Opini
Opini: Jejak Perjuangan Putera NTT Yoseph Ola Bebe Melawan Belanda
Pada 1915, Belanda merasa seperti kurang nyaman jika Ola Bebe tetap menjalani hukuman di penjara Kupang yang masih berada dalam wilayah NTT.
Dengan menggunakan pola perang gerilya, Ola Bebe menyulitkan Belanda yang sangat ingin menangkapnya. Ola Bebe selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
Setahun berlalu, Pemerintah Kolonial Belanda pun mengadakan sebuah sayembara berhadiah 30 perak kepada siapa saja yang bisa menangkap Ola Bebe, baik dalam keadaan hidup maupun mati.
Sayembara itu diumumkan kepada seluruh masyarakat di Pulau Adonara, namun tak satupun berhasil menangkap atau membunuh Ola Bebe sebagaimana tawaran pihak Belanda. Bagaimana caranya membuat Ola Bebe menyerah?
Langkah tegas yang diambil kolonial Belanda pada masa itu adalah menangkap Bengan Tokan, ibu kandung dari Ola Bebe, saat perempuan itu pulang dari pasar.
Pria tangguh itu akhirnya memilih jalan menyerahkan diri untuk menyelamatkan ibu kandungnya dari tawanan Belanda.
Dari penjara ke penjara
Pada Tahun 1913, Ola Bebe mulai menjalani proses hukum di Pengadilan Belanda yang berkedudukan di Desa Loga, Lewo Pulo, Adonara Timur.
Pada tahun 1914, Yoseph Ola Bebe dijatuhi vonis penjara 15 tahun atas dakwaan melakukan pembangkangan terhadap kebijakan Pemerintah Belanda.
Ola Bebe menjalani hukuman di penjara Larantuka, ibu kota Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hanya beberapa bulan di Larantuka, Ola Bebe dibawa ke sebuah penjara di Kupang.
Baca juga: Putri Anies Baswedan Lulus S2 di Harvard, Mutiara Baswedan Gendong Anak saat Acara Wisuda
Pada 1915, Belanda merasa seperti kurang nyaman jika Ola Bebe tetap menjalani hukuman di penjara Kupang yang masih berada dalam wilayah NTT.
Dia dikirim lagi ke penjara Kalisosok di kawasan utara Surabaya, Jawa Timur. Selama dua tahun di Surabaya, Ia di pindahkan ke penjara Nusa Kembangan di Jawa Tengah.
Setelah dua tahun lamanya Ola Bebe menikmati kisah hidup di Nusa Kembangan, dipindahkan lagi ke penjara Sukamiskin di Jawa Barat, Jakarta, dan penjara di Paledang Bogor.
Entah apa pertimbangan Belanda, Ola Bebe yang merupakan tahanan politik Belanda itu dipindahkan lagi ke Sawahlunto dari penjara Paledang Bogor untuk menjalani sisa hukumannya.
Pada 1917, Yoseph Ola Bebe bersama ribuan nara pidana lainnya diangkut dengan kapal laut dari Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju Pelabuhan Emmahaven--sekarang Pelabuhan Teluk Bayur, yang dibangun kolonial Belanda..
"Mereka yang menjalani hukuman di Sawahlunto umumnya adalah narapidana yang melakukan pembangkangan terhadap kolonial Belanda. Ada juga tawanan yang mempertahankan tanah nenek moyang mereka yang dirampas Belanda," tutur Nurna, pemandu Museum Sawahlunto dalam suatu wawancara.
"Pada masa itu, tak satu pun nara pidana yang dipekerjakan Belanda di pertambangan batu bara Sawahlunto bisa kembali dengan selamat ke kampung halamannya. Semua pekerja umumnya meninggal di pertambangan tersebut," kata Sudarsono, penjaga situs lubang tambang Mbah Soero.
Yoseph Ola Bebe
Bernadus Tokan
Opini Pos Kupang
Kolonial Belanda
Pemerintah Kolonial Belanda
Pemerintahan Kolonial Belanda
Penjara Nusa Kambangan
Nusa Kambangan
Adonara
Meaningful
NTT
Nusa Tenggara Timur
| Opini: Mengenal Orthoebolavirus, Sebentuk Ancaman Kesehatan Masyarakat Global yang Nyata |
|
|---|
| Opini - Teologi Pembebasan Katolik di Tengah Revolusi AI: Membaca Magnifica Humanitas |
|
|---|
| Opini: Ketika Sekolah Menjauhkan Murid dari Layar |
|
|---|
| Opini: Belajar Mendalam atau Sekadar Rumit? |
|
|---|
| Opini: Hari Lahir Pancasila dan Magnifica Humanitas di Tengah Ledakan Artificial Intelligence |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Yoseph-Ola-Bebe.jpg)