Jumat, 5 Juni 2026

Opini

Opini: Dari Debat Kusir

Dialog sejati bukanlah negosiasi untuk menghapus identitas masing-masing, melainkan kesempatan saling memahami dan memperkaya.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ROBERT BALA
Robert Bala 

Oleh: Robert Bala
Diploma Resolusi Konflik Asia – Pasifik Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

POS-KUPANG.COM - Tahun 1995, penulis mendapatkan kesempatan tak terlupakan. Bersama seorang rekan dari RitapireT (alm Rm Marcel Lamuri), kami mewakili STFK Ledalero mengikuti kegiatan tinggal dan belajar selama 1 bulan di kampus Sekolah Tinggi Teologia Kupang. 

Pada tahun yang sama, dua mahasiswa dan satu dosen calon pendeta akan bergantian tinggal dan belajar di Ledalero.  

Tidak ada agenda besar. Yang dikejar dan dipesan agar masing-masing menimba pengalaman  ada, hidup, dan berinteraksi bersama. Yang dikejar bukan berdebat tentang perbedaan doktrin tetapi mengalami dialog kehidupan.  

Penulis mendapatken pengalaman berharga seperti berinteraksi dengan tokoh Protestan ternama, Pdt Leonidas Raja Haba (1925-2011).  

Baca juga: Opini: Jalan Berlubang dan Politik Kewargaan

Kami juga berkunjung dan bermalam di tempat pembincaan calon pendeta di gubuk yang terbangun di perbatasan Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah Utara (TTU), tempat para calon pendeta ditempah. 

Pengalaman berharga ini sengaja saya hadirkan demi mencermati ‘diskusi’ yang kian memanas antar beberapa pemuka dari dua gereja: Katolik dan Prostetan. 

Keduanya justru begitu intens membahas masalah-masalah yang sudah ratusan tahun dipedebatkan: otoritas Gereja, peran Paus, sakramen, Maria, para kudus, hingga penafsiran Kitab Suci bisa ‘bertemu’ dalam diskusi? 

Mungkinkan dua tradisi dengan keyakinan akan kebenarannnya masing-masing dapat mencapai sebuah ‘titik temu’ di baliknya? 

Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Tetapi yang pasti, perdebatan itu kian menjadikan masalah ini tambah ‘seksi’. Antar pendukung mengelu-elukan jagoannya sambil mengklaim bahwa lawannya terkeok bagai kena uppercut atau pukulan overhead dalam tinju. 

Lebih lagi dalam perdebaatan itu nyaris ada juri yang memutuskan siapa yang benar. Yang terjadi, wasit menyediakan momen agar masing-masing mengungkapkan libido intelektualnya, tidak lebih dari itu. Kalau demikian maka diskusi itu tidak lebih bersifat kusir. 

Klaim ini tidak berlebihan.  Satu tokoh yang banyak berbicara mengenai pentingnya dialog adalah Paus Yohanes XXIII, penggagas Konsili Vatikan II. 

Ia menyadari bahwa Gereja tidak dapat terus hidup dalam tembok-tembok eksklusivisme. Konsili Vatikan II kemudian melahirkan dokumen penting Unitatis Redintegratio yang mengajak umat Katolik untuk melihat saudara-saudari Kristen dari denominasi lain bukan sebagai musuh, melainkan sebagai sesama murid Kristus yang juga telah menerima baptisan dan berusaha mengikuti Tuhan menurut keyakinan mereka.

Pandangan ini kemudian diperkuat oleh Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Ut Unum Sint (1995). 

Ia menegaskan bahwa upaya persatuan umat Kristiani tidak akan dicapai melalui saling menyerang atau saling mengalahkan dalam perdebatan teologis, melainkan melalui dialog yang jujur dan penuh kasih. 

Menurutnya, dialog sejati bukanlah negosiasi untuk menghapus identitas masing-masing, melainkan kesempatan untuk saling memahami dan memperkaya.

Pemikir Protestan pun banyak yang menggemakan semangat serupa. Teolog Jerman, Jürgen Moltmann, misalnya, menekankan bahwa persatuan umat Kristiani tidak boleh dibangun di atas kemenangan satu kelompok atas kelompok lain. 

Ia melihat bahwa Roh Kudus bekerja melampaui batas-batas denominasi. Karena itu, yang diperlukan bukanlah semangat kompetisi, melainkan keterbukaan untuk melihat karya Allah dalam tradisi yang berbeda.

Demikian pula teolog Swiss, Hans Küng, pernah mengemukakan bahwa tidak akan ada perdamaian di antara Gereja-Gereja tanpa adanya dialog. 

Küng menyadari bahwa banyak konflik antarumat Kristen sesungguhnya tidak lahir dari perbedaan ajaran semata, melainkan dari sikap saling curiga dan ketidakmauan untuk mendengarkan satu sama lain. Dialog, menurutnya, membuka ruang bagi penghargaan dan kerendahan hati.

