Minggu, 31 Mei 2026

Opini

Opini - Teologi Pembebasan Katolik di Tengah Revolusi AI: Membaca Magnifica Humanitas 

Ensiklik Magnifica Humanitas tahun 2026 menegaskan bahwa teknologi harus tetap berpihak pada manusia.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM/HO
Fr. Kristoforus Alvarez 

Dalam situasi seperti itu, perkembangan AI dan dunia digital juga membawa paradoks baru. Di satu sisi teknologi membuka peluang pendidikan dan ekonomi digital.

Namun di sisi lain, masyarakat kecil yang tidak memiliki akses teknologi justru semakin tertinggal. Di sinilah kritik Teologi Pembebasan menjadi penting.

Teknologi tidak boleh hanya dinikmati kelompok tertentu sementara masyarakat kecil tetap hidup dalam keterbelakangan.

AI tidak boleh memperbesar ketimpangan sosial. Bila perkembangan digital hanya menguntungkan pemilik modal dan kelompok elite, maka teknologi kehilangan arah kemanusiaannya. Karena itu Gereja harus hadir mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus berpihak kepada manusia kecil.  

Pesan seperti ini sebenarnya tampak jelas dalam infografik Magnifica Humanitas. Paus Leo XIV menegaskan pentingnya common good atau kebaikan bersama.

Dalam bahasa Teologi Pembebasan, kebaikan bersama berarti pembangunan harus menyentuh mereka yang miskin dan tersisihkan. Gereja tidak boleh netral terhadap penderitaan sosial. Gereja dipanggil berdiri bersama rakyat kecil.

Dalam konteks NTT, hal ini sangat relevan. Gereja Katolik memiliki pengaruh sosial yang besar dalam 
kehidupan masyarakat. Gereja hadir hampir di seluruh wilayah hingga kampung-kampung terpencil.

Karena itu Gereja tidak cukup hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga harus menjadi suara kenabian yang membela martabat manusia. 

Ketika masyarakat kehilangan akses pendidikan, Gereja harus hadir memperjuangkan pendidikan. Ketika rakyat kecil kesulitan ekonomi, Gereja perlu memperkuat pemberdayaan sosial umat. 

Ketika perdagangan manusia terus terjadi, Gereja harus bersuara melawan sistem yang menindas manusia. Teologi Pembebasan juga mengingatkan bahwa dosa tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga sosial. 

Ketidakadilan ekonomi, eksploitasi manusia, korupsi, dan sistem yang membuat masyarakat tetap miskin adalah bentuk dosa sosial yang harus dilawan bersama.

Dalam konteks AI dan dunia digital, dosa sosial itu dapat muncul dalam bentuk baru: manipulasi informasi, ketimpangan akses teknologi, eksploitasi data manusia, dan dominasi ekonomi digital oleh kelompok tertentu.

Namun Magnifica Humanitas tidak mengajak manusia membenci teknologi. Paus Leo XIV justru melihat AI sebagai hasil kreativitas manusia yang dapat dipakai untuk kebaikan.

Teknologi dapat membantu pendidikan, pelayanan kesehatan, komunikasi, dan ekonomi masyarakat. Karena itu yang diperlukan bukan penolakan terhadap teknologi, tetapi arah moral yang benar dalam penggunaannya.

AI harus dipakai untuk membebaskan manusia dari penderitaan, bukan menciptakan bentuk penindasan baru.

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/3
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved