Opini
Opini: Dari Debat Kusir
Dialog sejati bukanlah negosiasi untuk menghapus identitas masing-masing, melainkan kesempatan saling memahami dan memperkaya.
Menurutnya, dialog sejati bukanlah negosiasi untuk menghapus identitas masing-masing, melainkan kesempatan untuk saling memahami dan memperkaya.
Pemikir Protestan pun banyak yang menggemakan semangat serupa. Teolog Jerman, Jürgen Moltmann, misalnya, menekankan bahwa persatuan umat Kristiani tidak boleh dibangun di atas kemenangan satu kelompok atas kelompok lain.
Ia melihat bahwa Roh Kudus bekerja melampaui batas-batas denominasi. Karena itu, yang diperlukan bukanlah semangat kompetisi, melainkan keterbukaan untuk melihat karya Allah dalam tradisi yang berbeda.
Demikian pula teolog Swiss, Hans Küng, pernah mengemukakan bahwa tidak akan ada perdamaian di antara Gereja-Gereja tanpa adanya dialog.
Küng menyadari bahwa banyak konflik antarumat Kristen sesungguhnya tidak lahir dari perbedaan ajaran semata, melainkan dari sikap saling curiga dan ketidakmauan untuk mendengarkan satu sama lain. Dialog, menurutnya, membuka ruang bagi penghargaan dan kerendahan hati.
Dari pemahaman ini, (seharusnya) kita sadar bahwa masalah utama dari banyak debat Katolik-Protestan adalah bahwa masing-masing pihak biasanya datang dengan kerangka berpikir yang sudah mapan.
Baca juga: Opini: Pelantikan Direksi BUMD di NTT Menjadi Awal Ujian
Seorang Katolik menerima otoritas Tradisi Suci dan Magisterium sebagai bagian integral dari sumber iman. Sebaliknya, banyak Protestan berangkat dari prinsip sola Scriptura, yaitu Kitab Suci sebagai otoritas utama.
Ketika kedua pihak berdiskusi mengenai topik tertentu, mereka sebenarnya tidak hanya berbeda pada kesimpulan, tetapi juga pada titik awal berpikir.
Akibatnya, argumen yang dianggap sangat meyakinkan oleh satu pihak belum tentu memiliki bobot yang sama bagi pihak lainnya.
Dalam situasi seperti ini, debat sering berubah menjadi apa yang dalam bahasa sehari-hari disebut “debat kusir”: perdebatan yang berputar-putar tanpa titik temu karena masing-masing pihak lebih sibuk mempertahankan posisinya daripada memahami posisi lawan bicara.
Tidak sedikit peserta debat yang memasuki diskusi dengan tujuan untuk menang, bukan untuk belajar. Mereka mendengarkan hanya untuk membalas, bukan untuk memahami.
Padahal Yesus sendiri tidak pernah menjadikan kemenangan argumentasi sebagai inti pewartaan-Nya.
Dalam Injil Yohanes 13:35, Yesus berkata, “Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”
Menarik bahwa Yesus tidak mengatakan bahwa dunia akan mengenal para murid dari kemampuan mereka memenangkan perdebatan teologis, melainkan dari kasih yang mereka tunjukkan satu sama lain.
Dialog Kehidupan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Robert-Bala-ceramah.jpg)