Dari pemahaman ini, (seharusnya) kita sadar bahwa masalah utama dari banyak debat Katolik-Protestan adalah bahwa masing-masing pihak biasanya datang dengan kerangka berpikir yang sudah mapan. 

Baca juga: Opini: Pelantikan Direksi BUMD di NTT Menjadi Awal Ujian

Seorang Katolik menerima otoritas Tradisi Suci dan Magisterium sebagai bagian integral dari sumber iman. Sebaliknya, banyak Protestan berangkat dari prinsip sola Scriptura, yaitu Kitab Suci sebagai otoritas utama. 

Ketika kedua pihak berdiskusi mengenai topik tertentu, mereka sebenarnya tidak hanya berbeda pada kesimpulan, tetapi juga pada titik awal berpikir. 

Akibatnya, argumen yang dianggap sangat meyakinkan oleh satu pihak belum tentu memiliki bobot yang sama bagi pihak lainnya.

Dalam situasi seperti ini, debat sering berubah menjadi apa yang dalam bahasa sehari-hari disebut “debat kusir”: perdebatan yang berputar-putar tanpa titik temu karena masing-masing pihak lebih sibuk mempertahankan posisinya daripada memahami posisi lawan bicara. 

Tidak sedikit peserta debat yang memasuki diskusi dengan tujuan untuk menang, bukan untuk belajar. Mereka mendengarkan hanya untuk membalas, bukan untuk memahami.

Padahal Yesus sendiri tidak pernah menjadikan kemenangan argumentasi sebagai inti pewartaan-Nya. 

Dalam Injil Yohanes 13:35, Yesus berkata, “Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” 

Menarik bahwa Yesus tidak mengatakan bahwa dunia akan mengenal para murid dari kemampuan mereka memenangkan perdebatan teologis, melainkan dari kasih yang mereka tunjukkan satu sama lain.

Dialog Kehidupan

Bila diskusi yang terjadi hanya sekadar ‘debat kusir’, maka apa yang seharusnya dicapai? 

Berpijak pada kesadaran ini, banyak pemimpin gerejawi dewasa ini lebih menekankan apa yang disebut sebagai “dialog kehidupan”. 

Istilah ini mengacu pada relasi sehari-hari di mana umat dari tradisi yang berbeda hidup berdampingan, bekerja sama, saling membantu, dan bersama-sama menghadirkan nilai Kerajaan Allah. 

Dialog kehidupan terjadi ketika umat Katolik dan Protestan bekerja sama membantu korban bencana, mendidik anak-anak, memperjuangkan keadilan sosial, membela martabat manusia, atau bersama-sama berdoa bagi perdamaian.

Dalam dialog kehidupan, perhatian tidak lagi tertuju pada pertanyaan, “Siapa yang paling benar?” melainkan pada pertanyaan yang lebih mendasar: “Bagaimana kita dapat bersama-sama menjadi saksi Kristus di dunia?” 

Fokus berpindah dari perbedaan menuju misi bersama. Perbedaan tetap diakui dan dihormati, tetapi tidak dijadikan alasan untuk saling menjauh.

Teolog ekumenis terkenal, Oscar Cullmann, pernah menggunakan gambaran yang indah tentang persatuan Kristen. Menurutnya, kesatuan Gereja tidak harus berarti keseragaman total. 

Sebagaimana sebuah orkestra terdiri dari berbagai alat musik yang berbeda tetapi menghasilkan harmoni yang indah, demikian pula komunitas Kristen dapat tetap mempertahankan identitas masing-masing sambil bekerja sama dalam kesaksian bersama kepada dunia.

Tentu saja dialog teologis tetap penting. Gereja tidak boleh berhenti berpikir atau mendalami ajaran imannya. Namun tujuan dialog teologis bukanlah mempermalukan pihak lain atau mencari pemenang dan pecundang. 

Tujuannya adalah mencari pengertian yang lebih mendalam tentang kebenaran sambil tetap menghormati keyakinan yang berbeda.

Pada akhirnya, dunia saat ini tidak terlalu membutuhkan orang-orang Kristen yang ahli berdebat, tetapi orang-orang Kristen yang mampu menghadirkan kasih Kristus secara nyata. 

Kemiskinan, ketidakadilan, krisis keluarga, kerusakan lingkungan, dan berbagai persoalan kemanusiaan menunggu perhatian bersama. 

Energi yang dihabiskan untuk saling menyerang dalam debat kusir akan jauh lebih bermakna jika digunakan untuk melayani sesama.

Karena itu, jalan yang paling bijaksana bagi hubungan Katolik dan Protestan bukanlah terbatas pada debat kusir demi membuktikan siapa yang paling benar, melainkan komitmen untuk saling memahami, menghormati, dan bekerja sama demi menopang kehidupan. (*)

Simak terus berita POS-KUPANG.COM di Google News 

 

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved