Selasa, 2 Juni 2026

Opini

Opini: Children helping Children a la Pangeran Cilik

Anak-anak perlu dibiarkan bertumbuh dalam dunianya yang penuh kepolosan sambil tetap diarahkan untuk membangun relasi yang sehat.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ANTONIUS G PLEWANG
Antonius Guntramus Plewang 

Mereka juga memiliki kemampuan untuk membantu sesamanya sesuai kapasitas mereka. 

Ketika seorang anak menghibur temannya yang sedih, membantu teman belajar, atau menemani temannya yang kesepian, ia sedang berpartisipasi dalam proses pembentukan karakter bersama. 

Dalam tindakan-tindakan kecil seperti inilah nilai kemanusiaan ditanamkan sejak dini.

Inspirasi mengenai hal tersebut dapat ditemukan dalam novel Pangeran Cilik 
( The Little Prince) karya Antoine de Saint-Exupéry. 

Novel ini memperlihatkan kontras yang tajam antara cara berpikir orang dewasa dan cara pandang seorang anak. 

Orang dewasa dalam kisah tersebut kerap digambarkan terlalu sibuk dengan kalkulasi matematis, posisi jabatan, dan keuntungan. 

Segala sesuatu dinilai berdasarkan manfaat praktis dan hasil yang dapat diukur. 

Cara berpikir semacam ini membuat mereka kehilangan kepekaan terhadap hal-hal sederhana yang justru memiliki makna mendalam.

Sebaliknya, Pangeran Cilik menghadirkan kaca mata yang berbeda. Ia bukan melulu memandang dunia berdasarkan prinsip untung dan rugi. Ia melihat nilai dalam relasi, perhatian, dan kebersamaan. 

Sebab itu perjumpaannya dengan sang rubah menjadi salah satu bagian paling penting dalam novel tersebut. 

Rubah mengajarkan bahwa relasi antarmakhluk hidup dibentuk melalui proses saling mengenal dan saling membutuhkan. Dari relasi itulah muncul kesetiaan dan tanggung jawab.

Pelajaran ini penting untuk direfleksikan dalam konteks kehidupan anak-anak saat ini. 

Dunia anak sesungguhnya memiliki kekayaan yang sering kali luput dari perhatian orang dewasa. 

Anak-anak memiliki kemampuan untuk membangun imajinasi kolektif tentang kebahagiaan. 

Anak-anak dapat bermain bersama tanpa terlalu mempersoalkan status sosial, latar belakang keluarga, ataupun perbedaan lainnya. Mereka lebih mudah melihat perbedaan sebagai keunikan daripada ancaman. 

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved