Sabtu, 30 Mei 2026

Opini

Opini - Ketika Teknologi Menguasai Kosmos: Membaca Kritik Martin Heidegger

Kosmos tidak lagi dipahami sebagai ruang kehidupan bersama, melainkan sekadar “bahan” yang dapat diatur dan dikendalikan.

Tayang:
Editor: Alfons Nedabang
POS-KUPANG.COM
Pascalianus Arki Banunaek, mahasiswa Unwira Kupang. 

Opini - Ketika Teknologi Menguasai Kosmos: Membaca Kritik Martin Heidegger

Oleh: Pascalianus Arki Banunaek 
Universitas Katolik Widya Mandira Kupang

POS-KUPANG.COM - Di era modern, manusia hidup dalam dunia yang bergerak semakin cepat. Teknologi berkembang tanpa henti dan menjangkau hampir seluruh dimensi kehidupan.

Dari telepon pintar hingga kecerdasan buatan, dari media sosial hingga industri digital, semuanya menawarkan kemudahan dan efisiensi.

Dunia seakan berada dalam genggaman manusia. Namun di balik kemajuan itu, muncul satu pertanyaan mendasar: apakah manusia masih memiliki relasi yang sehat dengan alam dan kosmos?

Alam semakin sering dipandang hanya sebagai objek produksi. Hutan ditebang demi industri, laut dieksploitasi demi keuntungan ekonomi, dan tanah kehilangan makna selain sebagai sumber daya. 

Teknologi modern perlahan membentuk cara pandang manusia terhadap dunia. Segala sesuatu dinilai berdasarkan manfaat, kecepatan, dan keuntungan.

Kosmos tidak lagi dipahami sebagai ruang kehidupan bersama, melainkan sekadar “bahan” yang dapat diatur dan dikendalikan. Kondisi ini pernah dikritik oleh filsuf Jerman, Martin Heidegger.

Dalam pemikirannya tentang teknologi, Heidegger menegaskan bahwa bahaya terbesar teknologi bukan terletak pada mesin itu sendiri, melainkan pada cara berpikir yang dibentuk olehnya. 

Teknologi modern membuat manusia melihat dunia secara instrumental: segala sesuatu hanya dianggap bernilai sejauh dapat digunakan. Alam kehilangan kesakralannya dan manusia perlahan terasing dari keberadaannya sendiri.

Menurut Heidegger, teknologi bukan sekadar alat. Teknologi adalah cara manusia memandang realitas. Ketika cara pandang teknologis mendominasi kehidupan, manusia cenderung lupa bahwa alam memiliki nilai yang melampaui fungsi ekonomis.

Sungai tidak lagi dilihat sebagai bagian dari kehidupan kosmis, tetapi sebagai sumber energi. Hutan tidak lagi dipahami sebagai ruang ekologis yang hidup, melainkan stok bahan baku industri. Bahkan manusia sendiri mulai dipandang seperti mesin produksi yang harus terus bekerja, cepat, efisien, dan produktif.

Kritik Heidegger terasa semakin relevan di tengah kehidupan modern hari ini. Media sosial, misalnya, sering kali membuat manusia sibuk mengejar citra dan validasi digital.

Teknologi yang seharusnya mendekatkan manusia justru sering melahirkan keterasingan. Orang semakin mudah terhubung secara virtual, tetapi semakin sulit hadir secara nyata. Kehidupan menjadi penuh kebisingan informasi, namun miskin refleksi dan kedalaman.

Di lain hal, eksploitasi alam atas nama pembangunan terus terjadi. Krisis ekologis, perubahan iklim, kerusakan hutan, hingga pencemaran lingkungan menunjukkan bahwa manusia modern sedang mengalami krisis relasi dengan kosmos. Alam dipaksa tunduk pada logika produksi dan konsumsi tanpa batas.

Dalam situasi seperti ini, kritik Heidegger menjadi semacam peringatan bahwa peradaban modern sedang bergerak menuju cara hidup yang kehilangan makna keberadaan.

Kosmologi pada akhirnya bukan sekadar pembicaraan tentang bintang, planet, atau asal-usul alam semesta. Kosmologi juga berbicara tentang bagaimana manusia menempatkan dirinya di tengah kosmos.

Apakah manusia hadir sebagai bagian dari alam, atau justru sebagai penguasa yang merasa berhak mengendalikan segalanya? Pertanyaan ini menjadi penting karena krisis modern sebenarnya bukan hanya krisis teknologi, melainkan krisis kesadaran manusia.

Manusia modern mungkin telah berhasil menaklukkan banyak hal melalui teknologi, tetapi pada saat yang sama ia terancam kehilangan kemampuan untuk “menghuni” dunia dengan bijaksana.

Kemajuan tidak selalu berarti kedewasaan. Ketika teknologi menguasai cara berpikir manusia, kosmos perlahan kehilangan maknanya sebagai rumah bersama.

Kritik Heidegger seharusnya tidak dipahami sebagai penolakan terhadap teknologi. Yang perlu dikritik adalah sikap manusia yang menjadikan teknologi sebagai pusat kehidupan dan ukuran utama kebenaran.

Teknologi memang penting, tetapi manusia tidak boleh kehilangan kesadaran kosmisnya. Alam bukan sekadar objek, melainkan bagian dari keberadaan yang memberi manusia ruang untuk hidup, bertumbuh, dan memahami dirinya sendiri.

Di tengah dunia yang semakin mekanis, manusia modern membutuhkan kembali kemampuan untuk memandang kosmos dengan rasa hormat dan keterbukaan.

Sebab ketika teknologi sepenuhnya menguasai cara manusia memandang dunia, yang hilang bukan hanya alam, tetapi juga kemanusiaan itu sendiri. (*)

Ikuti berita POS-KUPANG.COM lain di GOOGLE NEWS

Sumber: Pos Kupang
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved