Kamis, 28 Mei 2026

Opini

Opini: Rasa Minder Terhadap Budaya Lain Dalam Negeri

Dengan dialog, setiap budaya dapat mengenali secara dekat setiap kekayaan budaya yang dilestarikan selama ini.

Tayang:
Editor: Dion DB Putra
DOKUMENTASI PRIBADI ANTONIUS G PLEWANG
Antonius Guntramus Plewang 

Begitupun sebaliknya, orang Jayapura secara etnis dan ras mungkin memandang dirinya lebih dekat dengan orang dengan Sumatera dan Kalimantan. 

Sebagai contoh, kita mungkin lebih tertarik untuk mempromosikan Pizza ketimbang Papeda, atau KFC ketimbang Gudeg. 

Ironinya, kita hidup dalam satu akar identitas kebangsaan yang sama, tetapi habitus dan budaya kita bertendensi mengambil buahnya dari pohon yang lain.

Carut Marut Identitas Bangsa

Problematika identitas nasional semacam ini diakibatkan oleh konsep mimikri yang tak terkontrol. 

Masyarakat secara membabi buta mengadopsi logika sosial dan kebudayaan bangsa asing serentak menirunya lalu mempromosikan ke dalam kebudayaan sendiri. 

Di sini bakal timbul sebuah paham tentang solidaritas yang paradoks (yang dekat terasa jauh, yang jauh terasa dekat). 

Ketika ada bencana yang menimpa Arab misalnya, masyarakat begitu peduli dengan orang di Arab tetapi lupa dengan masyarakat Indonesia di wilayah lain yang juga mengalami bencana yang lebih parah. 

Ini perkara kurangnya kedekatan terhadap budaya lain dalam bangsa sendiri. Mereka yang tinggal di wilayah yang lebih maju enggan untuk membantu orang-orang di wilayah lain padahal dalam negara yang sama.

Kebiasaan untuk mengagungkan kebudayaan dari bangsa lain karena dilihat lebih menarik dan sejalan peradabannya membuat budaya lain di Indonesia yang terbelakang kurang dianggap. 

Demi mendapatkan rekognisi budayanya dalam skala yang lebih luas, masyarakat menyimpan rasa minder akan segala kekurangan yang dialami bangsa sendiri secara khusus budaya-budaya yang tertinggal. 

Yang minder bukan lagi mereka yang dianggap kuno secara kebudayaan, tetapi mereka yang merasa diri sudah mengalami kemajuan lalu tidak mengakui budaya lain yang tertinggal itu sebagai bagian dari Indonesia. 

Muncul julukan anak tiri dan melihat Indonesia itu hanya sebatas pada wilayah dengan kebudayaan yang lebih maju saja.

Gugatan Soekarno

Sedari awal presiden pertama kita Ir. Soekarno telah mengantisipasi adanya ancaman dari pengaruh kebudayaan asing buntut maraknya imperialisme dan kolonialisme.

Oleh sebab itu, dalam proses permumusan Pancasila, Soekarno menempatkan gagasan Nasionalisme sebagai prinsip pertama (Burlian, 2020). 

Selain itu, prinsip ini juga lahir karena Soekarno melihat bangsa Indonesia adalah negara kepulauan yang menyimpan begitu banyak kebudayaan. .

Sumber: Pos Kupang
Halaman 2/4
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved