Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Opini: Dari Debat Kusir

Dialog sejati bukanlah negosiasi untuk menghapus identitas masing-masing, melainkan kesempatan saling memahami dan memperkaya.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ROBERT BALA
Robert Bala 

Bila diskusi yang terjadi hanya sekadar ‘debat kusir’, maka apa yang seharusnya dicapai? 

Berpijak pada kesadaran ini, banyak pemimpin gerejawi dewasa ini lebih menekankan apa yang disebut sebagai “dialog kehidupan”. 

Istilah ini mengacu pada relasi sehari-hari di mana umat dari tradisi yang berbeda hidup berdampingan, bekerja sama, saling membantu, dan bersama-sama menghadirkan nilai Kerajaan Allah. 

Dialog kehidupan terjadi ketika umat Katolik dan Protestan bekerja sama membantu korban bencana, mendidik anak-anak, memperjuangkan keadilan sosial, membela martabat manusia, atau bersama-sama berdoa bagi perdamaian.

Dalam dialog kehidupan, perhatian tidak lagi tertuju pada pertanyaan, “Siapa yang paling benar?” melainkan pada pertanyaan yang lebih mendasar: “Bagaimana kita dapat bersama-sama menjadi saksi Kristus di dunia?” 

Fokus berpindah dari perbedaan menuju misi bersama. Perbedaan tetap diakui dan dihormati, tetapi tidak dijadikan alasan untuk saling menjauh.

Teolog ekumenis terkenal, Oscar Cullmann, pernah menggunakan gambaran yang indah tentang persatuan Kristen. Menurutnya, kesatuan Gereja tidak harus berarti keseragaman total. 

Sebagaimana sebuah orkestra terdiri dari berbagai alat musik yang berbeda tetapi menghasilkan harmoni yang indah, demikian pula komunitas Kristen dapat tetap mempertahankan identitas masing-masing sambil bekerja sama dalam kesaksian bersama kepada dunia.

Tentu saja dialog teologis tetap penting. Gereja tidak boleh berhenti berpikir atau mendalami ajaran imannya. Namun tujuan dialog teologis bukanlah mempermalukan pihak lain atau mencari pemenang dan pecundang. 

Tujuannya adalah mencari pengertian yang lebih mendalam tentang kebenaran sambil tetap menghormati keyakinan yang berbeda.

Pada akhirnya, dunia saat ini tidak terlalu membutuhkan orang-orang Kristen yang ahli berdebat, tetapi orang-orang Kristen yang mampu menghadirkan kasih Kristus secara nyata. 

Kemiskinan, ketidakadilan, krisis keluarga, kerusakan lingkungan, dan berbagai persoalan kemanusiaan menunggu perhatian bersama. 

Energi yang dihabiskan untuk saling menyerang dalam debat kusir akan jauh lebih bermakna jika digunakan untuk melayani sesama.

Karena itu, jalan yang paling bijaksana bagi hubungan Katolik dan Protestan bukanlah terbatas pada debat kusir demi membuktikan siapa yang paling benar, melainkan komitmen untuk saling memahami, menghormati, dan bekerja sama demi menopang kehidupan. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 3/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved