Opini
Opini: Rasa Minder Terhadap Budaya Lain Dalam Negeri
Dengan dialog, setiap budaya dapat mengenali secara dekat setiap kekayaan budaya yang dilestarikan selama ini.
Dalam pada itu, Soekarno menolak segala bentuk pengadopsian kebudayaan asing yang melampaui batas.
Soekarno dalam bukunya Indonesia Menggugat (1930) menyatakan bahwa kita memang mengakui bahwa imperialisme menggiring kebudayaan barat yang lebih modern, tetapi kita tidak dapat begitu saja mengakui bahwa kebudayaan mereka yang mengantar kita pada ‘kematangan’.
Indonesia mendapatkan banyak input peradaban karena imperialisme, tetapi sebelum bangsa asing masuk pun masyarakat kita zaman itu sudah hidup dalam tradisi dan kebudayaan yang sarat nilai.
Soekarno telah melihat bahwa pelbagai kebudayaan di Indonesia semestinya dihormati. Itu adalah unsur pembentuk kesatuan identitas nasional kita. Dan nasionalisme harus dijaga dari Sabang sampai Merauke.
Rasa kebangsaan adalah sikap untuk menjalankan perjuangan melawan pengaruh budaya asing yang mendominasi kebudayaan kita.
Kita ingin menjadi satu bangsa yang sekalipun hidup bersaudara dengan bangsa-bangsa lain, tetapi kita juga memiliki kultur kepribadian setinggi-tingginya (Soekarno, 1965).
Lensa Modern
Bambang Sugiharto, seorang filsuf asal Indonesia dalam bukunya Kebudayaan dan Kondisi Post-Tradisi telah melihat gelagat fenomena kebudayaan di Indonesia.
Selain karena imperialisme dan kolonialisme yang dialami bangsa Indonesia puluhan tahun yang lalu, ia juga mencermati kebudayaan lokal saat ini jamak dipengaruhi oleh modernitas.
Modernitas seakan memaksa tradisi dan gaya hidup kebudayaan lokal untuk menemukan pemaknaan atau kerangka pemikiran yang baru (Sugiharto, 2019).
Hal tersebut mendesak masyarakat untuk memburu peradaban modern dan meninggalkan sistem tradisi kuno yang sudah mendarahdaging di wilayah kebudayaan itu.
Yang menjadi ketakutan sekarang adalah masyarakat Indonesia kehilangan
identitas nasional dan kebudayaannya sendiri serentak mengikuti sepenuhnya budaya barat yang lebih modern.
Hasrat untuk mengikuti tren budaya barat ini berpotensi membuat seseorang melihat kebudayaan lain yang sedikit kuno di dalam negerinya sebagai suatu penghambat kemajuan. Ini yang menjadi pemicu rasa minder itu.
Berhadapan dengan realitas ini, metode dialog sebagai perluasan diri untuk memperkuat identitas kebangsaan adalah alternatif yang tepat.
Dengan dialog, setiap budaya dapat mengenali secara dekat setiap kekayaan budaya yang dilestarikan selama ini.
Dialog adalah pejumpaan yang mampu menyingkapkan aspek-aspek yang tersembunyi dalam sistem nilai dan perilaku seseorang, yang barangkali selama ini tidak disadari oleh dirinya sendiri (Sugiharto, 2019).
| Opini: Kurban dan Pesan Kemanusiaan- Antara Ritus, Spiritual, dan Sosial |
|
|---|
| Opini: Mendidik Orang Muda di Jalan yang Patut atau Mendidik Mereka Menerima Kompensasi? |
|
|---|
| Opini: Perebutan Makna Kekuasaan dalam Dinamika Kelas Politik |
|
|---|
| Opini: Mengapa Serangan Jantung Sering Meningkat Setelah Idul Adha? |
|
|---|
| Opini: Refleksi Kritis atas Ekspresi Diri dalam Arus Media Sosial |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/kupang/foto/bank/originals/Antonius-Guntramus-Plewang1.jpg)