Breaking News
Senin, 1 Juni 2026

Opini

Opini: Ekonomi Politik Ketakutan

Pancasila telah lama menjadi fondasi kebangsaan, tetapi fondasi itu tidak cukup hanya dipasang di spanduk atau dibacakan dalam upacara. 

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI LASARUS JEHAMAT
Lasarus Jehamat 

Sila kelima berbicara tentang keadilan sosial. Tiga sila ini cukup untuk mengingatkan bahwa Pancasila tidak pernah mengajarkan negara menjadi mudah tersinggung. Pancasila tidak mengajarkan ruang publik yang alergi terhadap kritik. 

Pancasila juga tidak mengajarkan pembangunan yang hanya mau mendengar tepuk tangan, tetapi kurang sabar mendengar keluhan.

Perspektif ekonomi politik membantu membaca polemik ini secara lebih dingin. Film Pesta Babi tidak hanya bicara tentang layar, kamera, atau dokumenter. 

Film ini menyentuh isu yang jauh lebih dalam; proyek strategis, tanah, hutan, pangan, energi, hak ulayat, dan posisi masyarakat adat dalam pembangunan. 

Pemerintah sendiri menyebut film tersebut berisi kritik terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan, terutama terkait kelestarian alam, hak ulayat masyarakat Papua, dan lingkungan hidup (Kemenko Kumham Imipas, 2026). 

Di situ letak dapur panasnya. Filmnya mungkin diputar di aula kecil, tetapi isu yang dibawa sebesar meja rapat pembangunan nasional. 

Kata “strategis”, “nasional”, “ketahanan pangan”, “investasi”, dan “produktivitas” memang terdengar rapi. Masalahnya, pembangunan tidak pernah netral sepenuhnya. 

Baca juga: Opini: Pancasila di Dinding, Krisis Karakter di Ruang Kelas

Selalu ada yang mendapat manfaat lebih besar, ada yang menanggung risiko lebih berat, ada yang menjadi pemilik narasi, dan ada yang hanya diminta percaya. 

Harvey menyebut proses seperti ini sebagai accumulation by dispossession, yaitu akumulasi ekonomi yang berjalan melalui penguasaan ruang, tanah, dan sumber kehidupan masyarakat (Harvey, 2003). 

Dalam bahasa yang lebih sederhana, pembangunan jangan sampai seperti pesta besar; undangannya memakai nama rakyat, tetapi kursi terbaik sudah dipesan sejak pagi.

Pancasila seharusnya menjadi rem etik terhadap kecenderungan seperti itu. Ketahanan pangan nasional tentu penting. 

Tidak ada bangsa yang kuat kalau urusan perut selalu rapuh. Namun, ketahanan pangan tidak boleh dibangun dengan membuat masyarakat lokal kehilangan ketahanan hidup. 

Lahan dapat dihitung dalam hektare, tetapi ingatan, adat, hutan, sungai, kuburan leluhur, dan rasa aman tidak bisa diringkas dalam tabel Excel. 

Scott mengingatkan bahwa proyek besar negara sering bermasalah ketika kehidupan lokal disederhanakan menjadi peta, angka, target, dan skema teknokratis (Scott, 1998). 

Pembangunan memang perlu data. Namun, data yang baik seharusnya tidak membuat manusia hilang dari pandangan.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved