologi. Ensikliknya dengan jelas menyebut AI sebagai alat berharga yang membutuhkan kewaspadaan. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI MARIANUS VIKTOR UKAT
Marianus Viktor Ukat 

Untuk itu, pada akhirnya “manusia akan mengenal hatinya sendiri sebagai tempat di mana Tuhan ingin berdiam” (Fatlolon, 2026). 

AI Melayani atau Menghancurkan Manusia?

Manusia adalah makluk ciptaan paling mulia yang seyogianya harus memahami eksistensinya dalam dunia ini. Karena itu, AI hadir sebagai yang melengkapi dan membantu manusia untuk menjalankan pekerjaannya. 

Bukan malah AI hadir menjadikan manusia sebagai alatnya. Dalam pasar kerja, AI sudah mengalami peran paling intrinsik dalam setiap pekerjaan manusia. 

Oleh karena itu, pada prinsipnya eksistensi manusia yang lahir dan hidup ke dalam dunia harus dipertanyakan dengan tujuan seperti apa menjalani hidup ini, mengapa dengan hidup ini, dan bagaimana arah tujuan hidup ini selanjutnya? 

Orang harus kembali mempertanyakan dirinya bahwa kehadiran di dunia ini harus dijalankan untuk apa dan demi apa? Tidak hanya sekadar menjalani hidup ini karena konformitas diri terhadap perkembangan semata. 

Apabila demikian maka yang dijalaninya adalah kekosongan diri terhadap pemaknaan atas kehidupannya. Di sini, hal itu sama seperti ketika orang berlari, kita berlari, atau ketika orang duduk, kita juga ikut duduk. 

Salah satu filsuf yang sangat antusias memberi kritik terhadap cara hidup orang-orang yang ikut-ikutan pada masanya adalah Friedrich Nietzsche. 

Maka, sebagai alternatifnya, ia menawarkan konsep “manusia unggul” dalam artian bahwa individu yang berani membebaskan diri dari belenggu norma sosial massa (Magnus, 2026). 

Mereka yang berani adalah yang mampu menciptakan nilai-nilai moral sendiri secara otonom tanpa ada kontaminasi terhadap norma-norma kelompok. 

Oleh karena itu, bersamaan dengan ensiklik Magnifica Humanitas, Gereja mengajak semua orang untuk memulihkan dan memperkuat kemampuan diri setiap pribadi untuk hidup sepenuhnya sebagai manusia. 

Akan tetapi yang ditolak adalah bentuk reduksi manusia untuk menjadi substart biologis yang perlu diperbaharui, bahkan mengorbankan manusia demi kemajuan. 

Akhirnya, jawaban atas pertanyaan dari judul opini adalah ensiklik ini sendiri. 

Bahwasanya, ensiklik ini memberikan sesuatu yang lebih mendasar pada sebuah orientasi dengan arah tujuan (telos) setiap teknologi harus diukur dari kontibusinya untuk perkembangan integral manusia, keadilan, dan pada persaudaraan universal. 

“Kemanusiaan yang Agung” bukan sekadar slogan, melainkan pernyataan tentang apa yang kita percaya bahwa manusia ini sebagai yang diciptakan menurut gambar Allah (Imago Dei), yang memiliki martabat yang tidak bisa dinegosiasikan dan kita dipanggil untuk membangun dunia yang lebih baik bersama. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved